Al-Quds, Purna Warta – Boikot akademik terhadap universitas-universitas Israel di Eropa meningkat hampir dua kali lipat bahkan setelah diberlakukannya gencatan senjata di Gaza yang bertujuan mengakhiri perang genosida rezim pendudukan terhadap Jalur Gaza yang terkepung, demikian menurut sebuah laporan baru. Langkah ini semakin mengucilkan Tel Aviv dalam dunia pendidikan tinggi global.
Baca juga: Lembaga hak asasi: Israel Tingkatkan Penculikan Perempuan dan Anak Perempuan Palestina
Tim Pemantau Boikot Akademik Israel, yang dibentuk oleh Komite Rektor Universitas di Tel Aviv, menyampaikan dalam laporan pada Senin bahwa kasus boikot akademik terhadap universitas rezim Israel melonjak, dengan sekitar 1.000 kasus tercatat di Eropa hingga November.
Laporan tersebut menegaskan bahwa citra negatif Israel—yang tetap bertahan bahkan setelah gencatan senjata atas perang genosida di Gaza—“begitu mengakar sehingga langkah-langkah politik saja tidak cukup untuk mengubah persepsi publik.”
Bertentangan dengan perkiraan bahwa boikot akan mereda pasca-gencatan senjata, laporan itu mencatat bahwa “yang terjadi justru sebaliknya,” dengan lembaga-lembaga pendidikan dan akademisi secara individual semakin sering mengajukan kasus boikot.
Tim pemantau yang laporannya diterbitkan oleh The Marker, edisi ekonomi dari surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz, juga memperingatkan bahwa meluasnya boikot ini dapat semakin mengisolasi pendidikan tinggi Israel dan menimbulkan ancaman strategis jangka panjang bagi posisi internasionalnya.
Laporan tersebut juga merinci sejumlah dampak nyata dari boikot tersebut, termasuk penurunan jumlah hibah riset EU Horizon Europe bagi peneliti Israel, pengucilan dari proyek kerja sama internasional, dan runtuhnya sejumlah program kolaboratif.
Menurut laporan itu, 57 persen kasus melibatkan peneliti individu (terutama berupa pengucilan dari kelompok riset), 22 persen berupa pemutusan hubungan institusional, tujuh persen berasal dari asosiasi profesi, dan 14 persen terkait dihentikannya program pertukaran mahasiswa atau kemitraan postdoktoral.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa tren boikot yang melumpuhkan ini kecil kemungkinan akan mereda dalam waktu dekat tanpa adanya “perubahan besar di tingkat regional dan geopolitik,” dan memperingatkan bahwa isolasi berkepanjangan terhadap akademisi Israel kemungkinan akan terus berlanjut.
Gerakan boikot ini “akan membayangi dunia akademik Israel untuk waktu yang lama dan tidak akan mereda tanpa perubahan regional dan geopolitik yang signifikan,” kata laporan itu.
Israel telah membunuh hampir 70.000 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 170.900 orang lainnya di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, ketika rezim tersebut melancarkan perang brutal terhadap wilayah Palestina itu.
Meski gencatan senjata diumumkan pada Oktober, Israel terus menyerang Gaza, melanggar kesepakatan tersebut.
Hamas telah mendesak para penjamin gencatan senjata—yakni Qatar, Turki, Mesir, dan Amerika Serikat—untuk menekan Israel agar mematuhi perjanjian dan menghentikan serangannya di Gaza.


