Pasukan Israel Perketat Pengepungan Desa al-Mughayyir di Tepi Barat

Israel

Gaza, Purna Warta – Pasukan Israel memperketat pengepungan terhadap desa al-Mughayyir di Tepi Barat yang diduduki untuk hari keempat berturut-turut, dengan meningkatkan penggerebekan rumah, penangkapan warga, serta penghancuran lahan pertanian.

Baca juga: TikTok Larang Sebutan “Teroris” bagi Pasukan Israel Setelah Rekrut Mantan Serdadu Zionis

Aktivis lokal, Mohammed Abu Alia, mengatakan pasukan menyerbu lebih dari 30 rumah, mengacak-acak barang-barang, dan menembakkan gas air mata ke dalam salah satu rumah. Ia menambahkan, tentara juga menyita kendaraan, uang tunai, serta perhiasan, sambil melarang penduduk maupun jurnalis masuk ke desa. Banyak keluarga pun terdampar di luar sejak Kamis.

Buldoser Israel terlihat meratakan tanah di pinggiran timur desa untuk membuka jalan baru bagi para pemukim, sekaligus mencabut ratusan pohon dalam prosesnya.

Penggerebekan ini dilakukan setelah klaim bahwa seorang pemukim ilegal terluka dalam aksi tembak di sebuah pos permukiman yang dibangun di atas tanah desa al-Mughayyir.

Ketua Dewan Nasional Palestina, Rawhi Fattouh, mengecam serangan tersebut sebagai bagian dari “kebijakan sistematis pengusiran paksa dan pembersihan etnis.” Ia menegaskan kekerasan di al-Mughayyir terkait langsung dengan agenda permukiman Israel yang lebih luas, termasuk rencana kontroversial E1 di sebelah timur al-Quds, yang dinilai akan memutus Tepi Barat dan menggagalkan terbentuknya negara Palestina yang layak.

Wakil Kepala Dewan Desa al-Mughayyir, Marzouq Abu Naim, menyebut pasukan Israel masih menutup total semua pintu masuk desa, mendirikan pos-pos pemeriksaan militer, serta memaksa penutupan sejumlah usaha penting, termasuk toko roti dan apotek. Ambulans juga dilarang keluar atau masuk desa, hingga perempuan hamil terpaksa berjalan kaki ke pos pemeriksaan untuk kemudian menuju desa tetangga demi mendapat perawatan.

“Ini tidak terpisah dari apa yang terjadi di Gaza; genosida, pengepungan, dan kelaparan adalah bagian dari kampanye yang sama terhadap rakyat Palestina,” ujar Fattouh dalam sebuah pernyataan, sambil mendesak adanya tindakan internasional untuk meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel.

Pasukan Israel juga mencabut ribuan pohon zaitun di sekitar jalan permukiman yang mengelilingi desa. Militer bahkan memberi tahu dewan desa bahwa pohon-pohon itu akan dimusnahkan dengan dalih “keamanan.”

Baca juga:  Normalisasi Hubungan dengan Israel; Perlawanan Suriah Bangkit dari Puncak Jabal Syeikh

Abu Naim menegaskan Israel tengah melakukan bentuk “balas dendam kolektif” terhadap warga desa, menyusul maraknya beredarnya gambar dan rekaman aktivitas pencabutan pohon oleh tentara dan pemukim.

Sejak melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023, Israel juga meningkatkan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, menewaskan sedikitnya 1.014 warga Palestina dan melukai lebih dari 7.000 orang.

Pada Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan bahwa pendudukan Israel selama puluhan tahun atas tanah Palestina adalah ilegal, dan menuntut evakuasi seluruh permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur (al-Quds).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *