Media Israel: Mempercayai Trump Sangatlah Mahal

Trump 4

Al-Quds, Purna Warta – Situs berita Israel The Times of Israel dalam sebuah tulisan analisis mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena terlalu percaya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Media tersebut menilai pernyataan terbaru Trump mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran merupakan “tikaman ketiga” terhadap Israel dalam kurun satu tahun terakhir.

Baca juga: Bagaimana Mossad Diduga Menyesatkan Trump dan Netanyahu untuk Memulai Perang dengan Iran?

Dalam laporannya, media tersebut menyebutkan bahwa dinamika hubungan terbaru antara Washington dan Tel Aviv menunjukkan adanya celah yang semakin dalam serta pola yang dinilai mengkhawatirkan bagi para pejabat Israel.

Selama setahun terakhir, Netanyahu dan kabinetnya berulang kali menekankan strategi yang dikenal dengan slogan “Trust the plan” (percayalah pada rencana) dan menganggap Trump sebagai sekutu yang teguh dalam menghadapi ancaman regional. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut justru membawa biaya politik dan keamanan yang besar bagi Israel.

Perubahan Sikap Mendadak

Menurut analisis tersebut, untuk ketiga kalinya dalam satu tahun terakhir, Trump melakukan perubahan kebijakan secara tiba-tiba tepat pada saat Israel sedang bersiap melakukan langkah militer yang dianggap menentukan.

Alih-alih melanjutkan pendekatan konfrontatif, Trump disebut beralih ke jalur diplomasi dan negosiasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh Israel. Langkah ini dinilai membuat Israel berada dalam posisi yang lebih rentan.

Slogan “Trust the plan” yang sebelumnya menjadi sumber keyakinan di kalangan politik Israel kini disebut berubah menjadi simbol kekecewaan dan rasa terkejut di kalangan pejabat serta analis keamanan.

Banyak pihak di Israel sebelumnya meyakini bahwa Trump, berbeda dengan para pendahulunya di Gedung Putih, tidak akan terjebak dalam taktik penundaan diplomasi oleh Iran. Namun pengumuman mengenai negosiasi yang disebut “konstruktif” dengan Teheran untuk menyelesaikan permusuhan secara menyeluruh serta keputusan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran memicu kekhawatiran di kalangan analis militer Israel.

Kekhawatiran Israel terhadap Kesepakatan dengan Iran

Trump juga disebut mengklaim bahwa dengan tersingkirnya sejumlah pemimpin tertentu, perubahan rezim secara de facto telah terjadi. Pernyataan tersebut dinilai membuka jalan bagi kemungkinan keluarnya Amerika Serikat dari konflik secara cepat.

Menurut analisis tersebut, langkah seperti itu berisiko meninggalkan Israel sendirian menghadapi ancaman nuklir dan rudal dari Iran.

Media tersebut menilai pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa Trump bersedia menerima kesepakatan politik demi mengurangi tekanan domestik dan biaya politik perang, bahkan jika kesepakatan tersebut tidak sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan strategis Israel.

Contoh Kebijakan yang Dinilai Merugikan Israel

Sebagai contoh, laporan tersebut menyoroti kesepakatan mengejutkan antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi movement di Yemen pada bulan Mei. Kesepakatan itu disebut hanya menjamin keamanan kapal-kapal Amerika, sementara Israel tetap menghadapi serangan rudal dari kelompok tersebut.

Selain itu, pada akhir konflik bulan Juni, Trump dilaporkan secara langsung menegur Netanyahu dan memerintahkan Angkatan Udara Israel untuk menghentikan operasi dan kembali dari misi yang sedang berlangsung guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Pola tersebut menunjukkan bahwa bagi Trump, menghentikan konflik secepat mungkin menjadi prioritas utama, bahkan jika hal itu berarti tujuan strategis Israel tidak tercapai.

Ketidakpastian Strategis bagi Israel

Saat ini Israel disebut menghadapi situasi ketidakpastian strategis. Netanyahu, yang sebelumnya memuji keberanian dan kebijaksanaan Trump, kini harus menghadapi kemungkinan bahwa sekutu utamanya justru dapat menghalangi operasi militer Israel, termasuk potensi operasi darat di Lebanon terhadap kelompok Hezbollah.

Baca juga: Mantan Pejabat AS: Pasukan Kami di Pulau Khark Akan Menjadi Sandera Berharga bagi Iran

Tekanan dari sekutu regional Amerika Serikat untuk mencegah invasi ke Lebanon, serta kecenderungan Trump untuk menghindari konflik berkepanjangan, dinilai telah menempatkan Israel dalam posisi strategis yang sulit.

Kehilangan Independensi Operasional

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa biaya terbesar dari kepercayaan Israel terhadap Trump adalah berkurangnya independensi operasional negara tersebut.

Dengan menerima strategi Washington, Israel pada praktiknya telah menyerahkan kendali strategis di medan konflik kepada Amerika Serikat, bahkan jika keputusan tersebut berpotensi membiarkan ancaman eksistensial terhadap Israel tetap bertahan.

Pada akhirnya, laporan tersebut menilai bahwa aliansi dengan Trump merupakan “pedang bermata dua” yang kini justru mengarah pada kepentingan vital Israel sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *