Al-Quds, Purna Warta – Sebuah laporan dari lembaga riset Israel menunjukkan adanya peningkatan tren emigrasi (migrasi keluar) dari wilayah pendudukan Palestina serta penurunan jumlah pendatang baru ke Israel di tengah dampak perang berkepanjangan dan berbagai krisis sosial-ekonomi.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Taub Center for Social Policy Studies in Israel, sejak tahun 2022 Israel mengalami peningkatan berkelanjutan dalam tingkat emigrasi di kalangan warga Israel yang lahir di wilayah tersebut. Tingkat emigrasi selama tiga tahun terakhir disebut telah melampaui seluruh angka yang tercatat pada dekade sebelumnya.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa tahun 2025 mencatat salah satu tingkat imigrasi ke Israel yang terendah sejak 2014. Kondisi ini dinilai mencerminkan menurunnya daya tarik Israel bagi para imigran, bersamaan dengan meningkatnya fenomena migrasi balik (reverse migration).
Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa untuk tahun kedua berturut-turut Israel memasuki fase peningkatan migrasi keluar, di mana jumlah orang yang meninggalkan wilayah pendudukan melebihi jumlah mereka yang datang atau kembali menetap.
Laporan itu mengaitkan fenomena tersebut dengan dampak perang yang masih berlangsung, tekanan ekonomi, berkurangnya peluang kerja, meningkatnya tingkat kemiskinan, perasaan keterasingan sosial, serta semakin lebarnya kesenjangan dalam masyarakat Israel.
Fakta dan Laporan Terkait
Sejumlah lembaga penelitian dan media Israel dalam beberapa tahun terakhir telah memperingatkan tentang meningkatnya minat sebagian warga Israel untuk mencari peluang tinggal dan bekerja di luar negeri. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Portugal termasuk tujuan yang sering disebut oleh warga Israel yang memiliki kewarganegaraan ganda atau akses terhadap paspor asing.
Sejak peristiwa 7 Oktober 2023 dan konflik yang berlanjut di Gaza, Lebanon, serta berbagai front regional lainnya, sejumlah survei di Israel menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terkait keamanan jangka panjang, biaya hidup yang tinggi, dan ketidakpastian politik. Faktor-faktor tersebut disebut turut memengaruhi keputusan sebagian warga untuk mempertimbangkan relokasi ke luar negeri.
Selain itu, Israel juga menghadapi tantangan ekonomi berupa meningkatnya beban anggaran pertahanan, perlambatan di beberapa sektor ekonomi, serta kekurangan tenaga kerja akibat mobilisasi militer yang berkepanjangan. Sejumlah analis Israel menilai bahwa jika kondisi keamanan dan politik tidak membaik, tren emigrasi dapat terus berlanjut dan berdampak pada pasar tenaga kerja serta pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Meski demikian, pemerintah Israel secara konsisten berupaya mempertahankan tingkat imigrasi Yahudi melalui berbagai program insentif, bantuan pemukiman, dan dukungan integrasi bagi pendatang baru, yang selama ini menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan demografi negara tersebut.


