Tehran, Purna Warta – Presiden Masoud Pezeshkian menekankan pentingnya komitmen terhadap kewajiban yang telah disepakati demi kemajuan pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai implementasi sebuah nota kesepahaman (MoU) yang baru ditandatangani.
“Efektivitas pembicaraan bergantung pada komitmen penuh terhadap kewajiban yang telah disepakati dan pelaksanaannya secara tepat,” tulis kepala eksekutif tersebut dalam sebuah unggahan di X pada hari Selasa.
“Kemajuan dalam jalur ini akan diukur melalui kepatuhan praktis terhadap tanggung jawab yang telah diterima,” katanya, seraya menambahkan, “Pernyataan di luar teks yang disepakati tidak membantu memajukan negosiasi.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah berulangnya komentar dari pejabat Amerika, termasuk Presiden Donald Trump, mengenai dugaan cakupan pembicaraan dan isinya.
Republik Islam Iran berulang kali menolak wacana yang dianggap kontraproduktif tersebut, serta membantah tuduhan bahwa Iran menyetujui ketentuan di luar ruang lingkup kesepakatan 14 poin itu.
Pembicaraan dimulai pada hari Minggu di Swiss untuk membahas cara implementasi MoU yang dimediasi Pakistan tersebut.
Nota kesepahaman itu baru-baru ini ditandatangani oleh presiden Iran dan Amerika dengan tujuan mengakhiri siklus yang timbul dari gelombang terbaru agresi tak beralasan Amerika–Israel, yang mulai menargetkan Republik Islam pada 28 Februari.
Delegasi Iran yang mewakili negara tersebut dalam proses itu meninggalkan Zurich pada hari Senin, dengan Republik Islam menekankan pentingnya kerangka “komitmen untuk komitmen” sebagai satu-satunya cara untuk memastikan keberhasilan pembicaraan.
Menanggapi berakhirnya tahap terbaru, yang akan diikuti oleh diskusi tingkat pakar, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ismail Baghaei menegaskan, “Iran akan memantau pelaksanaan kewajiban pihak lain dan menggunakan seluruh pengaruhnya untuk memastikan kewajiban tersebut dipenuhi.”


