Baghdad, Purna Warta – Juru bicara kelompok perlawanan Irak, Saraya Awliya al-Dam, menyatakan kesiapan penuh untuk melanjutkan operasi militer terhadap target-target Amerika Serikat, dengan intensitas dan skala yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Menurut laporan, Abu Mahdi al-Jaafari, juru bicara kelompok tersebut, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, pasukan mereka berada dalam tingkat kesiapan tertinggi.
Ia menyebut bahwa kelompoknya sebelumnya telah melaksanakan lebih dari 200 operasi terhadap target Amerika di Irak dan kawasan sekitarnya, dan pada tahap berikutnya operasi tersebut akan dilanjutkan dengan dampak yang lebih besar.
Al-Jaafari juga menegaskan bahwa kelompoknya tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang jangka panjang. Dalam konteks ini, ia menyatakan bahwa mereka akan melancarkan operasi “khusus” dengan menggunakan persenjataan yang lebih canggih, yang menurutnya akan digunakan untuk pertama kalinya dalam operasi militer mereka.
Dalam pernyataan tersebut, para pendukung “poros perlawanan” juga diminta untuk terus memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok bersenjata di kawasan serta membantu Iran dan Lebanon. Ia menilai dukungan ini sebagai bagian dari solidaritas antar kelompok perlawanan di kawasan.
Al-Jaafari menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melanjutkan jalannya, dengan tujuan memberikan pukulan lebih besar kepada musuh serta membalas korban yang jatuh dalam konflik terbaru.
Eskalasi Ancaman Perang Regional
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, terutama menjelang berakhirnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Sejumlah analis menilai bahwa kemungkinan eskalasi konflik tetap tinggi, terutama jika jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.
Sebelumnya, analis politik Abdel Bari Atwan menyatakan bahwa kawasan Timur Tengah berada pada fase penentu antara perang dan perdamaian, serta memperingatkan risiko konflik berkepanjangan yang dapat melibatkan berbagai pihak di kawasan.
Di sisi lain, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menggabungkan tekanan militer dan ancaman dengan upaya diplomasi dinilai oleh sejumlah pihak justru meningkatkan ketidakpastian dan risiko konfrontasi lebih luas.
Selain itu, ketegangan juga meningkat di beberapa front lain seperti Lebanon, di mana Israel mengancam akan meningkatkan operasi militernya terhadap Hizbullah, serta di kawasan Teluk yang berkaitan dengan keamanan jalur energi global seperti Selat Hormuz.
Secara keseluruhan, pernyataan kelompok poros perlawanan Irak ini mencerminkan meningkatnya kesiapan aktor-aktor non-negara untuk terlibat dalam konflik jangka panjang. Hal ini menambah kompleksitas situasi keamanan di Timur Tengah, di mana potensi eskalasi tidak hanya melibatkan negara, tetapi juga jaringan kelompok bersenjata lintas kawasan.


