New York, Purna Warta – Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa Tepi Barat yang diduduki tengah menghadapi krisis kemanusiaan paling parah sejak tahun 1967. Peringatan ini disampaikan menyusul meluasnya pengungsian dan kehancuran di kamp-kamp pengungsi akibat serangan militer Israel yang terus berlanjut.
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, dalam pernyataannya di platform X pada Jumat mengatakan bahwa sekitar 33.000 warga Palestina masih terusir secara paksa dari kamp-kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat, satu tahun setelah Israel melancarkan ofensif militernya yang dikenal dengan nama “Iron Wall”.
“Pasukan Israel telah menghancurkan sebagian besar area kamp, yang secara signifikan mengurangi peluang komunitas-komunitas ini untuk pulih,” ujarnya.
Lazzarini menegaskan bahwa tim UNRWA saat ini memberikan bantuan darurat kepada para pengungsi baru yang semakin terdorong ke jurang kemiskinan dan menghadapi ketiadaan alternatif yang layak untuk layanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan UNRWA untuk terus beroperasi di Tepi Barat sangat bergantung pada dukungan politik dan pendanaan yang berkelanjutan dari negara-negara anggota PBB, di tengah meningkatnya kebutuhan kemanusiaan dan bertambahnya berbagai kendala operasional.
Dalam sepekan terakhir, pasukan Israel telah meningkatkan serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan al-Quds, dengan melakukan 1.024 pelanggaran, termasuk pembunuhan, penangkapan, penggerebekan rumah, serta serangan terhadap properti dan tempat-tempat ibadah.
Data Palestina menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, pasukan Israel dan pemukim ilegal telah membunuh sedikitnya 1.108 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk al-Quds Timur, melukai hampir 11.000 orang, dan menahan sekitar 21.000 warga Palestina.
Secara terpisah pada Jumat, pemukim ilegal Israel kembali melakukan perusakan terhadap sebuah masjid di wilayah utara Tepi Barat, yang menjadi bagian dari rangkaian serangan terhadap situs keagamaan dan properti milik warga Palestina.
Kantor Berita Resmi Palestina, Wafa, mengutip Koordinator Pertahanan Lahan setempat, Thaer Hanani, melaporkan bahwa para pemukim menyerbu Masjid Beit al-Sheikh di wilayah Khirbet Tana, sebelah timur Nablus, merusak bagian dalam masjid dan memaksa para jamaah melaksanakan salat Jumat di luar ruangan.
Hanani menambahkan bahwa para pemukim juga merusak pagar di sekitar kebun-kebun di sekitarnya untuk membiarkan ternak merumput bebas, yang mengakibatkan kerusakan pada pohon-pohon zaitun milik warga Palestina.
Ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan bagian dari serangan berkelanjutan yang bertujuan mencegah warga kembali ke Khirbet Tana, yang penduduknya diusir secara paksa pada awal tahun lalu.
Saat ini, lebih dari 700.000 warga Israel tinggal di lebih dari 230 permukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel atas Tepi Barat dan al-Quds Timur pada tahun 1967.
Masyarakat internasional memandang permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional dan Konvensi Jenewa karena dibangun di wilayah pendudukan. Dewan Keamanan PBB telah berulang kali mengecam aktivitas permukiman Israel melalui sejumlah resolusi.


