Caracas, Purna Warta – Pengacara Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang diculik dan istrinya, Cilia Flores, telah mengajukan permohonan untuk menggugurkan dakwaan yang dibuat-buat oleh pemerintah AS, dengan alasan bahwa klien mereka memiliki kekebalan berdaulat secara mutlak dan bahwa penahanan mereka tidak memiliki dasar hukum.
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan federal di Manhattan pada Rabu, tim pembela meminta hakim menggugurkan dakwaan berat terkait perdagangan narkoba tersebut.
Mereka berargumen bahwa AS tidak memiliki yurisdiksi hukum atas kepala negara yang sah dan ibu negara dari sebuah negara asing yang berdaulat.
“Tidak ada pengadilan Amerika yang pernah memimpin persidangan pidana terhadap seorang pemimpin asing yang pada saat dakwaan diajukan diakui oleh negaranya sendiri sebagai kepala negara yang sedang menjabat,” tulis para pengacara.
“Itu bukan sekadar kebetulan dalam sejarah. Hal tersebut mencerminkan sebuah aturan yang lebih tua daripada common law: kepala negara dibebaskan dari proses pidana di pengadilan negara mana pun selain pengadilannya sendiri.”
Tim pembela selanjutnya berargumen bahwa sekalipun AS menolak mengakui kekebalan berdaulat Maduro sebagai Kepala Negara, perkara tersebut tetap harus dibatalkan karena Maduro berhak atas kekebalan berdaulat berdasarkan tindakan resmi (conduct-based sovereign immunity) atas tindakan-tindakan yang dilakukan dalam kapasitas resminya.
Maduro dan Flores dijadwalkan menjalani persidangan atas dakwaan perdagangan narkoba yang dibuat-buat tersebut pada 1 Juni. Hakim Alvin K. Hellerstein telah menetapkan 17 November sebagai jadwal penyampaian argumentasi lisan terkait permohonan untuk menggugurkan dakwaan yang dinilai ilegal tersebut.
Para pengamat dan analis politik menilai langkah pemerintahan Trump untuk secara paksa menggulingkan presiden yang terpilih secara demokratis itu sebagai sebuah kudeta ilegal yang bertujuan melakukan pergantian rezim.
Menurut mereka, tujuan akhirnya adalah memperoleh kendali penuh atas Venezuela guna mengeruk kekayaan energi dan sumber daya alamnya yang melimpah.
Menyoroti ketiadaan dasar hukum yang jelas bagi penahanannya, Maduro, 63 tahun, dan istrinya telah ditahan di sebuah penjara di Brooklyn sejak pasukan khusus AS menculik mereka dari rumah mereka di Caracas dalam sebuah penggerebekan tengah malam pada awal Januari.
Penculikan di luar proses hukum tersebut dan pemindahan mereka ke fasilitas penahanan di New York kemudian secara luas dikecam sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.
Dalam permohonan terpisah yang diajukan pada Rabu untuk Flores, tim pembelanya berargumen bahwa ia juga tidak dapat dituntut oleh AS. Tim hukum Flores menyatakan bahwa kekebalannya merupakan “atribut dari kedaulatan Venezuela, dan hanya Venezuela yang dapat melepaskannya.”
Sementara itu, para pengacara Maduro menegaskan bahwa ia “dengan tegas membantah tuduhan-tuduhan terhadap dirinya,” seraya menyatakan bahwa “jika perkara ini dilanjutkan ke persidangan, akan terlihat jelas bahwa ia telah dituduh secara tidak benar.”
Jaksa AS menuduh Maduro bertanggung jawab atas penyelundupan ribuan ton kokain ke Amerika Serikat melalui kerja sama dengan pejabat-pejabat Venezuela dan sindikat kriminal.
Baik Maduro maupun Flores telah menyatakan diri tidak bersalah atas seluruh dakwaan tersebut.


