Atwan: Trump Berusaha Menutupi Ketakutannya dengan Ancaman

AtwanAtwan

Beirut, Purna Warta – Seorang analis terkemuka dunia Arab, Abdel Bari Atwan, menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha menutupi rasa takutnya melalui berbagai ancaman. Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi Trump, Amerika Serikat, dan pangkalan-pangkalannya adalah kemungkinan terjadinya perang berkepanjangan yang bersifat menguras (war of attrition).

Dalam sebuah pernyataan video di platform X, Atwan mengatakan bahwa hari-hari saat ini—terutama tiga hari ke depan—akan menentukan arah perang dan perdamaian di Timur Tengah, bahkan mungkin di seluruh dunia. Namun, menurutnya, indikator yang ada tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mencontohkan insiden ketika sebuah kapal Amerika dilaporkan menghalangi kapal Iran yang membawa barang dan bahkan menembakinya.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat masih memberlakukan blokade laut, serta dinilai tidak benar-benar menginginkan negosiasi, melainkan ingin memaksakan kehendaknya kepada Iran. Menurut Atwan, pernyataan Trump yang mengancam akan memaksa Iran tunduk jika tidak menerima syarat-syarat Amerika tidak dapat dianggap sebagai pendekatan negosiasi yang sah.

Atwan juga menyebut bahwa Iran menegaskan tidak akan ikut serta dalam perundingan selama blokade laut masih diberlakukan, serta menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama kondisi tersebut berlangsung.

Lebih lanjut, ia menuduh Trump menyampaikan informasi yang tidak benar terkait posisi Iran, termasuk klaim bahwa Teheran bersedia menyerahkan uranium yang telah diperkaya atau menghentikan pengayaan dalam jangka panjang. Ia menilai bahwa pernyataan tersebut tidak sesuai dengan sikap resmi Iran yang menolak menyerahkan material nuklirnya maupun menghentikan program pengayaan dalam jangka waktu panjang.

Atwan menyatakan bahwa Iran tidak terlalu memperhatikan ancaman Amerika Serikat dan telah menunjukkan ketahanan selama berminggu-minggu tanpa menyerah. Ia menilai bahwa Iran berada dalam posisi defensif karena merasa diserang, dan siap untuk melanjutkan perlawanan dalam jangka waktu lebih lama.

Menurutnya, justru Donald Trump yang khawatir terhadap kemungkinan perang berkepanjangan. Ia menilai pengiriman delegasi Amerika ke Islamabad sebagai indikasi kekhawatiran tersebut, bahkan sebelum Iran secara resmi menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam perundingan.

Atwan menambahkan bahwa Trump menggunakan retorika ancaman untuk menutupi ketakutannya, sementara risiko terbesar bagi Amerika Serikat adalah konflik jangka panjang yang meluas secara regional. Ia juga menyebut bahwa Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa konflik ini akan berkembang menjadi perang regional, dan menurutnya hal itu kini mulai terjadi.

Ia menegaskan bahwa pihak yang menginginkan gencatan senjata adalah Trump, bukan Iran. Menurutnya, Iran hanya menyatakan kesiapan membuka Selat Hormuz jika gencatan senjata di Lebanon benar-benar diterapkan. Ia juga menilai bahwa Amerika Serikat pada akhirnya memahami keseriusan ancaman Iran dan mendorong penerapan gencatan senjata tersebut.

Atwan menyimpulkan bahwa situasi ke depan akan sangat menentukan, dengan kemungkinan Iran terus mempersiapkan diri secara militer dan menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerah. Ia juga mengingatkan bahwa masa gencatan senjata yang ada dijadwalkan berakhir pada hari Rabu, yang dapat menjadi titik krusial bagi perkembangan konflik selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *