Imam Khomeini: Arsitek Kebangkitan Islam dan Perlawanan Global terhadap Imperialisme

Imam Khumaeni

Tehran, Purna Warta – Tiga puluh tujuh tahun setelah wafatnya, nama Imam Ruhullah Musawi Khomeini tetap bergema jauh melampaui perbatasan Iran sebagai arsitek utama kebangkitan Islam dan simbol global perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan arogan Barat.

Dihormati oleh jutaan orang sebagai pendiri dan pemimpin Revolusi Islam Iran tahun 1979, Imam Khomeini secara fundamental mengubah bukan hanya arah politik Iran, tetapi juga lanskap intelektual dan geopolitik dunia Islam secara keseluruhan.

Gerakan revolusionernya berhasil menggulingkan salah satu monarki sekutu paling setia Washington di Asia Barat, menghancurkan fondasi hegemoni Barat di kawasan tersebut, dan memperkenalkan wacana politik baru yang berakar pada kemandirian Islam, perlawanan terhadap imperialisme dan Zionisme, serta kedaulatan rakyat yang autentik.

Imam Khomeini muncul pada masa ketika nasionalisme sekuler dan ideologi impor dipandang sebagai satu-satunya jalan yang memungkinkan bagi negara-negara berkembang, serta ketika banyak pihak meyakini bahwa agama tidak memiliki tempat dalam pemerintahan modern.

Menentang asumsi-asumsi tersebut, beliau membangun dan menjelaskan sebuah kerangka revolusioner yang memadukan spiritualitas dengan politik, identitas keagamaan dengan mobilisasi massa, serta perjuangan anti-imperialisme dengan pemerintahan Islam.

Kepemimpinannya memberdayakan jutaan rakyat Iran untuk bangkit melawan monarki Pahlavi yang tidak populer dan didukung Barat. Selanjutnya, perjuangannya menginspirasi bangsa-bangsa tertindas dan gerakan perlawanan di seluruh dunia untuk menentang dominasi serta pendudukan asing.

Warisannya tidak hanya terbatas pada Republik Islam yang beliau dirikan. Dari Palestina dan Lebanon hingga Amerika Latin, Afrika, dan Asia, gagasan-gagasannya membantu membentuk poros perlawanan yang hidup terhadap kolonialisme, Zionisme, dan kesombongan global.

Dengan berani beliau menyerukan persatuan umat Islam, membela kaum tertindas tanpa memandang mazhab maupun etnis, mengangkat peran perempuan dalam kehidupan politik dan sosial, serta terus menekankan pentingnya kemandirian budaya dan kepercayaan pada kemampuan sendiri.

Pada peringatan ke-37 wafatnya, Imam Khomeini tidak hanya dipandang sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai kekuatan hidup dalam kesadaran politik global—simbol abadi keberanian, martabat, dan kebangkitan Islam.

Munculnya Seorang Ulama Revolusioner

Lahir pada tahun 1902 di kota Khomein, Iran tengah, Imam Khomeini dibesarkan dalam keluarga religius yang dikenal memiliki tradisi keilmuan dan perjuangan.

Sejak usia dini, beliau menunjukkan kecerdasan intelektual dan kedisiplinan spiritual yang luar biasa. Beliau menempuh studi mendalam dalam bidang fikih Islam, filsafat, irfan (mistisisme), akhlak, dan pemikiran politik hingga akhirnya menjadi salah satu ulama Syiah paling terkemuka pada generasinya.

Namun Imam Khomeini tidak membatasi dirinya pada ruang lingkup tradisional kehidupan ulama. Ketika Iran semakin terjerumus ke dalam otoritarianisme di bawah monarki Pahlavi yang didukung Barat, beliau tampil sebagai suara politik yang lantang menentang tirani, korupsi, dan dominasi asing.

Kebijakan westernisasi agresif rezim Pahlavi, hubungan eratnya dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, penindasan sistematis terhadap lembaga-lembaga keagamaan, serta pengikisan kedaulatan nasional yang terus berlangsung menimbulkan keprihatinan mendalam bagi Imam Khomeini.

Titik balik terjadi pada awal 1960-an ketika Syah meluncurkan program yang disebut “Revolusi Putih”, sebuah proyek yang didukung kuat oleh Washington.

Imam Khomeini mengecam program tersebut sebagai sarana untuk memperkuat kediktatoran dan meningkatkan ketergantungan Iran terhadap kekuatan asing. Pidato-pidatonya yang berapi-api melawan Syah dan para pendukung Amerikanya mengguncang masyarakat Iran dan menjadikannya tokoh utama oposisi terhadap rezim.

Penangkapannya pada tahun 1963 memicu gelombang protes nasional yang ditumpas secara brutal. Namun penindasan itu justru semakin mengangkat kedudukannya di mata rakyat.

Setahun kemudian, setelah beliau mengecam keras undang-undang yang memberikan kekebalan hukum kepada personel militer Amerika di Iran, beliau diasingkan ke luar negeri. Apa yang dianggap rezim sebagai cara untuk membungkamnya justru menjadikan suaranya semakin bergema di seluruh dunia Islam.

Pengasingan dan Pembangunan Gerakan Revolusioner

Imam Khomeini menjalani masa pengasingan selama bertahun-tahun—pertama di Turki, kemudian di Irak, dan akhirnya di Prancis. Namun pengasingan itu justru menjadi tempat lahirnya gerakan revolusioner global.

Melalui rekaman ceramah, pesan-pesan tertulis, dan jaringan luas para murid serta aktivis di Iran, beliau tetap mempertahankan pengaruh langsung terhadap masyarakat Iran.

Berbeda dengan banyak tokoh oposisi yang hanya berfokus pada penggantian Syah, Imam Khomeini menawarkan visi politik yang komprehensif bagi negara. Beliau menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi sistem kehidupan yang lengkap, mampu mengelola masyarakat, menegakkan keadilan, dan melawan segala bentuk penindasan.

Doktrin Wilayatul Faqih (Kepemimpinan Fakih) yang beliau rumuskan menjadi landasan intelektual bagi pemerintahan Islam yang dipimpin seorang fakih yang memenuhi syarat pada masa ghaibnya Imam Mahdi AS.

Konsep tersebut menawarkan alternatif politik yang bersumber dari tradisi Islam sendiri, berbeda dari monarki maupun sekularisme Barat, serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat dan kebangkitan Islam.

Lebih dari itu, Imam Khomeini mengubah perjuangan melawan monarki Syah menjadi gerakan moral dan spiritual. Beliau menghubungkan perlawanan politik kontemporer dengan warisan Imam Husain AS dan tragedi Karbala yang abadi, sehingga perjuangan melawan kezaliman dipandang sebagai kewajiban suci umat.

Asyura kemudian menjadi jantung mobilisasi revolusioner. Imam Khomeini berulang kali menegaskan:

“Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala.”

Ungkapan ini memberikan kekuatan emosional luar biasa bagi revolusi dan melahirkan budaya pengorbanan serta keteguhan yang hingga kini menjadi ciri khas Republik Islam Iran dan berbagai gerakan perlawanan.

Kembalinya Sang Imam dan Runtuhnya Monarki

Pada tanggal 1 Februari 1979, setelah lima belas tahun hidup dalam pengasingan, Imam Khomeini kembali ke Iran dan disambut oleh lautan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Jutaan rakyat memenuhi jalan-jalan Teheran untuk menyambut kepulangannya. Pemandangan tersebut mengejutkan media-media internasional yang sebelumnya meremehkan popularitas Imam Khomeini maupun kekuatan gerakan revolusi yang dipimpinnya.

Kepulangan beliau bukan sekadar kembalinya seorang pemimpin yang diasingkan. Peristiwa itu menjadi simbol perubahan besar dalam tatanan geopolitik Asia Barat.

Monarki Pahlavi yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu sekutu paling stabil dan paling kuat dari hegemoni Amerika di kawasan runtuh hanya dalam hitungan hari.

Pemerintah-pemerintah Barat benar-benar tidak siap menghadapi perubahan tersebut. Selama beberapa dekade mereka memandang Iran sebagai pilar utama pengaruh Amerika Serikat di kawasan. Revolusi rakyat yang dipimpin Imam Khomeini menghancurkan asumsi tersebut dan menggantikan monarki pro-Barat dengan sebuah negara Islam independen yang secara terbuka menentang imperialisme Barat dan Zionisme.

Kebangkitan Imam Khomeini juga mengubah kosakata politik dunia Islam. Istilah-istilah seperti kemerdekaan, perlawanan, penentuan nasib sendiri, dan pemerintahan Islam menjadi tema sentral dalam percaturan politik kawasan.

Menantang Hegemoni Barat

Salah satu warisan paling abadi dari Imam Khomeini adalah sikapnya yang tegas dan tidak kompromistis terhadap dominasi Barat.

Beliau berulang kali menegaskan bahwa banyak negara Muslim tidak hanya menderita akibat korupsi internal, tetapi juga karena ketergantungan yang mendalam kepada kekuatan asing.

