Komandan IRGC: Darah Warga Iran yang Gugur dalam Serangan AS terhadap Pesta Pernikahan Tidak Akan Pernah “Sia-Sia”

serangan

Tehran, Purna Warta – Komandan Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa darah mereka yang tewas dalam serangan AS terhadap sebuah pesta pernikahan di Kouhestak, Provinsi Hormozgan, “tidak akan pernah sia-sia” dan pada akhirnya “akan menimpa mereka yang memerintahkan dan melaksanakan kejahatan keji ini.”

Dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada keluarga para korban pada Kamis, Vahidi menyampaikan belasungkawa atas serangan terhadap sebuah pesta pernikahan di wilayah Kouhestak yang tertinggal secara ekonomi. Ia menegaskan bahwa IRGC dan angkatan bersenjata Iran lainnya akan terus menjaga keamanan dan stabilitas negara.

“Korps Garda Revolusi Islam dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang perkasa telah berdiri menjaga kesucian darah orang-orang tercinta ini dan para syuhada, kekuatan nasional Iran lainnya, dalam perang kedua dan ketiga yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Zionis, khususnya dalam Pertempuran Hormuz,” kata Vahidi.

Militer AS membom pesta pernikahan di Kouhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, sekitar pukul 20.00 pada Selasa. Serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 68 lainnya, termasuk seorang anak berusia empat tahun di antara mereka yang tewas.

Jenderal Vahidi mengatakan angkatan bersenjata Iran akan terus melindungi keamanan dan ketenteraman rakyat Iran serta negara “dengan kekuatan dan tekad yang sebesar-besarnya.”

Vahidi mengatakan serangan tersebut sekali lagi memperlihatkan “wajah jahat dan setan” Amerika Serikat. Ia mengecam Washington karena melakukan tindakan teroris dan tidak manusiawi yang bertujuan merampas kebahagiaan rakyat Iran serta menebarkan ketakutan di kalangan warga sipil yang tidak bersalah.

“Kejahatan mengerikan ini, yang dilakukan di tempat aman di tanah air tercinta kita dan di tengah perempuan, laki-laki, serta anak-anak yang tidak bersalah yang menghadiri perayaan pernikahan, menunjukkan betapa dalamnya permusuhan dan kebencian yang telah berlangsung lama dari para musuh Revolusi Islam dan pemerintahan Islam,” ujarnya.

Vahidi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban, rakyat Iran, dan kepemimpinan Iran, seraya menggambarkan insiden tersebut sebagai “kehilangan yang menyayat hati dan tragis.”

“Tidak diragukan lagi, darah suci para syuhada yang tertindas ini, yang dalam keadaan sangat tidak bersalah dan menjadi korban telah dibunuh oleh para penjahat dalam sejarah dan para pelaku kejahatan di zaman kita, tidak akan pernah sia-sia dan pasti akan menimpa mereka yang melakukan serta memerintahkan kejahatan mengerikan ini,” katanya.

Sementara itu, Kantor Perlindungan Kepentingan Iran di Kairo menggambarkan insiden tersebut sebagai “kejahatan perang” dan pelanggaran nyata terhadap hukum serta konvensi internasional.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis, kantor tersebut mengatakan, “Kejahatan mengerikan yang dilakukan oleh rezim AS dengan membom sebuah bangunan tempat tinggal di wilayah Kouhestak, Sirik, sekali lagi memperlihatkan kepada dunia wajah sebenarnya yang brutal dari rezim agresor ini.”

Kantor tersebut menambahkan bahwa lebih dari 70 perempuan, laki-laki, dan anak-anak tewas atau terluka dalam serangan tersebut.

Kantor Iran itu menyebut insiden tersebut sebagai “contoh nyata kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum dan konvensi internasional,” termasuk Pasal 3 Bersama dari keempat Konvensi Jenewa, Protokol Tambahan I mengenai perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata, serta ketentuan Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional.

“Menargetkan secara sengaja sebuah pesta pernikahan warga sipil bukan hanya merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional, tetapi juga menunjukkan keruntuhan moral dan kemanusiaan secara total dari para penguasa Gedung Putih,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Misi diplomatik Iran mengecam keras “kejahatan keji” tersebut dan menyerukan kepada masyarakat internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB, agar tidak tinggal diam terhadap dugaan kejahatan perang tersebut.

Misi itu mendesak masyarakat internasional untuk mengambil “langkah-langkah segera dan efektif” guna menghentikan agresi AS dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Kami menegaskan bahwa kejahatan ini dan kejahatan-kejahatan serupa tidak akan pernah terhapus dari ingatan sejarah rakyat Iran,” kata pernyataan tersebut. Pernyataan itu menambahkan bahwa pemerintah Iran akan menindaklanjuti kasus ini melalui jalur diplomatik dan hukum yang dimilikinya di forum-forum internasional serta berupaya meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *