Wapres Iran Umumkan Perubahan Besar dalam Doktrin Pertahanan, Peringatkan “Bulan-Bulan Gelap” bagi Ekonomi AS

Aref

Tehran, Purna Warta – Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref mengumumkan perubahan besar dalam doktrin pertahanan Iran. Ia memperingatkan bahwa respons Iran terhadap agresi AS di masa mendatang akan bersifat “asimetris” dan “berlapis-lapis”, sembari memperingatkan warga Amerika untuk bersiap menghadapi gangguan ekonomi yang parah.

Baca juga: Investegasi: Angkatan Laut AS Kewalahan di Asia Barat karena Serangan Iran Ganggu Jaringan Pasokan

Dalam sebuah pesan yang diposting di X, Aref menyatakan bahwa gelombang terbaru serangan militer AS terhadap wilayah Iran telah mengubah secara permanen perhitungan keamanan Tehran.

“Kejahatan-kejahatan baru yang dilakukan Amerika Serikat terhadap bangsa Iran telah mengubah perhitungan keamanan dan doktrin pertahanan kami,” tulis Aref. “Mulai sekarang, respons kami akan bersifat ‘asimetris’, ‘berlapis-lapis’, dan ‘merampas keamanan pihak agresor’.”

Wakil presiden pertama Iran tersebut mengeluarkan peringatan yang ditujukan kepada masyarakat Amerika dan perekonomian AS secara lebih luas.

“Rakyat Amerika harus mulai memikirkan untuk menimbun bensin dan bahan bakar,” kata Aref. “Bulan-bulan gelap menanti perekonomian Amerika.”

Perubahan strategi pertahanan Iran tersebut muncul setelah serangkaian serangan udara AS pada Selasa malam yang menargetkan wilayah sipil dan infrastruktur nonmiliter di sejumlah provinsi Iran, termasuk Hormozgan, Khuzestan, Sistan-Baluchestan, dan Kerman.

Insiden yang paling mengerikan terjadi di desa Kouhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, ketika sebuah rudal AS menghantam sebuah perayaan pernikahan.

Serangan tersebut menyebabkan lebih dari 70 orang gugur dan terluka, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.

Peringatan Aref disampaikan ketika AS dan sekutunya sudah menghadapi krisis energi parah yang dipicu oleh perang yang justru dimulai oleh Washington.

Sejak Iran memberlakukan pembatasan masa perang di Selat Hormuz pada akhir Februari, masyarakat Amerika telah menghadapi lonjakan harga bensin yang sangat tajam.

Namun, kini sebuah “guncangan diesel” yang lebih melumpuhkan mengancam rantai pasokan AS.

Menurut para analis energi, selisih harga antara diesel dan minyak mentah di Amerika Serikat kini telah melampaui 100 dolar.

Terhambatnya ekspor minyak dari Asia Barat, ditambah dengan menurunnya kapasitas kilang minyak global, telah menciptakan krisis pasokan diesel yang semakin parah. Kondisi ini mengancam untuk memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap perekonomian dan sektor pertanian di sejumlah negara bagian AS.

Dampak balik ekonomi tersebut juga sangat memengaruhi sekutu-sekutu Washington di Eropa. Ketika AS meningkatkan serangannya terhadap Iran, harga kontrak berjangka gas alam acuan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2023.

Baca juga: Laporan PBB: Israel Paksa Lebih dari 33.000 Warga Palestina Mengungsi dari Tiga Kamp Pengungsi di Tepi Barat

Kontrak berjangka Belanda untuk bulan terdekat baru-baru ini melonjak hampir 6 persen menjadi €73,95 (85,62 dolar AS) per megawatt-jam, melampaui puncak sebelumnya selama masa perang.

Para pedagang kini memperhitungkan kemungkinan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman gas alam cair (LNG) dari Asia Barat. Hal ini memicu kekhawatiran dan kepanikan mengenai kekurangan energi yang parah menjelang musim dingin Eropa yang sangat bergantung pada pemanas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *