Purna Warta – Seorang pakar masalah Suriah menilai bahwa Amerika Serikat berupaya menyeret Suriah ke dalam krisis Lebanon tanpa harus terlibat langsung dalam konfrontasi dengan Hizbullah. Dengan cara ini, Washington dapat mempertahankan perannya sebagai mediator antara Lebanon dan Israel, sekaligus membebankan biaya keamanan dari konflik tersebut kepada pemerintahan baru di Damaskus. Menurutnya, Ahmad al-Sharaa memahami dengan baik besarnya risiko dari skenario tersebut.
Di tengah meningkatnya spekulasi dalam beberapa pekan terakhir mengenai kemungkinan keterlibatan pemerintahan baru Suriah dalam perkembangan situasi di Lebanon, Sayyid Yaser Qazvini Haeri, dosen Universitas Teheran, menyatakan bahwa Washington tengah merancang skenario agar Damaskus menggantikan Amerika Serikat dalam menghadapi konflik yang mahal dan berisiko di Lebanon.
Menurut pakar tersebut, pemerintah baru Suriah berusaha menonjolkan perannya dalam memerangi ISIS agar tuntutan-tuntutan lain dari Barat—seperti normalisasi hubungan dengan Israel atau keterlibatan dalam pelucutan senjata Hizbullah—tidak menjadi fokus utama.
Namun demikian, sikap para pejabat Amerika Serikat mengenai batasan tuntutan mereka terhadap Damaskus masih belum jelas. Belum diketahui apakah Washington hanya menginginkan Suriah memutus jalur logistik Hizbullah di wilayahnya sendiri atau juga menghendaki keterlibatan langsung pasukan Suriah di Lebanon.
Qazvini Haeri berpendapat bahwa Amerika Serikat, khususnya untuk mempertahankan perannya sebagai mediator dalam isu Lebanon-Israel, lebih memilih menyeret Suriah ke dalam “rawa konflik Lebanon” daripada ikut terlibat secara langsung. Dengan demikian, pemerintahan baru Suriah akan menanggung biaya politik dan keamanan konflik tersebut, sementara Washington tetap dapat menjalankan peran diplomatiknya dengan risiko yang lebih kecil.
Ia menambahkan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Israel mungkin menginginkan bentrokan langsung antara pasukan Ahmad al-Sharaa dan Hizbullah, Al-Sharaa sendiri memahami bahwa intervensi semacam itu justru akan lebih merugikan pemerintahan Suriah yang masih baru.
Apakah Damaskus Akan Tunduk pada Tekanan Amerika?
Qazvini Haeri menilai bahwa pertanyaan utama adalah apakah Amerika Serikat mampu menekan Suriah agar ikut masuk ke dalam konflik militer di Lebanon.
Menurutnya, kekhawatiran terbesar adalah jika terjadi ledakan atau insiden keamanan di Damaskus atau wilayah lain yang kemudian dijadikan alasan untuk menyeret pasukan Suriah secara langsung ke Lebanon.
Meskipun demikian, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa pemerintah baru Suriah berusaha membatasi aktivitasnya hanya pada penanganan jalur logistik di dalam wilayah Suriah dan menghindari masuk ke wilayah Lebanon.
Ia juga mengutip sejumlah laporan yang belum terkonfirmasi bahwa sekalipun Ahmad al-Sharaa akhirnya melakukan intervensi terbatas di Lebanon, tindakan tersebut kemungkinan hanya bersifat simbolis untuk memuaskan Amerika Serikat, karena secara kalkulasi politik Damaskus tidak memperoleh keuntungan dari keterlibatan dalam konflik tersebut.
Bagaimana Media Menggambarkan Peran Ahmad al-Sharaa?
Analis tersebut menilai bahwa sejumlah media, khususnya media Israel dan sebagian media domestik, cenderung membesar-besarkan kemungkinan keterlibatan militer Suriah di Lebanon.
Menurutnya, sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, orientasi utama pemerintahan baru Suriah adalah menghindari perang baru, memusatkan perhatian pada rekonstruksi negara, pembangunan ekonomi, dan penyelesaian persoalan dalam negeri.
Ia mengingatkan bahwa bahkan sejumlah pakar yang dekat dengan pemerintahan baru Suriah menganggap intervensi militer ke Lebanon, ketika Suriah sendiri masih menghadapi berbagai persoalan internal dan proses reorganisasi angkatan bersenjata, sebagai bentuk “bunuh diri politik dan keamanan.”
Masuk ke Lebanon Tanpa Legitimasi Domestik maupun Regional
Qazvini Haeri berpendapat bahwa Suriah pasca-kejatuhan Assad masih menghadapi begitu banyak persoalan domestik sehingga tidak memiliki kapasitas untuk membuka front krisis baru.
Selain itu, menurutnya, langkah tersebut juga tidak memiliki legitimasi di mata masyarakat.
Ia menilai Ahmad al-Sharaa menghadapi pertanyaan mendasar: atas dasar politik dan hukum apa ia dapat mengirim pasukan ke Lebanon?
Menurutnya, di mata opini publik Suriah, termasuk sebagian pendukung pemerintah baru, tindakan seperti itu dapat membuat Ahmad al-Sharaa dipersepsikan sebagai:
“Infanteri Trump untuk membela Israel.”
Citra tersebut dinilai akan membawa konsekuensi politik yang sangat berat bagi pemerintahan baru Damaskus.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan tahun 1976. Pada masa itu, perang saudara Lebanon dan kehadiran besar pasukan Palestina menjadi alasan bagi Hafez al-Assad mengirim tentara Suriah ke Lebanon.
Namun, menurutnya, kondisi sekarang berbeda. Setiap kehadiran militer Suriah di Lebanon justru berpotensi membangkitkan kembali kenangan pahit masyarakat Lebanon terhadap puluhan tahun keberadaan pasukan Suriah di negara tersebut.
Qazvini Haeri juga menilai bahwa langkah semacam itu dapat memicu kembali konflik internal Lebanon atau memperdalam ketegangan sektarian antara komunitas Syiah dan Sunni, sebuah skenario yang menurutnya akan lebih menguntungkan Israel. Ia menambahkan bahwa pemerintah Suriah menyadari risiko tersebut.
Mengapa Israel Dianggap Diuntungkan oleh Skenario Ini?
Qazvini Haeri menjelaskan bahwa sebagian kalangan di Israel menyebut Ahmad al-Sharaa sebagai “teroris berdasi”, namun menurutnya hal itu tidak berarti Tel Aviv menolak kemungkinan keterlibatannya di Lebanon.
Sebaliknya, menurut sebagian analis Suriah, Israel justru diuntungkan apabila para aktor regional saling berkonflik, karena perang antar-kekuatan di kawasan akan mengalihkan perhatian dari konfrontasi dengan Israel sekaligus menguras kemampuan para pihak yang bertikai.
Ia mengingatkan bahwa sebelumnya sejumlah sumber Israel juga pernah memperkirakan bahwa konflik-konflik di kawasan pada akhirnya dapat berkembang menjadi konfrontasi antara Iran dan negara-negara kawasan.
Kesimpulan
Pada bagian akhir wawancaranya, Qazvini Haeri menegaskan bahwa apabila pasukan Ahmad al-Sharaa benar-benar memasuki Lebanon, langkah tersebut pada dasarnya tidak akan menjadi ancaman langsung bagi Israel, kecuali dalam skenario yang menurutnya sangat kecil kemungkinannya, yaitu apabila pasukan Suriah dan Hizbullah membentuk aliansi militer untuk menghadapi Israel.
Selain kemungkinan yang dinilai sangat kecil tersebut, ia berpendapat bahwa Suriah justru akan terperangkap dalam krisis yang sulit untuk diakhiri apabila memutuskan terlibat secara militer di Lebanon.


