Normalisasi Hubungan dengan Israel; Perlawanan Suriah Bangkit dari Puncak Jabal Syeikh

Adi sozi

Damaskus, Purna Warta – Media daring Rai al-Youm dalam sebuah artikel analisis yang ditulis oleh jurnalis dan analis terkenal dunia Arab, Abdul Bari Atwan, menyinggung laporan resmi tentang pertemuan tatap muka pertama dalam rangka normalisasi antara As’ad al-Syaibani, Menteri Luar Negeri Suriah, dengan Ron Dermer, Menteri Urusan Strategis Israel, di Paris. Pertemuan ini berlangsung di bawah pengawasan Thomas Brock, utusan Presiden Amerika Serikat untuk Suriah, dan bahkan diumumkan secara resmi oleh kantor berita Suriah (SANA). Hal ini dinilai sebagai salah satu dari dua peristiwa penting dalam perkembangan Suriah.

Baca juga: Hamas: Netanyahu Berupaya Mengulur Waktu dan Menghalangi Setiap Kesepakatan

Menurut artikel tersebut, pertemuan al-Syaibani dan Dermer menandai dimulainya normalisasi resmi hubungan Suriah–Israel. Pengumuman resmi mengenai pertemuan ini oleh SANA berarti pintu normalisasi telah benar-benar dibuka. Tidak tertutup kemungkinan bahwa langkah ini, yang menghasilkan sejumlah kesepahaman keamanan dan politik, akan menjadi pendahuluan bagi pertemuan antara Abu Muhammad al-Jawlani, kepala Pemerintahan Sementara Suriah, dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—dalam format yang menyerupai versi baru pertemuan Camp David, Oslo Accord, dan Abraham Accords.

Laporan resmi menyebutkan bahwa lebih dari 85 persen isi kesepakatan keamanan bilateral Suriah–Israel telah dicapai dalam pertemuan Paris. Kesepakatan ini bahkan dinilai jauh lebih berbahaya daripada sekadar menggelar konferensi tingkat tinggi untuk normalisasi, karena substansinya adalah koordinasi keamanan dalam berbagai isu regional—dengan kata lain, koordinasi untuk melemahkan perlawanan terhadap proyek Israel.

Artikel itu juga menyinggung kabar yang beredar di sejumlah media Arab yang mengutip sumber-sumber Prancis, tentang adanya pembahasan serius dalam pertemuan Paris terkait kemungkinan pemindahan ratusan ribu warga Gaza ke Suriah, dengan jaminan pendanaan dan fasilitas transportasi laut maupun darat dari pihak Amerika. Meskipun kebenaran laporan tersebut belum bisa dipastikan, tanda-tanda ke arah itu dianggap tidak mustahil. Sejak awal memang telah ada usulan agar Suriah menampung pengungsi Gaza. Di samping itu, rezim Israel dan Amerika memiliki banyak instrumen tekanan terhadap “Suriah baru”, termasuk sanksi ekonomi AS di bawah Caesar Act yang masih berlaku lebih dari tujuh bulan setelah jatuhnya rezim lama Suriah.

Insiden di Jabal Syeikh

Peristiwa penting kedua adalah pengakuan militer Israel mengenai terjadinya sebuah “insiden” di salah satu fasilitas militernya di kawasan Jabal Syeikh, Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Dalam kejadian itu, tujuh tentara Israel terluka, dengan kondisi empat di antaranya kritis.

Pertanyaan pun muncul: apakah perlawanan nasional Suriah telah memulai kembali operasinya terhadap rezim Zionis?

Insiden tersebut dipandang sebagai konfirmasi bahwa perlawanan Suriah terhadap pendudukan Israel dan jalur normalisasi telah benar-benar dimulai kembali. Tanda-tandanya antara lain:

Pengumuman resmi Israel mengenai tujuh tentaranya yang terluka akibat “ledakan granat lama” di bekas pangkalan militer Suriah di Jabal Syeikh. Klaim ini diragukan, karena mustahil granat usang dapat melukai sebanyak itu, terlebih Israel memiliki ribuan pakar penjinak bahan peledak.

Pengakuan Israel bahwa pasukannya telah menewaskan sejumlah anggota sel bersenjata dan menangkap beberapa lainnya, dengan tuduhan menyelundupkan senjata. Namun, detail insiden sengaja disamarkan, yang menunjukkan bahwa kebenaran jauh lebih besar daripada yang diumumkan.

Normalisasi di Bawah Bayang-Bayang Amerika

Baca juga: Laporan Al-Akhbar tentang Peningkatan Tekanan AS terhadap Lebanon untuk Melucuti Senjata Hizbullah

Dalam situasi demikian, normalisasi Suriah–Israel tampaknya berjalan di bawah pengawasan Amerika, dengan restu Turki dan sejumlah negara Arab. Pemerintahan baru Suriah yang lahir dengan dukungan Washington, Tel Aviv, Ankara, dan beberapa ibu kota Arab dipandang sebagai instrumen untuk menghidupkan kembali proyek lama Israel: menghapus isu Palestina dan mengikis budaya perlawanan terhadap pendudukan Israel serta hegemoni Amerika.

Artikel tersebut menutup dengan penegasan:
“Normalisasi adalah pengkhianatan. Ia tetap akan selalu menjadi pengkhianatan. Siapa pun yang terlibat di dalamnya atau menandatangani perjanjian yang memberi legitimasi padanya, telah melakukan dosa besar dan akan menghadapi hukuman berat di dunia maupun di akhirat. Perlawanan Islam Suriah kini bangkit kembali dengan kekuatan, dan kebangkitannya bisa jadi dimulai dari puncak Jabal Syeikh. Masa depanlah yang akan membuktikan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *