Baghdad, Purna Warta – Perlawanan Islam Irak mengumumkan telah menetapkan hadiah uang bagi siapa pun yang membunuh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca juga: Pengadilan Istanbul Turki Mengeluarkan Perintah Penangkapan Internasional terhadap Netanyahu
Perlawanan Islam Irak dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa pihaknya menawarkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS kepada siapa saja yang berhasil membunuh Donald Trump, yang dalam pernyataan tersebut disebut sebagai “presiden teroris Amerika Serikat”.
Kelompok tersebut juga menegaskan bahwa dana hadiah senilai 10 juta dolar AS itu dikumpulkan melalui sumbangan dari para pendukung perlawanan.
Perlawanan Islam Irak mengklaim telah menetapkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pengumuman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi kelompok itu. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut juga menyebut bahwa dana hadiah berasal dari sumbangan para pendukungnya.
Perlawanan Islam Irak merupakan koalisi beberapa kelompok bersenjata yang beroperasi di Irak dan dikenal memiliki kedekatan dengan Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini beberapa kali mengaku bertanggung jawab atas serangan menggunakan roket, drone, dan rudal terhadap pangkalan militer Amerika Serikat serta target yang dikaitkan dengan Israel di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat menetapkan sejumlah faksi yang tergabung dalam koalisi tersebut sebagai organisasi teroris, sementara kelompok-kelompok itu menyatakan aksi mereka merupakan bagian dari perlawanan terhadap kehadiran militer AS dan dukungan Washington kepada Israel.
Baca juga: New York Times: Iran Menghancurkan Warisan Carter, Kini Giliran Trump
Hubungan antara Amerika Serikat dan kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak terus memburuk sejak serangan drone AS pada Januari 2020 yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani, dan Wakil Ketua Popular Mobilization Forces (PMF) Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, di dekat Bandara Internasional Baghdad. Sejak saat itu, berbagai serangan balasan dan aksi militer saling terjadi, sehingga meningkatkan ketegangan keamanan di Irak dan kawasan.


