Dari Duka Menjadi Tekad: Pemimpin Hamas Muncul Pertama Kali Sejak Serangan Israel di Doha

Hamas leader

Doha, Purna Warta – Khalil al-Hayya, seorang pemimpin senior gerakan perlawanan Palestina Hamas, tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak pembunuhan terarah oleh rezim Israel terhadap sejumlah pejabat Hamas di Doha, mengaitkan duka pribadinya dengan pengorbanan nasional rakyat Palestina.

Baca juga: Polisi Inggris Tangkap Hampir 500 Orang dalam Aksi Pro-Palestina di London

Pejabat perlawanan yang juga memimpin tim negosiasi Hamas itu menyampaikan pidato kepada bangsa Palestina pada Sabtu (4 Oktober 2025), menanggapi rangkaian pembunuhan yang menewaskan enam orang pada 9 September, termasuk putranya, Hammam al-Hayya, manajer kantornya Jihad Labad, serta beberapa anggota stafnya.

“Hari ini kami hidup dalam bayang-bayang rasa sakit, namun juga dalam bayang-bayang kebanggaan dan kehormatan,” ujar Hayya.

Meski diliputi kesedihan mendalam atas kehilangan keluarganya, Hayya tetap menyatakan kebanggaan atas pengorbanan mereka, termasuk putranya, yang gugur demi memperjuangkan pembebasan Palestina dari pendudukan dan agresi Israel yang didukung Amerika Serikat.

Pemimpin Hamas itu menegaskan, dirinya tidak membedakan antara para korban serangan di Doha dengan anak-anak Palestina lainnya di Jalur Gaza yang setiap hari gugur akibat kekejaman rezim pendudukan Israel, termasuk dalam perang genosida yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.

“Saya tidak membedakan antara mereka dan setiap anak Palestina di Gaza yang dibunuh oleh pendudukan,” katanya.
“Karena semuanya meninggal akibat kejahatan pendudukan itu.”

Menghormati ‘Lebih dari 100 Tahun Perjuangan’

Hayya juga memberi penghormatan kepada lebih dari satu abad perjuangan rakyat Palestina melawan rezim pendudukan dan konspirasi Barat yang terus memperkuat ambisi ekspansionis Israel terhadap bangsa Palestina.

“Kami adalah bagian dari keluarga besar ini — keluarga rakyat Palestina, khususnya rakyat Gaza — yang hari ini mewakili seluruh bangsa melalui perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan mereka, pengorbanan yang jarang terjadi dalam sejarah. Dan perjuangan Palestina ini telah berlangsung lebih dari 100 tahun.”

Ia menutup pidatonya dengan doa agar kemenangan ilahi tercapai di tengah penderitaan rakyat Palestina, serta berharap agar perjuangan ini menjadi “jalan menuju kejayaan dan kemenangan bangsa.”

Baca juga: Reporter: Mossad Israel ‘Berhubungan Sejak Awal’ dengan Pembunuh Mantan PM Italia

Konteks dan Respons Global

Serangan di Doha tersebut terjadi ketika Hamas tengah berupaya secara intensif dalam proses negosiasi yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, dengan tujuan mengakhiri genosida di Gaza — yang sejauh ini telah menewaskan sekitar 66.300 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak.

Namun, selama proses negosiasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbukti terus menghambat upaya perdamaian, termasuk dengan menolak berbagai konsesi yang ditawarkan Hamas.

Serangan itu dikecam secara luas oleh masyarakat internasional, yang menilai tindakan Israel tersebut sebagai bukti tekad rezim untuk menggagalkan diplomasi dan melanjutkan agresi serta kampanye pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *