Tehran, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa ilusi tentang “Israel Raya” merupakan bahaya eksistensial sekaligus ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional. Ia menyerukan negara-negara Islam untuk mengambil langkah kolektif dalam menghadapi agenda ekspansionis Israel.
Baca juga: Pasukan Israel Perketat Pengepungan Desa al-Mughayyir di Tepi Barat
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Asharq al-Awsat menjelang pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Araghchi menulis bahwa sidang mendatang harus menjadi titik balik guna memperkokoh tekad bersama negara-negara Muslim.
Ia mendesak negara anggota untuk menghentikan “ambisi tak terpuaskan” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mencegah berlanjutnya pembantaian, penghancuran, serta aneksasi tanah-tanah Islam.
“Pertemuan tingkat menteri OKI mendatang tidak boleh terbatas pada deklarasi solidaritas dengan rakyat Palestina atau sekadar ungkapan penyesalan dan keprihatinan atas situasi saat ini,” tegas Araghchi.
“Ini adalah ujian bersejarah bagi umat Islam, dan mungkin salah satu dari sedikit kesempatan untuk membentuk koalisi regional dan global guna menghentikan agresi Israel.”
Menlu Iran itu juga mengajukan “pertanyaan penentu”: negara mana yang akan menjadi target berikutnya setelah Suriah? Ia memperingatkan bahwa pernyataan dan tindakan terbaru Netanyahu bukanlah klaim sembarangan, melainkan deklarasi kebijakan dan strategi langsung untuk mewujudkan ilusi “Israel Raya dari Nil hingga Efrat.”
Menurut Araghchi, proyek itu akan melemahkan kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan negara-negara merdeka, termasuk Suriah, Yordania, Mesir, Lebanon, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi. Ia menyebut rencana tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB dan norma-norma hukum internasional yang bersifat imperatif, sekaligus memperlihatkan niat agresif Israel untuk mendominasi dunia Islam.
Araghchi menambahkan, dengan Netanyahu secara terbuka menyatakan dirinya sebagai pelaksana proyek “Israel Raya,” tidak ada lagi ruang untuk ilusi maupun sikap acuh.
Awal bulan ini, Netanyahu mengatakan bahwa ia merasakan “keterikatan mendalam” pada visi “Israel Raya,” yang mencakup wilayah Palestina yang diduduki Israel serta sebagian Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon, seraya menyebutnya sebagai “misi historis dan spiritual.”
Baca juga: TikTok Larang Sebutan “Teroris” bagi Pasukan Israel Setelah Rekrut Mantan Serdadu Zionis
Araghchi juga mengecam dukungan berkelanjutan kekuatan Barat—khususnya Amerika Serikat—terhadap Israel. Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut sama artinya dengan keterlibatan dalam kejahatan, sekaligus menimbulkan bahaya yang semakin besar bagi stabilitas regional dan global.
Ia menyoroti bahwa veto berulang Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB telah menggagalkan lembaga itu dalam menjalankan tanggung jawabnya untuk menghentikan agresi Israel dan mengadili para pelakunya.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023, serangan brutal Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 62.622 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—dan melukai lebih dari 157.673 orang lainnya.