Revolusi Islam secara langsung menantang pengaruh Amerika Serikat di Asia Barat. Sebelum revolusi, Iran di bawah Syah berfungsi sebagai “polisi kawasan” bagi Washington yang menjaga kepentingan strategis dan ekonomi Barat.

Revolusi Islam 1979 mengakhiri peran tersebut secara total.

Imam Khomeini menggambarkan Amerika Serikat sebagai pendukung utama kediktatoran, eksploitasi, dan ekspansi Zionis di kawasan. Sebutan terkenalnya terhadap Amerika sebagai:

“Setan Besar” (The Great Satan)

mencerminkan kritik yang lebih luas terhadap imperialisme dan ketidakadilan global.

Yang membedakan anti-imperialisme Imam Khomeini dari banyak gerakan lain adalah keterkaitannya dengan identitas keagamaan.

Beliau meyakini bahwa kemerdekaan politik tanpa kedaulatan budaya dan intelektual adalah kemerdekaan yang tidak sempurna.

Menurut beliau, umat Islam harus membebaskan diri bukan hanya dari pendudukan asing, tetapi juga dari ketergantungan intelektual terhadap model-model Barat.

Pesan ini mendapat sambutan luas di dunia berkembang. Banyak gerakan revolusioner, aktivis anti-kolonial, dan masyarakat tertindas memandang Iran sebagai contoh nyata keberhasilan melawan sistem yang didukung oleh kekuatan adidaya.

Palestina di Jantung Pemikiran Imam Khomeini

Salah satu pilar utama pandangan dunia Imam Khomeini adalah dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap Palestina.

Beliau tidak memandang perjuangan Palestina sebagai sekadar sengketa wilayah, melainkan sebagai persoalan moral dan peradaban yang menyangkut seluruh dunia Islam.

Imam Khomeini berulang kali mengecam rezim Israel sebagai rezim pendudukan yang tidak sah dan dibentuk melalui dukungan kekuatan kolonial seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Salah satu tindakan paling awal dan paling penting setelah kemenangan Revolusi Islam adalah pemutusan hubungan dengan Israel dan penyerahan bekas Kedutaan Besar Israel di Teheran kepada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Beliau juga melembagakan dukungan terhadap Palestina melalui pencanangan Hari Quds Internasional, yang diperingati setiap Jumat terakhir bulan Ramadan.

Hari Quds mengubah solidaritas terhadap Palestina menjadi gerakan global dan menjaga isu Palestina tetap hidup dalam kesadaran politik dunia.

Lebih penting lagi, pemikiran Imam Khomeini menginspirasi munculnya berbagai gerakan perlawanan di kawasan, khususnya di Palestina dan Lebanon.

Kelompok-kelompok yang kemudian menjadi bagian dari Poros Perlawanan (Axis of Resistance) banyak mengambil inspirasi dari doktrin keteguhan, pengorbanan, dan perjuangan melawan pendudukan yang diajarkan Imam Khomeini.

Hingga saat ini, ketahanan berbagai gerakan perlawanan Palestina dan jaringan perlawanan regional tidak dapat dipisahkan dari fondasi ideologis yang beliau letakkan.

Persatuan Umat Islam Melampaui Sekat Mazhab

Imam Khomeini secara konsisten memperingatkan bahaya sektarianisme dan perpecahan di dunia Islam.

Beliau meyakini bahwa kekuatan-kekuatan kolonial selama berabad-abad memanfaatkan perbedaan mazhab untuk melemahkan umat Islam dan mempertahankan dominasi mereka.

Alih-alih menonjolkan identitas sektarian, beliau menyerukan persatuan berdasarkan prinsip-prinsip Islam dan kepentingan bersama umat.

Beliau berulang kali mengajak kaum Sunni dan Syiah untuk bersatu serta mengecam segala upaya yang bertujuan mengobarkan konflik mazhab.

Salah satu inisiatif pentingnya adalah penetapan Pekan Persatuan Islam, yaitu periode antara tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW menurut riwayat Sunni dan Syiah.

Langkah tersebut mencerminkan visi beliau yang lebih luas untuk melampaui batas-batas sektarian.

Bagi Imam Khomeini, persatuan bukan hanya persoalan teologis, melainkan kebutuhan strategis.

Beliau meyakini bahwa umat Islam yang terpecah tidak akan mampu melawan dominasi asing ataupun membela kaum tertindas.

Karena itu, konsep persatuan kemudian menjadi salah satu fondasi penting Poros Perlawanan yang terdiri dari berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda, namun bersatu dalam menentang pendudukan dan imperialisme.

