Warga Gaza Rayakan Gencatan Senjata Meski Serangan Berkelanjutan dan Ketidakpastian

Gaza, Purna Warta – Perayaan meletus di Gaza pada Minggu pagi saat gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku setelah penundaan dan meningkatnya ketegangan, memberikan warga secercah kelegaan setelah berbulan-bulan kekerasan Israel.

Baca juga: Serangan Militer Israel di Jenin Tewaskan Dua Warga Palestina, Puluhan Terluka

Saat jam menunjukkan pukul 8:30 pagi, tanda-tanda kegembiraan menyebar di Jalur Gaza. Kembang api menerangi langit, dan tembakan perayaan bergema di seluruh lingkungan, menandai momen yang relatif tenang setelah berbulan-bulan perang yang intens.

“Warga di sini berharap akan lebih banyak stabilitas dan keamanan saat gencatan senjata dimulai,” kata Hani Mahmoud, melaporkan dari Deir el-Balah.

Meskipun ada kelegaan sesaat, bekas luka perang masih terlihat jelas. Tembakan artileri berat masih dapat terdengar beberapa menit sebelum gencatan senjata. Insiden tragis juga terjadi, termasuk ledakan di sebuah rumah yang dipenuhi bahan peledak di Gaza utara, yang mengakibatkan banyak anggota keluarga terluka.

Kendala logistik yang terus berlanjut telah menunda penyelesaian perjanjian gencatan senjata. Pejabat Hamas menyebutkan kesulitan teknis, termasuk koordinasi rumit yang diperlukan untuk menentukan lokasi tawanan.

Untuk mempersiapkan gencatan senjata, masa tenang diminta agar Hamas dan faksi lain dapat menyelesaikan rincian, termasuk penyusunan nama-nama tawanan.

Laporan menunjukkan bahwa pasukan Israel melakukan serangan tambahan di Khan Younis, Rafah, dan bagian lain Jalur Gaza pada pagi hari, tanpa ada informasi langsung mengenai korban. Sebuah gudang di Deir el-Balah juga menjadi sasaran.

Rencana gencatan senjata mencakup pertukaran tahanan yang akan dimulai pukul 4 sore waktu setempat, dengan Hamas membebaskan tiga tawanan wanita sebagai ganti 95 warga Palestina, terutama wanita dan anak-anak, yang ditahan di penjara Israel. Pertukaran tersebut akan difasilitasi oleh Palang Merah.

Berdasarkan perjanjian tersebut, pasukan Israel akan ditarik dari daerah berpenduduk, mundur ke zona penyangga sepanjang satu kilometer di sepanjang perbatasan Gaza. Koresponden melaporkan tahap awal penarikan pasukan dari Rafah.

Sementara itu, militer Israel telah mengedarkan peta yang memperingatkan penduduk agar tidak mendekati zona dekat tentara, seperti persimpangan Netzarim dan Koridor Philadelphi.

Baca juga: Pemukim Israel Lakukan Pembakaran, Vandalisme dalam Serangan Tepi Barat

Situasi kemanusiaan masih mengerikan, meskipun bantuan mungkin akan segera tiba. Israel berencana untuk melonggarkan blokade dan mengizinkan 600 truk yang membawa bantuan penting masuk ke Gaza. Badan-badan kemanusiaan, termasuk PBB, telah mengonfirmasi kesiapan untuk mempercepat pasokan makanan, air, dan obat-obatan ke daerah kantong tersebut.

Meskipun langit di atas Gaza sekarang lebih tenang, beban psikologis dan fisik perang Israel terus membebani penduduknya. Banyak penyintas berduka atas orang-orang terkasih yang hilang selama pertempuran, sementara yang lain menunggu kesempatan untuk kembali ke rumah mereka dan memulai proses pembangunan kembali yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *