New York, Purna Warta – Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, mendesak para pemimpin Uni Eropa agar menekan Israel demi pembebasan Abu Safiya, yang hingga kini ditahan tanpa dakwaan.
Baca juga: Hamas: Netanyahu Halangi Kesepakatan Gencatan Senjata untuk Hentikan Genosida di Gaza
Dalam unggahannya di media sosial pada Minggu, Pelapor Khusus PBB itu menyampaikan seruan tersebut di tengah berlanjutnya penahanan Abu Safiya oleh Israel.
Abu Safiya diculik pada 27 Desember 2024 ketika pasukan Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, memaksa pasien dan staf medis untuk mengungsi, sementara sebagian lainnya ditahan.
Militer Israel menyatakan bahwa dokter berusia 51 tahun itu ditahan untuk diinterogasi terkait dugaan keterkaitan dengan gerakan perlawanan Palestina, Hamas. Ia dilaporkan ditahan di penjara militer Sde Teiman, yang dikenal memiliki catatan praktik penyiksaan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama sejumlah badan PBB menyebut hingga kini mereka belum menerima informasi mengenai keselamatan Abu Safiya sejak ia ditahan.
Awal tahun ini, pengacara Abu Safiya mengungkap bahwa kliennya mengalami perlakuan buruk di tahanan Israel. Keluarganya juga melaporkan bahwa ia menghadapi kondisi yang sangat keras pada hari-hari awal penahanan, termasuk 24 hari kurungan isolasi, sebelum dipindahkan ke Penjara Ofer di Tepi Barat yang diduduki, tempat ia masih mengalami perlakuan tidak layak.
Keluarganya menyerukan kepada komunitas internasional agar menekan Israel untuk memberikan makanan dan perawatan medis yang memadai serta menuntut pembebasannya segera.
Organisasi kemanusiaan dan kelompok hak asasi manusia telah menuntut intervensi internasional guna memastikan pembebasan Abu Safiya dan seluruh tenaga medis yang ditahan, sambil menegaskan pentingnya perlindungan bagi pekerja kesehatan dan penghormatan terhadap hak-hak mereka.
Dalam pernyataannya, Albanese—seorang pengacara dan akademisi asal Italia—juga menyerukan kepada 27 negara anggota Uni Eropa agar turun tangan dan memperjuangkan kebebasan bagi ribuan tahanan Palestina lain yang ditahan Israel.
Menurut sumber media Gaza, sedikitnya 5.000 warga Palestina telah diculik sejak Oktober 2023, bertepatan dengan agresi militer paling intens Israel di wilayah yang diblokade tersebut. Nasib serta kondisi banyak dari para tahanan ini masih belum diketahui.
Klub Tahanan Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel juga telah menangkap sedikitnya 12.100 warga Palestina di Tepi Barat sejak Oktober 2023, belum termasuk ribuan lainnya yang ditahan di Gaza.
Baca juga: Hamas: Netanyahu Halangi Kesepakatan Gencatan Senjata untuk Hentikan Genosida di Gaza
Sementara itu, kelompok HAM Israel B’Tselem sebelumnya menegaskan bahwa otoritas Israel secara sistematis menyiksa warga Palestina di kamp-kamp penjara baru yang didirikan setelah operasi Al-Aqsa pada 7 Oktober, termasuk melakukan kekerasan brutal dan pelecehan seksual.
Kelompok-kelompok HAM menekankan bahwa gelombang penangkapan ini diiringi dengan peningkatan kekerasan, pemukulan parah, serta ancaman verbal maupun fisik terhadap para tahanan dan keluarga mereka.