Perempuan dalam Transformasi Revolusioner

Berlawanan dengan berbagai tuduhan media Barat, Imam Khomeini memberikan perhatian besar terhadap peran perempuan dalam masyarakat.

Beliau memandang perempuan sebagai bagian penting dari transformasi politik, sosial, dan budaya.

Perempuan memainkan peran yang sangat besar dalam Revolusi Islam, mulai dari demonstrasi, aktivitas politik, pendidikan, hingga pembangunan negara pasca revolusi.

Imam Khomeini berulang kali memuji kontribusi mereka dan menegaskan bahwa sebuah masyarakat tidak dapat maju jika mengabaikan setengah dari potensi manusianya.

Pandangannya berbeda dari feminisme liberal Barat maupun pola patriarki tradisional.

Beliau mendukung kehormatan, pendidikan, partisipasi sosial, dan keterlibatan politik perempuan dalam kerangka nilai-nilai Islam.

Di bawah Republik Islam, perempuan memperluas kehadiran mereka di universitas, dunia profesional, penelitian ilmiah, dan bidang politik.

Revolusi Islam menjadikan perempuan sebagai salah satu aktor utama dalam kehidupan publik Iran.

Pendekatan Imam Khomeini mencerminkan keyakinannya bahwa modernisasi tidak harus berarti meniru model budaya Barat.

Perang yang Dipaksakan, Globalisasi Perlawanan, dan Warisan Abadi Imam Khomeini

Hanya beberapa bulan setelah Revolusi Islam berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya, Iran menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah modernnya.

Pada September 1980, rezim Ba’ath Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein melancarkan invasi militer besar-besaran terhadap Iran dengan dukungan politik, finansial, dan militer dari sejumlah negara Barat serta beberapa negara regional.

Perang yang berlangsung selama delapan tahun itu dikenal di Iran sebagai Defa’-e Moqaddas (Pertahanan Suci) atau Perang yang Dipaksakan.

Imam Khomeini memandang perang tersebut bukan sekadar konflik perbatasan, melainkan perjuangan mempertahankan Islam, kemerdekaan nasional, dan identitas revolusioner bangsa Iran.

Meskipun menghadapi embargo senjata, tekanan ekonomi, isolasi internasional, dan berbagai keterbatasan militer, rakyat Iran tetap bertahan dan menolak menyerah.

Dalam pidato-pidatonya, Imam Khomeini menegaskan bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan militer, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan kehormatan, kemandirian, dan prinsip-prinsip Islam.

Perang tersebut melahirkan budaya pengorbanan dan keteguhan yang menjadi bagian penting dari identitas Republik Islam Iran hingga saat ini.

Semangat Karbala dan Asyura yang sebelumnya menjadi inspirasi Revolusi Islam semakin mengakar selama masa perang.

Bagi para pendukung Revolusi Islam, pengalaman perang membuktikan bahwa iman, persatuan rakyat, dan kepemimpinan yang kuat mampu menghadapi tekanan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Surat Bersejarah kepada Gorbachev

Salah satu warisan intelektual paling penting Imam Khomeini adalah surat bersejarah yang beliau kirimkan kepada pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, pada Januari 1989.

Surat tersebut bukan sekadar pesan diplomatik biasa, melainkan analisis filosofis dan peradaban yang mendalam mengenai masa depan dunia.

Dalam surat itu, Imam Khomeini memperingatkan bahwa komunisme sedang menuju kehancuran karena gagal memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Beliau menilai bahwa akar krisis Uni Soviet bukan hanya ekonomi atau politik, tetapi juga krisis makna dan spiritualitas.

Imam Khomeini juga mengingatkan Gorbachev agar tidak berpaling kepada kapitalisme Barat sebagai solusi.

Menurut beliau, baik komunisme maupun kapitalisme memiliki kelemahan mendasar karena sama-sama berpusat pada materialisme dan mengabaikan dimensi ruhani manusia.

Beliau menulis bahwa masalah utama manusia modern tidak akan terselesaikan hanya dengan perubahan sistem ekonomi atau politik.

Sebagai alternatif, Imam Khomeini menawarkan Islam sebagai peradaban yang mampu menjawab kebutuhan material sekaligus spiritual umat manusia.

Beberapa tahun kemudian, Uni Soviet benar-benar runtuh.

Karena itu, banyak pengamat menganggap surat tersebut sebagai salah satu dokumen politik dan intelektual paling visioner pada akhir era Perang Dingin.

Identitas Politik yang Berakar pada Islam

Salah satu pencapaian terbesar Imam Khomeini adalah membangun kembali identitas politik Islam pada masa ketika nasionalisme sekuler mendominasi sebagian besar dunia Muslim.

Beliau menolak pandangan bahwa agama hanya memiliki fungsi pribadi dan ritual.

Sebaliknya, beliau menegaskan bahwa Islam memiliki dimensi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan etika yang mampu mengatur kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Gagasan ini memberikan harapan baru bagi jutaan Muslim yang merasa terasing dari elit-elit yang terbaratkan maupun ideologi impor dari Timur dan Barat.

Melalui pemikirannya, identitas Islam kembali memperoleh relevansi politik yang kuat tanpa kehilangan dimensi spiritual dan moralnya.

Kerangka pemikiran tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi bagi banyak intelektual, aktivis, dan gerakan Islam di berbagai negara.

Globalisasi Perlawanan

Mungkin dampak geopolitik paling besar dari warisan Imam Khomeini adalah lahirnya apa yang kemudian dikenal sebagai Poros Perlawanan (Axis of Resistance).

Dari Lebanon, Palestina, Irak, Suriah, hingga Yaman, berbagai kelompok yang menentang pendudukan dan intervensi asing mengambil inspirasi dari pengalaman Revolusi Islam Iran.

Imam Khomeini berhasil mengubah konsep perlawanan dari gerakan lokal menjadi kerangka perjuangan lintas negara yang berlandaskan martabat, pengorbanan, dan solidaritas anti-imperialisme.

Pengaruh tersebut tidak terbatas pada Asia Barat.

Di Amerika Latin, Afrika, dan Asia, banyak aktivis anti-kolonial serta gerakan kemerdekaan melihat Revolusi Islam sebagai bukti bahwa sebuah bangsa dapat menggulingkan rezim yang didukung oleh kekuatan besar dunia apabila memiliki tekad, kesadaran, dan kepemimpinan yang kuat.

Berbagai slogan, simbol, dan konsep strategis yang digunakan gerakan-gerakan perlawanan kontemporer memiliki keterkaitan langsung dengan ajaran dan warisan Imam Khomeini.

Wafatnya Sang Pemimpin Revolusi

Pada tanggal 3 Juni 1989, Imam Khomeini wafat setelah bertahun-tahun memimpin Revolusi Islam dan Republik Islam Iran.

Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di seluruh Iran dan berbagai negara lainnya.

Jutaan orang menghadiri prosesi pemakamannya dalam salah satu pertemuan massa terbesar dalam sejarah modern dunia.

Namun wafatnya Imam Khomeini tidak mengakhiri pengaruhnya.

Institusi yang beliau bangun, pemikiran yang beliau rumuskan, dan budaya perlawanan yang beliau tanamkan tetap hidup dan terus berkembang di bawah kepemimpinan penerusnya.

Republik Islam Iran berhasil bertahan menghadapi sanksi, perang, tekanan politik, operasi rahasia, dan berbagai bentuk permusuhan eksternal selama puluhan tahun.

Bagi para pendukungnya, ketahanan tersebut merupakan bukti keberhasilan fondasi yang diletakkan oleh Imam Khomeini.

Warisan yang Tetap Hidup

Lebih dari tiga dekade setelah wafatnya, Imam Khomeini tetap menjadi salah satu tokoh politik dan keagamaan paling berpengaruh dalam sejarah kontemporer.

Gagasan-gagasannya terus menjadi bahan diskusi, kajian, dan perdebatan di berbagai belahan dunia.

Bagi banyak kalangan, beliau dikenang sebagai ulama yang berhasil mengubah teori menjadi gerakan, gerakan menjadi revolusi, dan revolusi menjadi sebuah sistem politik yang bertahan hingga kini.

Sebagaimana ditegaskan oleh Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, peringatan wafat Imam Khomeini setiap tahun merupakan kesempatan bagi bangsa Iran untuk memperbarui baiat dan kesetiaan mereka terhadap cita-cita pendiri Revolusi Islam.

Menurut pesan tersebut, madrasah pemikiran Imam Khomeini berakar pada Islam murni Nabi Muhammad SAW, yang fondasinya adalah bangkit karena Allah SWT, menegakkan kebenaran, serta memerangi kebatilan dan kezaliman.

Dengan demikian, Imam Khomeini tidak hanya meninggalkan sebuah negara atau revolusi, tetapi juga sebuah paradigma perjuangan yang terus memengaruhi dinamika politik, sosial, dan peradaban dunia hingga hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *