Gaza, Purna Warta – Juru bicara sayap bersenjata Hamas menyatakan bahwa upaya untuk meminta pertanggungjawaban rezim Israel atas berbagai tindakan yang disebut sebagai kejahatan dan kekejamannya akan terus berlanjut. Ia juga menegaskan bahwa pembunuhan para pemimpin senior perlawanan tidak akan melemahkan gerakan tersebut.
“Perhitungan dengan rezim ini akan tetap terbuka hingga mereka membayar harga yang penuh dan sangat mahal,” kata Abu Obeida, juru bicara Brigade Izzuddin al-Qassam, pada hari Selasa.
Ia menambahkan bahwa “musuh yang pengecut” keliru apabila mengira perlawanan dapat dilemahkan melalui pembunuhan para pemimpinnya.
Kepemimpinan Perlawanan Tetap Kokoh
Abu Obeida mengecam Israel karena dianggap melanggar berbagai kesepakatan dan terus melakukan tindakan terhadap rakyat Palestina meskipun telah ada sejumlah perjanjian.
“Bagi siapa pun yang memiliki pandangan jernih dan penilaian yang sehat, kini semakin jelas bahwa kita sedang menghadapi musuh yang hina, yang tidak memiliki moral selain kebalikannya, tidak menghormati perjanjian, dan secara mendasar salah membaca situasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa darah para komandan yang gugur akan terus memperkuat gerakan perlawanan. Menurutnya, “masih ada para pemimpin di antara kami yang ditempa di medan keteguhan dan persiapan, dimatangkan oleh pengalaman, dan diperkuat oleh berbagai peperangan.”
Pesan untuk Warga Gaza
Dalam pesannya kepada warga Palestina di Jalur Gaza, Abu Obeida memuji berbagai bentuk dukungan masyarakat yang ditunjukkan setelah gugurnya para komandan senior.
“Wahai rakyat kami di Gaza, kami telah mendengar kata-kata kalian, mendengarkan seruan kalian, dan menyaksikan pawai besar kalian dalam mengantar para pemimpin yang gugur. Tidak diperbolehkan bagi kami untuk mengkhianati darah mereka,” katanya.
“Kami akan tetap setia kepada kalian dan kepada putra-putra pejuang kebebasan yang kalian peluk. Pengorbanan yang besar dan agung ini, dengan izin Allah, akan menghasilkan kemenangan yang nyata dan menentukan.”
Pejabat Hamas tersebut juga memberikan penghormatan kepada Izz al-Din al-Haddad, yang juga dikenal sebagai Abu Suhaib. Ia menggambarkannya sebagai sosok yang memainkan peran sentral dalam perencanaan, persiapan, dan pengawasan langsung terhadap operasi perlawanan bersejarah pada 7 Oktober 2023.
Operasi tersebut menyaksikan para pejuang perlawanan memasuki wilayah yang diduduki Israel, bergerak jauh ke dalam wilayah tersebut, mengepung pos-pos militer Israel, dan menangkap ratusan warga Zionis.
Ia juga menyoroti peran komandan senior Mohammed Odeh, yang disebut berkontribusi dalam pengembangan kemampuan produksi militer Brigade al-Qassam sebelum kemudian memimpin aparat intelijen militernya dan turut berpartisipasi dalam perencanaan operasi 7 Oktober.
Abu Obeida juga memuji kelompok-kelompok perlawanan yang terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Israel, termasuk para pejuang di Lebanon yang menurutnya telah “menorehkan kisah-kisah kepahlawanan dalam menghadapi kesombongan Zionis.”
Seruan untuk Persatuan Arab dan Islam
Menutup pernyataannya, Abu Obeida kembali menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim agar mengesampingkan perbedaan di antara mereka dan memusatkan perhatian pada apa yang ia sebut sebagai “satu-satunya musuh umat Islam.”
Ia menyatakan bahwa tindakan Israel yang terus berlanjut telah menempatkan para mediator dan pihak-pihak penjamin kesepakatan pada “momen kebenaran”.
Menurutnya, “tetap diam atau bersikap netral tidak lagi dapat diterima,” seraya menyerukan peningkatan upaya untuk menahan tindakan Israel dan memaksanya memenuhi komitmen-komitmennya.


