Al-Quds, Purna Warta – TikTok memperbarui pedoman kontennya dengan melarang penyebutan pasukan Israel sebagai “teroris,” tak lama setelah menunjuk seorang mantan tentara Israel yang menyebut dirinya “Zionis bangga” untuk mengawasi kebijakan perusahaan terkait apa yang disebut sebagai “anti-Semitisme.”
Baca juga: Normalisasi Hubungan dengan Israel; Perlawanan Suriah Bangkit dari Puncak Jabal Syeikh
Menurut warganet di platform X, Erica Mindel diangkat sebagai Public Policy Manager for Hate Speech pada TikTok hanya 15 hari sebelum larangan itu diumumkan. Mereka juga menyoroti bahwa sebelumnya pedoman TikTok melarang “semua bentuk supremasi rasial,” namun kini cakupannya dipersempit hanya pada “supremasi kulit putih.”
Berdasarkan profil LinkedIn dan deskripsi pekerjaannya, Mindel bertugas membentuk kebijakan ujaran kebencian perusahaan serta menjadi pakar internal maupun eksternal TikTok dalam isu anti-Semitisme.
Mindel pernah mengabdi selama dua setengah tahun di militer Israel sebagai madrichot shirion (instruktur pasukan lapis baja tentara pendudukan), dan juga bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri AS. “Saya seorang Yahudi Amerika yang bangga,” ujarnya suatu kali.
Ia direkrut setelah adanya tekanan dari Anti-Defamation League (ADL), kelompok lobi Zionis berpengaruh di Amerika Serikat. Berbasis di New York City, Mindel dilaporkan menerima gaji sekitar £280.000 per tahun.
Pengalaman Mindel sebagai instruktur militer Israel serta pekerjaannya dengan Deborah Lipstadt, Utusan Khusus AS untuk Pemantauan dan Penanggulangan Anti-Semitisme, menunjukkan bahwa perannya di TikTok berpotensi diarahkan untuk menyensor konten pro-Palestina sekaligus memperkuat narasi pro-Israel di tengah perang genosida yang masih berlangsung di Gaza.
Langkah ini diambil ketika rezim Israel terus melanjutkan penindasan sistematis terhadap rakyat Palestina, memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Gambar dan video yang mengerikan—menunjukkan anak-anak yang kelaparan, serangan bom tanpa henti, serta kehancuran luas—terus beredar di media sosial, menyingkap situasi tragis yang dihadapi rakyat Palestina.
Baca juga: Hamas: Netanyahu Berupaya Mengulur Waktu dan Menghalangi Setiap Kesepakatan
Didukung penuh oleh Amerika Serikat, Israel melancarkan serangannya ke Gaza sejak 7 Oktober 2023, setelah pejuang perlawanan Palestina meluncurkan operasi kejutan Badai Al-Aqsa sebagai respons atas puluhan tahun penjajahan berdarah dan penghancuran yang dilakukan rezim Zionis.
Hingga kini, militer Israel telah membunuh lebih dari 62.600 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.


