Gaza, Purna Warta, Menurut laporan pemberitaan, menyusul berlanjutnya upaya penipuan dan penghalangan oleh rezim Zionis dalam perundingan gencatan senjata Gaza dan pertukaran tawanan, Mardawi menegaskan:
“Kami tidak memiliki masalah untuk mencapai kesepakatan komprehensif yang dapat mengarah pada pembebasan semua tawanan. Namun, Netanyahu dengan sengaja melakukan obstruksi dalam perundingan.”
Baca juga: Laporan Al-Akhbar tentang Peningkatan Tekanan AS terhadap Lebanon untuk Melucuti Senjata Hizbullah
Netanyahu Dinilai Mengulur Waktu
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Mardawi menyatakan bahwa Netanyahu tidak merespons langsung terhadap usulan gencatan senjata yang sudah disepakati dengan para mediator dan pihak Amerika. Sebaliknya, ia justru mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontradiktif dengan tujuan mengulur waktu.
Pemimpin Hamas itu menambahkan:
“Netanyahu berusaha mengulur waktu perang dan menghalangi setiap bentuk kesepakatan gencatan senjata. Hamas telah menerima usulan yang diajukan para mediator, namun Netanyahu menolak mengirim delegasinya untuk ikut serta dalam perundingan dan terus menjalankan politik penghindaran.”
Mardawi menegaskan bahwa Hamas tidak menolak formula apa pun yang mengarah pada gencatan senjata, pembebasan tawanan dari kedua pihak, serta jaminan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan rekonstruksi Jalur Gaza dengan visi Palestina.
Ia juga merujuk pada laporan saluran televisi Israel Channel 10, yang mendokumentasikan bahwa Netanyahu telah lima kali menggagalkan upaya mencapai kesepakatan. Bahkan, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengakui bahwa Netanyahu menjadi penghalang tercapainya kesepakatan dan bersikeras memperpanjang perang.
Seruan kepada Komunitas Internasional
Mardawi menekankan bahwa rezim Zionis menjalankan kebijakan sistematis berupa kelaparan dan deprivasi terhadap rakyat Gaza. Menurutnya, Israel Katz, Menteri Perang Israel, dan pejabat lainnya secara terbuka menyatakan adopsi strategi ini.
Ia menambahkan bahwa Zionis mencegah masuknya konvoi bantuan ke Gaza, menghalangi distribusi bantuan, bahkan membentuk lembaga bernama Badan Kemanusiaan Gaza yang sejatinya merupakan organisasi teroris yang membantai warga sipil yang mencari bantuan.
“Pasukan pendudukan telah membombardir toko bahan makanan, sumur air, dan seluruh infrastruktur. Mereka menargetkan warga sipil yang berkumpul untuk menerima sedikit bantuan. Semua tindakan ini semakin memperburuk bencana kemanusiaan di Gaza,” tegasnya.
Mardawi juga mengutip laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang secara resmi menyatakan terjadinya kelaparan di Gaza. Ia menilai hal itu menuntut kecaman penuh terhadap penjajah yang menggunakan kelaparan sebagai senjata pemerasan politik terhadap bangsa Palestina.
Baca juga: Hamas, Jihad Islami Kutuk “Agresi Fasis” Israel terhadap Infrastruktur Sipil di Yaman
Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak sekadar mencatat laporan mengenai krisis kemanusiaan Gaza, tetapi juga melaksanakan tanggung jawab hukum dan kemanusiaan melalui langkah nyata dan segera guna menghentikan kelaparan serta genosida yang menimpa rakyat Palestina.
“Dunia hari ini menghadapi ujian nyata bagi kemanusiaan dan peradaban. Apa yang terjadi di Gaza harus dibalas dengan langkah-langkah sanksi terhadap penjajah. Komunitas internasional juga harus menekan Amerika Serikat agar menghentikan dukungannya terhadap kebijakan kriminal Netanyahu,” ujarnya.
Mardawi menutup dengan menegaskan bahwa perlawanan Palestina siap melangkah ke mana pun dan menghadapi rintangan apa pun demi menghentikan kejahatan penjajah terhadap rakyat Palestina serta mengakhiri perang kelaparan. “Mencapai kesepakatan komprehensif adalah hal yang mungkin, tetapi Netanyahu menjadi penghalangnya karena ingin memperpanjang perang demi tujuan politik dalam negeri.”


