Pertaruhan Militer Trump terhadap Iran Berbalik Arah Secara Dramatis Tanpa Strategi Keluar

Gambler

Tehran, Purna Warta – Perang agresi yang tidak diprovokasi dan ilegal oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran, yang kini memasuki hari ke-16, merupakan sebuah pertaruhan militer yang ceroboh dan kini berbalik arah secara dramatis.

Koalisi yang dibangun di atas kebohongan dan kesombongan luar biasa kini sedang mempelajari pelajaran penting dengan cara yang pahit: Iran tidak akan runtuh, tetapi akan melawan dan memaksakan biaya besar kepada para agresor.

Pada Jumat lalu, Menteri Perang AS Pete Hegseth dengan nada merendahkan mengklaim bahwa para pemimpin Iran bersembunyi di bawah tanah “seperti tikus.” Ia berusaha menggambarkan mereka sebagai pemimpin yang tidak berada di tengah rakyatnya.

Namun hanya beberapa jam kemudian, dunia menyaksikan dengan takjub ketika para pejabat tinggi Iran, termasuk presiden, kepala keamanan, ketua lembaga peradilan, dan menteri luar negeri, berjalan terbuka di jalan-jalan Teheran, bergabung dengan ratusan ribu orang dalam aksi tahunan Hari Internasional Quds.

Jet tempur terdengar menggelegar di atas dan melancarkan beberapa serangan, yang secara tragis menewaskan seorang ibu muda. Meski demikian, para pemimpin Iran tetap terlihat di hadapan publik dengan sikap menantang. Kepala lembaga peradilan Mohseni Ejei bahkan sedang berbicara dengan reporter televisi saat bom meledak. Ia tetap berdiri teguh, tidak terguncang dan tidak gentar, melanjutkan percakapan dengan ketenangan dan keberanian yang mencolok.

Pejabat keamanan senior Ali Larijani, yang kini memiliki hadiah penangkapan sebesar 10 juta dolar di kepalanya, juga berjalan kaki sejauh beberapa kilometer dan memberikan wawancara kepada media. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pun tampak tersenyum di hadapan kamera dan berbicara dengan sejumlah wartawan. Adegan-adegan ini memperkuat citra bangsa Iran sebagai bangsa yang dalam sejarahnya tidak pernah menyerah kepada kekuatan mana pun.

Berbeda dengan pejabat dan komandan militer rezim Israel yang mengarahkan perang dari bunker bawah tanah, para pemimpin Iran tidak pernah bersembunyi di bawah tanah. Bunker semacam itu bahkan tidak ada di Iran. Pemimpin Revolusi Islam yang gugur pun menolak untuk bersembunyi di bawah tanah.

Narasi Amerika Serikat dan Israel yang menggambarkan kepemimpinan Iran sebagai pengecut kini runtuh. Sikap menantang ini bukan sekadar simbolis. Di medan perang, Iran menerjemahkan tekadnya menjadi aksi militer yang menghancurkan.

Tiga belas hari setelah perang agresi yang tidak diprovokasi ini—yang bahkan dimulai di tengah perundingan nuklir di Jenewa—Iran telah melancarkan 52 gelombang Operasi True Promise 4. Gelombang terbaru menargetkan lebih dari sepuluh lokasi persembunyian para pemimpin tentara Zionis di Haifa, Caesarea, serta kompleks industri militer di Holon.

Komandan kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Majid Mousavi, pada Jumat mengungkapkan bahwa 30 rudal balistik superberat menghantam wilayah pendudukan dalam semalam ketika para mukmin sedang larut dalam doa Shab-e Qadr (Malam Takdir). Serangan itu menghancurkan sistem pengawasan utama rezim tersebut dan membuatnya semakin terbuka serta rentan.

Setelah menggunakan stok rudal lama pada hari-hari awal perang, Iran kini mulai mengerahkan persenjataan yang lebih maju, termasuk rudal Khorramshahr, Khaibar Shekan, Emad, dan Qadr. Seperti yang disiratkan Ketua Parlemen sekaligus veteran komandan IRGC Mohammad Baqer Qalibaf dalam unggahan media sosial pada Jumat, mimpi buruk terburuk bagi para pemukim Israel masih belum datang.

Medan pertempuran kini meluas jauh melampaui Palestina yang diduduki. Sejak hari pertama, rudal Iran telah menghantam pangkalan pendudukan Amerika Serikat di berbagai wilayah—di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Yordania, Irak, dan Kuwait. Pada gelombang ke-36, IRGC menghancurkan infrastruktur operasional militer AS dengan menargetkan Armada Kelima, Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, serta pangkalan Harir di Kurdistan Irak.

Kerusakan besar pada infrastruktur dan personel dilaporkan terjadi meskipun terdapat sensor ketat dari media Barat. Di pangkalan Al-Udeid, Iran berhasil menghancurkan sistem radar canggih FP-132 yang mampu melacak rudal balistik pada jarak lebih dari 5.000 kilometer.

Perkiraan independen menyebutkan korban tewas di pihak Amerika Serikat mencapai ratusan, bahkan mungkin ribuan, sementara korban di pihak Israel mencapai ribuan. Direktif Hannibal yang terkenal telah diketahui luas—rezim tersebut memperlakukan nyawa manusia sebagai kerugian tambahan yang dapat dikorbankan, termasuk nyawa para pemukimnya sendiri.

Pada Kamis, pertahanan udara Iran menembak jatuh pesawat pengisian bahan bakar Amerika di Irak barat, menewaskan enam awak di dalamnya. Uni Emirat Arab menjadi wilayah yang paling terdampak karena menjadi landasan peluncuran berbagai tindakan agresi terhadap Iran serta menjadi lokasi kehadiran militer Amerika dan Israel yang besar. “Impian Dubai” disebut telah berakhir; liburan dan bulan madu warga Barat di negara itu pun dianggap tidak lagi aman.

Dampak ekonomi perang ini semakin menjadi beban politik. Pemerintahan Trump memperkirakan biaya enam hari pertama mencapai 11 miliar dolar—angka yang kemungkinan telah berlipat ganda setelah sistem radar canggih dilumpuhkan oleh serangan Iran. Para analis memperingatkan bahwa jika perang berlanjut, biaya tersebut dapat mendekati 100 miliar dolar dalam beberapa minggu mendatang karena Iran sepenuhnya siap menghadapi segala kemungkinan.

Para pembayar pajak Amerika dan basis politik MAGA—yang sudah tertekan oleh melonjaknya harga minyak akibat penutupan sebagian Selat Hormuz—diperkirakan tidak akan mudah memaafkan hal ini. Rumah tangga kelas menengah di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia juga mulai merasakan dampaknya.

Secara strategis, Washington juga berisiko kehilangan sekutunya karena menyeret mereka ke dalam perang yang bahkan tidak disetujui oleh Kongres AS. Laporan menunjukkan bahwa sekutu-sekutu AS di Teluk Persia semakin frustrasi dengan Trump karena menyeret mereka ke konflik ini.

Setelah kehilangan sebagian sekutu Eropa akibat perang Ukraina, presiden AS kini juga mengasingkan mitra-mitra di kawasan Teluk Persia melalui petualangan militer yang dianggap ceroboh dan didasarkan pada klaim yang diperdebatkan.

Apa sebenarnya alasan perang ini? Klaim lama yang telah dibantah—bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Laporan intelijen AS sendiri berulang kali menyatakan sebaliknya.

Pemimpin Iran yang gugur sebelumnya bahkan pernah mengeluarkan fatwa yang melarang senjata nuklir, dan para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa negara tersebut tidak memerlukan senjata semacam itu.

Kini, Republik Islam Iran memiliki pemimpin baru. Pesan publik pertama Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei pada Kamis disebut membawa bobot historis. Pesannya menegaskan bahwa gagasan “perubahan rezim” yang dibayangkan Trump tidak akan pernah terwujud.

Ia berjanji membalas darah para martir, termasuk 165 anak sekolah yang tewas dalam pembantaian di Minab, serta menyatakan bahwa kajian telah dilakukan mengenai kemungkinan membuka front baru yang dapat membuat musuh berada pada posisi sangat rentan jika perang berlarut-larut.

Untuk saat ini, Iran menolak gencatan senjata. Retorika perang yang terus berlanjut dari Trump serta serangan terhadap infrastruktur sipil—sekolah, rumah sakit, situs warisan budaya, jaringan listrik, dan depot minyak—disebut membuat de-eskalasi menjadi tidak mungkin.

Operasi balasan Iran akan terus berlanjut sampai para agresor menerima hukuman sepenuhnya.

Hezbollah juga disebut telah bergabung di front pertempuran, bersama kelompok perlawanan Irak. IRGC bahkan menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Amerika:
“Pencapaian tujuh puluh tahun pemerintahan Amerika di kawasan ini telah menguap dalam waktu kurang dari sebelas hari.”

Menurut penulis, konflik ini bukan hanya perang Iran semata, melainkan perjuangan bagi berbagai bangsa yang menentang neo-kolonialisme Amerika.

Para agresor menginginkan kemenangan cepat dan menentukan. Namun yang terjadi justru kebalikannya: konflik regional yang meluas, sekutu yang menjauh, biaya ekonomi yang membengkak, serta munculnya perlawanan yang tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan.

Dengan demikian, “tikus” yang disebut Hegseth, menurut penulis, bukan berada di Teheran, melainkan di Washington dan Tel Aviv—yang kini berusaha keluar dari krisis yang mereka ciptakan sendiri.

Oleh Abbas Ali Abedi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *