Kenaikan Harga Minyak di Atas 120 Dolar Menekan Mata Uang Asia yang Rentan

oil 120

Purna Warta – Kenaikan kembali harga minyak hingga melampaui 120 dolar per barel telah memperbesar tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia yang paling rentan, di mana beberapa mata uang kembali diperdagangkan mendekati level terendah sepanjang sejarah.

Rupiah Indonesia, peso Filipina, dan rupee India tercatat melemah sejak agresi Zionis-Amerika terhadap Iran dua bulan lalu, sehingga masuk dalam kelompok mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.

Penurunan ini mencerminkan tingginya ketergantungan ketiga ekonomi tersebut pada impor minyak, yang membuat mata uang mereka sangat sensitif terhadap guncangan pasokan di sektor energi.

Seiring meningkatnya biaya, kekhawatiran investor pun bertambah terhadap percepatan inflasi yang didorong oleh harga bahan bakar serta pelebaran defisit eksternal dan fiskal—faktor-faktor yang dapat mempersulit upaya bank sentral dalam menjaga pertumbuhan ekonomi sambil mengendalikan harga.

Dalam konteks ini, para analis menyatakan bahwa bank sentral mungkin perlu menyesuaikan kembali tingkat intervensi mereka di pasar valuta asing guna menjaga cadangan devisa, seraya menekankan bahwa kenaikan harga minyak menjadi faktor penentu utama dalam kekuatan intervensi tersebut.

Tekanan semakin meningkat dengan tetap tingginya harga minyak Brent yang mendekati level tertinggi dalam sekitar empat tahun, di tengah eskalasi tekanan Amerika terhadap Iran, serta laporan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran tanpa tercapainya kesepakatan nuklir dengan Teheran.

Meskipun berbagai upaya dilakukan, para analis menilai dampaknya tetap terbatas selama belum ada tanda-tanda jelas bahwa perang akan segera berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *