Washington, Purna Warta – Amerika Serikat diam-diam telah mengirimkan ratusan rudal berpemandu laser canggih kepada rezim Israel, meskipun mengetahui bahwa proyektil-proyektil tersebut akan digunakan untuk menyerang Iran.
Baca juga: Qalibaf: Awal Serangan dari Rezim Zionis, Akhirnya Ada di Tangan Kami
Situs berita dan analisis Middle East Eye (MEE) melaporkan hal ini pada hari Sabtu, dengan mengutip sumber dari pejabat AS dan menyebutkan bahwa jenis rudal yang dimaksud adalah rudal Hellfire udara-ke-darat.
“Hellfire itu ada waktunya, dan ada tempatnya. Rudal itu sangat berguna bagi Israel [ketika mereka berusaha menyerang Republik Islam],” kata seorang pejabat militer senior Amerika kepada situs tersebut.
AS juga memberikan rudal-rudal berpemandu laser itu dengan sadar bahwa fitur-fitur rudal tersebut secara khusus memperkuat kemampuan Tel Aviv untuk melakukan serangan presisi, lanjut laporan tersebut.
Pada hari Jumat, Presiden AS sendiri, Donald Trump, mengonfirmasi dalam wawancaranya dengan Reuters bahwa dia dan timnya sudah mengetahui serangan itu akan terjadi. “Kami tahu segalanya,” kata Trump.
Para pengamat mencatat bahwa laporan mengenai dukungan senjata AS yang tak henti-hentinya — yang dimaksudkan untuk semakin memperkuat kemampuan Israel dalam menyerang Republik Islam — terus bermunculan, meskipun AS sedang terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan Iran, yang konon untuk memberi peluang bagi jalur diplomasi.
MEE juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah mengetahui rencana tersebut selama “berbulan-bulan.”
Agresi Israel, yang menargetkan berbagai kota di Iran termasuk ibu kota Teheran, melibatkan serangkaian serangan presisi yang bertujuan untuk pembunuhan tokoh-tokoh penting. Serangan tersebut menyebabkan gugurnya Mayor Jenderal Hossein Salami, mantan panglima tertinggi IRGC (Korps Garda Revolusi Islam).
Korban lainnya termasuk Mayor Jenderal Mohammad Bagheri (Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran), Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh (kepala divisi kedirgantaraan IRGC), dan Mayor Jenderal Gholam-Ali Rashid (komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya).
Serangan itu juga menewaskan beberapa ilmuwan nuklir senior, termasuk Mohammad-Mehdi Tehranchi, Fereydoun Abbasi, dan Dr. Abdol-Hamid Minoucher, bersama lebih dari 70 warga sipil — termasuk anak-anak dan perempuan.
Sebagai balasan, Republik Islam Iran meluncurkan puluhan rudal dan drone ke berbagai target sensitif dan strategis di wilayah pendudukan Palestina.
Baca juga: Pezeshkian: Respons yang Sah dan Kuat dari Iran Akan Buat Musuh Menyesal
Serangan balasan tersebut dimulai pada hari Jumat dan berlanjut hingga hari Sabtu, ketika gelombang baru rudal Iran mulai menghantam posisi-posisi rezim Israel.
Iran memuji aksi balasan tersebut sebagai “pukulan besar” terhadap rezim, dan bersumpah siap mengulanginya jika perlu.
Dalam wawancara televisi pada hari Sabtu, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi — penasihat senior bagi panglima tertinggi IRGC — menyatakan bahwa aksi balasan yang diberi sandi Operasi Janji Sejati III itu berhasil menghantam setidaknya 150 target Israel, termasuk pangkalan-pangkalan strategis yang sangat penting.


