Teheran, Purna Warta – Presiden Masoud Pezeshkian menekankan komitmen Iran untuk menyelesaikan masalah terkait program nuklir melalui diplomasi dan interaksi, dengan mengatakan bahwa Teheran selalu mengupayakan perdamaian dan stabilitas sembari mengutuk tindakan agresi rezim Zionis.
Baca juga: IRGC: Perlawanan Akan Memberikan Respons Keras kepada Zionis atas Serangan di Yaman
Presiden Iran menyampaikan komentar tersebut dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) ke-25 di Tianjin, Tiongkok, pada hari Senin.
Pezeshkian menyampaikan apresiasinya atas sikap Sekjen PBB terkait kejahatan yang dilakukan rezim Zionis terhadap warga Palestina di Gaza dan serangan baru-baru ini terhadap Iran, dan menyebut pernyataannya konstruktif dan perlu.
Ia juga mendesak PBB untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam mengutuk kejahatan rezim Zionis terhadap Palestina dan negara-negara lain di kawasan tersebut. Pezeshkian menekankan bahwa organisasi internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, diharapkan untuk mengambil langkah-langkah yang lebih praktis dan tegas dalam menanggapi provokasi dan tindakan destabilisasi rezim Israel di seluruh kawasan.
Presiden mencatat bahwa Iran menjadi sasaran serangan agresif oleh rezim Zionis bahkan ketika terlibat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat..
Baca juga: Iran Menghormati Warisan Persatuan Imam Musa al-Sadr
Ia menyatakan bahwa Iran telah lama menjadi korban utama terorisme, dengan banyak pejabat senior dan tokoh terkemuka gugur dalam serangan teroris. “Saat ini, rezim Zionis membunuh siapa pun yang dipilihnya, di mana pun di kawasan ini, dengan dalih membela diri,” ujarnya, menyoroti ancaman yang terus-menerus ditimbulkan oleh rezim tersebut.
Pezeshkian juga mengkritik Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan direktur jenderalnya, dengan mencatat bahwa Iran telah menjadi sasaran inspeksi paling ekstensif dan ketat di seluruh dunia.
Namun, IAEA menolak untuk mengutuk serangan Israel terhadap fasilitas nuklir damai Iran, yang beroperasi sepenuhnya di bawah pengawasan IAEA, ujar Pezeshkian, seraya menyebut kelambanan tersebut sebagai pelanggaran norma dan kerangka kerja internasional serta menekankan bahwa badan tersebut terus menghindari pertanggungjawaban atas serangan-serangan ini.
Mengacu pada undang-undang yang disahkan parlemen Iran untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA sebagai tanggapan atas tindakan badan tersebut yang tidak dapat dipercaya, Pezeshkian mengklarifikasi bahwa Dewan Keamanan Nasional Tertinggi telah ditugaskan untuk menentukan ruang lingkup dan cara keterlibatan Iran di masa mendatang dengan organisasi tersebut.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memastikan kerja sama yang konstruktif dan efektif sekaligus menegaskan kembali komitmen Iran untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, Guterres menyatakan keyakinan pribadinya bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir dan bahwa program nuklirnya bersifat damai. “Saya yakin bahwa niat Iran bukanlah untuk memproduksi senjata nuklir, dan program nuklir damainya adalah hak yang sah yang sepenuhnya saya akui,” ujarnya.
Guterres juga menyatakan kekhawatirannya atas kemungkinan pengaktifan apa yang disebut mekanisme snapback di bawah JCPOA, dengan mengatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan pejabat Eropa dan mendesak mereka untuk bekerja sama dengan Iran untuk mengatasi masalah tersebut.


