Krisis Rudal AS: Butuh Empat Hingga Enam Tahun Untuk Memulihkan Stok Setelah Perang Iran

Buhran

Washington, Purna Warta – Lembaga kajian strategis “Center for Strategic and International Studies” (CSIS) dalam sebuah laporan mengejutkan memperingatkan bahwa konsumsi amunisi utama Amerika Serikat dalam perang Iran telah sedemikian besar sehingga stok saat ini tidak memadai untuk kemungkinan konflik dengan China, dan pemulihan kemampuan rudal Washington akan memakan waktu “empat hingga enam tahun”.

Mark Cancian, kolonel Marinir AS yang telah pensiun sekaligus penasihat senior CSIS, bersama Chris Park, peneliti lembaga tersebut, dalam laporan berjudul “Peluru Terakhir? Kondisi Amunisi Utama pada Saat Gencatan Senjata Perang Iran”, meninjau persediaan tujuh jenis amunisi strategis AS setelah 39 hari serangan udara dan rudal ke Iran.

Menurut lembaga tersebut, pasukan AS dalam 39 hari sebelum gencatan senjata telah menargetkan lebih dari 13.000 sasaran di Iran.

Laporan itu menegaskan bahwa untuk empat dari tujuh jenis amunisi utama yang diteliti, “Amerika Serikat mungkin telah menghabiskan lebih dari setengah stok sebelum perang.”

Pemulihan ketujuh amunisi tersebut ke tingkat sebelum perang, dengan mempertimbangkan produksi yang sedang berjalan, akan memakan waktu antara satu hingga empat tahun. Menurut analisis CSIS, rudal-rudal ini juga penting untuk potensi konflik di kawasan Pasifik Barat.

Bahkan sebelum perang Iran, stok amunisi sudah dianggap tidak cukup untuk menghadapi pesaing setara. Kini kekurangan tersebut menjadi lebih parah, dan membangun kembali stok untuk perang melawan China akan membutuhkan waktu lebih lama.

Penurunan stok juga akan memengaruhi pasokan sistem Patriot, THAAD, dan rudal presisi PrSM kepada Ukraina serta sekutu dan mitra lainnya. AS akan menghadapi persaingan dengan negara-negara tersebut yang juga ingin memulihkan dan memperluas stok mereka.

Pertahanan udara dan rudal: alarm untuk konfrontasi dengan kekuatan besar

CSIS melaporkan bahwa AS menembakkan lebih dari 13.000 sasaran dalam 39 hari sebelum gencatan senjata. Proporsi amunisi serangan canggih sangat tinggi pada hari-hari awal perang.

Laporan juga menyebut bahwa AS terus menggunakan beberapa amunisi jarak jauh hingga gencatan senjata untuk target yang terlalu jauh atau memiliki pertahanan kuat.

Rudal serangan jarak jauh:
Tomahawk (TLAM): Lebih dari 1.000 rudal ditembakkan, yang hampir menghabiskan seluruh stok di medan operasi. Jepang juga diberitahu bahwa pengiriman 400 Tomahawk ditunda akibat perang Iran.
JASSM: Sekitar 1.100 rudal jelajah siluman udara ini digunakan dalam perang. B-52 dari pangkalan Inggris melakukan misi serangan menggunakan rudal ini.
PrSM: Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa “seluruh stok PrSM” digunakan dalam perang, meskipun pejabat lain menyatakan masih ada cadangan.
Kondisi sistem pertahanan: sangat kritis

CSIS menggambarkan kondisi sistem pertahanan AS sebagai “sangat kritis”:

Patriot (PAC-3 MSE): Hampir setengah stok telah digunakan, dan sekitar 400 unit PAC-2 lama masih tersisa dengan efektivitas lebih rendah.
THAAD: Kondisi paling kritis. Tidak ada pengiriman baru sejak Agustus 2023, dan pengiriman baru baru akan dimulai kembali pada April 2027.
SM-3: Waktu pemulihan terlama, diperkirakan 64 bulan (lebih dari 5 tahun).

Lockheed Martin berencana meningkatkan produksi PAC-3 MSE dari 600 unit per tahun menjadi 2.000 unit pada 2030, namun hingga saat itu AS akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi berbagai kebutuhan.

Pemulihan kekuatan: butuh 4 hingga 6 tahun

Para penulis laporan menyimpulkan bahwa total waktu dari persetujuan anggaran hingga produksi penuh membutuhkan sekitar 52 bulan (lebih dari 4 tahun). Dalam skenario terburuk, SM-3 bisa membutuhkan lebih dari 5 tahun, bahkan beberapa pejabat Pentagon memperkirakan hingga 6 tahun untuk pemulihan penuh.

Laporan menekankan bahwa proses anggaran di Kongres, waktu pra-produksi, dan waktu produksi membuat seluruh siklus sangat panjang.

Risiko utama: konflik di Pasifik Barat

CSIS menegaskan bahwa masalah utama bukan hanya perang Iran saat ini, tetapi dampaknya terhadap masa depan. Bahkan sebelum perang Iran, stok amunisi sudah tidak cukup untuk menghadapi pesaing setara. Kini kondisi tersebut menjadi lebih buruk.

Solusi murah: meniru drone Iran

Dalam situasi krisis ini, CSIS juga menyinggung solusi darurat Pentagon. Bagian paling menarik adalah pengakuan bahwa AS meniru drone Iran Shahed-136.

Drone versi AS bernama LUCAS, dengan harga sekitar 35.000 dolar dan jangkauan 500 mil, dianggap sebagai solusi murah untuk serangan jarak jauh. Namun AS tidak memiliki jumlah yang cukup untuk menghadapi intensitas serangan Iran.

Laporan juga menyebut bahwa AS jarang menggunakan sistem mahal seperti Patriot atau SM-6 untuk melawan drone murah, dan juga kekurangan interceptor murah.

Akibatnya, AS dan negara-negara Teluk menggunakan helikopter bersenjata, pesawat sayap tetap, dan rudal udara-ke-udara, yang sebagian bisa berharga hingga 1 juta dolar per unit (AIM-120).

Risiko perang berikutnya

Laporan diakhiri dengan peringatan bahwa kondisi krisis arsenal rudal AS dan penurunan stok militer akan membuat setiap konflik baru dengan kekuatan besar seperti China menjadi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi militer AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *