Begini Penyebab Angka Pengangguran di Indonesia Tetap Tinggi

Jakarta, Purna Warta – Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2025 menurun menjadi 4,76% dari tahun sebelumnya, jumlah pengangguran masih mencapai 7,28 juta orang. Menurut Prof. Alla Asmara, pakar dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, tingginya angka pengangguran ini disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks.

Baca juga: PAN Dukung Pemberian Amnesti dan Abolisi Presiden Prabowo demi Persatuan Nasional

“Perkembangan kondisi makro ekonomi merupakan faktor fundamental yang mempengaruhi penciptaan lapangan kerja,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University pada Sabtu (2/8/2025).

Prof. Alla menjelaskan bahwa penyebab utama sulitnya mencari pekerjaan adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi serta ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran di pasar tenaga kerja. Penurunan belanja pemerintah dan melemahnya daya beli masyarakat juga turut berkontribusi.

Kondisi ini terlihat pada kuartal pertama 2025, di mana perlambatan ekonomi menyebabkan tekanan pada banyak sektor usaha. “Akibatnya, sejumlah sektor usaha mengalami tekanan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Alla juga menyoroti ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia kerja dan ketersediaan lapangan kerja. Jutaan calon tenaga kerja baru setiap tahunnya tidak mendapatkan lowongan yang memadai. “Ini menyebabkan banyak posisi tetap kosong, sementara angka pengangguran tidak kunjung menurun,” tambah Prof. Alla.

Selain itu, digitalisasi juga berperan dalam meningkatnya pengangguran. Meskipun teknologi digital membantu efisiensi, banyak perusahaan melakukan PHK karena tenaga manusia dapat digantikan oleh teknologi yang lebih ringkas. Sektor-sektor seperti perbankan, manufaktur, dan ritel telah banyak mengadopsi layanan mandiri berbasis teknologi.

Menurut Prof. Alla, pengangguran akan terus meningkat jika transformasi digital tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru.

Baca juga: Anies Baswedan Jenguk Tom Lembong di Rutan Cipinang Usai Dapat Abolisi dari Presiden

“Jika transformasi digital ini tidak diimbangi dengan penciptaan jenis pekerjaan baru, seperti di bidang teknologi, digital marketing, atau ekonomi kreatif, maka angka pengangguran akan sulit untuk dikurangi. Karena itu, keterampilan digital masyarakat harus ditingkatkan,” tegasnya.

Untuk menekan angka pengangguran, Prof. Alla menawarkan beberapa solusi. Ia menekankan bahwa masalah ini harus segera diatasi karena dapat memicu dampak buruk seperti kemiskinan dan kriminalitas.

Menurutnya, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan perlu bekerja sama untuk menciptakan lapangan kerja, memperbanyak pelatihan vokasi, merevitalisasi pendidikan, serta memperkuat usaha mikro dan ekonomi kreatif.

“Jika kita tidak segera berbenah dan menyesuaikan diri dengan perubahan global, tantangan pengangguran akan semakin kompleks. Kita butuh kerja sama menyeluruh untuk membangun pasar kerja yang inklusif dan tangguh terhadap krisis,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *