Krisis Penurunan Persediaan Rudal Pertahanan Udara AS Setelah Serangan Rudal Iran

Krisis

Washington, Purna Warta – Laporan sejumlah media mengungkapkan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menerapkan kebijakan “intersepsi selektif” (selective interception) terhadap rudal dan drone Iran akibat krisis kekurangan rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan Russia Today Arabic (RT Arabic), jaringan televisi NBC News, mengutip sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa militer AS terpaksa mengubah strategi pertahanan udaranya karena persediaan rudal pencegat terus berkurang dengan cepat.

Berdasarkan pedoman baru yang dikeluarkan oleh para komandan militer AS, sistem pertahanan udara hanya diperbolehkan mencegat rudal atau drone apabila ancaman tersebut secara langsung mengarah kepada personel militer Amerika Serikat atau fasilitas yang dinilai sangat vital.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa apabila serangan tidak mengancam lokasi yang terdapat personel militer AS, sistem pertahanan udara Amerika dalam beberapa kasus memilih untuk tidak melakukan intersepsi sebagai langkah penghematan penggunaan rudal Patriot yang bernilai tinggi.

Pada saat yang sama, The New York Times melaporkan bahwa Presiden Donald Trump memutuskan menunda sejumlah operasi militer ofensif berskala besar karena kekhawatiran terhadap semakin menipisnya persediaan rudal Patriot di kawasan. Keputusan itu disebut diambil setelah adanya peringatan dari Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, yang menyampaikan bahwa cadangan persenjataan pertahanan udara telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Meskipun Trump dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal membantah adanya krisis tersebut, laporan yang dikutip dari sumber-sumber di Pentagon menyebutkan bahwa operasi militer yang berkepanjangan di Timur Tengah serta pengiriman bantuan persenjataan dalam jumlah besar ke Ukraina telah mengurangi secara signifikan persediaan rudal pertahanan udara Amerika Serikat. Laporan itu juga menyatakan bahwa pemulihan kapasitas persenjataan tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *