Al-Quds, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina Hamas dan Jihad Islam mengecam serangan mematikan Israel terhadap ibu kota Yaman dan infrastruktur sipilnya, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional” serta sebagai harga yang harus dibayar karena membela Palestina.
Baca juga: Uni Eropa Nyatakan “Penyesalan Mendalam” atas Sanksi AS terhadap ICC
Dalam pernyataannya pada Minggu, Hamas menegaskan bahwa “agresi fasis” Israel terhadap Yaman dimaksudkan untuk menghentikan dukungan negara itu kepada rakyat Palestina.
“Agresi teroris Zionis terhadap Yaman yang bersaudara, yang menargetkan kawasan pemukiman dan sipil, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara Arab dan hukum internasional,” demikian isi pernyataan tersebut.
“Agresi fasis ini bertujuan untuk menghalangi Yaman dari mendukung rakyat Palestina yang tertindas,” tambahnya.
Kelompok perlawanan berbasis di Gaza itu menegaskan bahwa agresi tersebut menuntut sikap tegas dari bangsa Arab dan Islam dalam mendukung Yaman serta menunjukkan solidaritas dengan rakyat Palestina melawan kebrutalan Zionis dan tujuan kolonialnya, khususnya setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan keinginannya mewujudkan “ilusi Israel Raya” dengan merebut tanah-tanah Arab.
Hamas juga menyerukan negara-negara Arab dan Islam, bersama seluruh kekuatan merdeka, untuk “bergabung dalam jalan mulia ini demi mengakhiri pendudukan serta membebaskan situs-situs suci kami dan seluruh tanah Arab yang diduduki.”
Israel melancarkan serangan udara mematikan di Sana’a pada Minggu, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 86 lainnya.
Serangan juga menghantam pembangkit listrik Hazeiz dan fasilitas bahan bakar sipil, membuat sebagian wilayah ibu kota gelap gulita.
Israel mengklaim juga menyerang istana kepresidenan di Sana’a, dengan alasan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari “kompleks militer.”
Dalam pernyataan terpisah, Jihad Islam turut mengecam agresi Israel terhadap infrastruktur sipil serta penargetan terhadap para pemimpin Yaman.
Kelompok perlawanan itu menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan kejahatan perang yang sepenuhnya didukung Amerika Serikat.
“Rakyat Yaman membayar harga atas keteguhan mereka dalam mendukung rakyat Palestina dan atas upaya mereka menghentikan kejahatan di Jalur Gaza,” tambah pernyataan itu.
Baca juga: Pelapor Khusus PBB Desak Uni Eropa Tekan Israel Bebaskan Direktur RS Gaza
Dukungan terhadap Gaza Terus Berlanjut, “Apa pun Pengorbanannya”: Ansarallah
Menyusul agresi Israel, Mohammed al-Bukhaiti, anggota biro politik gerakan perlawanan Ansarallah, mengatakan:
“Agresi Israel terhadap Yaman tidak akan membuat kami berhenti mendukung Gaza, apa pun pengorbanannya.”
Ia menyatakan bahwa serangan rezim Israel terhadap Yaman merupakan reaksi langsung terhadap dampak serangan rudal hipersonik Yaman baru-baru ini ke wilayah pendudukan, dan menegaskan agresi itu “akan dibalas dengan lebih banyak operasi.”
Pada Minggu malam, kantor politik Ansarallah juga menyatakan bahwa agresi rezim Israel terhadap Yaman adalah “upaya putus asa untuk menghalangi bangsa dan angkatan bersenjata Yaman dari terus membantu Jalur Gaza.”
Pernyataan itu menyebut berlanjutnya kejahatan perang rezim Zionis sebagai upaya meraih “kemenangan simbolis” sekaligus bukti kegagalan intelijen dan ketidakmampuan menghadapi operasi militer Yaman.
“Yaman berjanji tidak akan menahan diri dari tindakan apa pun dalam kerangka membela kedaulatannya sebagai tanggapan atas agresi musuh,” tutup pernyataan itu.
Serangan udara Israel pada Minggu terjadi hanya dua hari setelah Angkatan Bersenjata Yaman menembakkan rudal hipersonik dan beberapa drone yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam target penting di wilayah pendudukan.
Sejak Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023, pasukan Yaman telah melakukan puluhan serangan balasan sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina, serta memberlakukan blokade laut yang melumpuhkan ekonomi Israel. Mereka menegaskan tidak akan berhenti hingga perang dan blokade atas Jalur Gaza berakhir.


