Suatu Hari Sejarah Akan Bertanya: “Di Mana Engkau Berdiri Saat Semua Ketidakadilan Ini Terjadi?”

Hiztory

Gaza, Purna Warta – Ketika Rusia dan Amerika Serikat sibuk memainkan permainan geopolitik mereka di Alaska, menarik perhatian dunia, sebuah tragedi yang jauh lebih serius tengah berlangsung di Gaza—jauh dari sorotan dan dalam keheningan.

Baca juga: Pengetatan Blokade terhadap Gaza; Rencana Israel untuk Mengusir Satu Juta Orang

Harian Expression dari Aljazair pada Senin menulis: Gaza tengah mengalami pengepungan, kehancuran, dan krisis kemanusiaan yang sejauh ini gagal menarik perhatian serius dunia internasional. Para pemimpin Eropa, yang hanya sibuk dengan kepentingan mereka sendiri, justru fokus mengikuti pertemuan antara presiden Amerika Serikat dan Rusia.

Menurut Pars Today, pada kenyataannya pertemuan itu memberi Jerman kesempatan untuk melanjutkan pembangunan kekuatan militernya, memberikan Prancis tameng untuk menutupi problem internalnya, dan bagi Inggris, kembali memainkan peran klasiknya sebagai sekutu setia Amerika Serikat—meskipun itu berarti mendorong perang yang menguntungkan para pedagang senjata Amerika. Pada akhirnya, rakyat Eropa jugalah yang akan menanggung biaya dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Satu hal yang pasti adalah bahwa Trump pun tengah berusaha meraih impian lamanya: menerima Hadiah Nobel Perdamaian—dengan asumsi penghargaan itu masih punya makna. Namun, sejatinya, hadiah perdamaian itu seharusnya dicari di lorong-lorong Gaza yang penuh puing, pada napas tersengal seorang anak yang sekarat karena kelaparan, di antara abu rumah sakit yang dibom, dan dalam jeritan tertahan sebuah bangsa yang ditinggalkan.

Di Gaza, sebuah genosida tengah berlangsung secara perlahan. Ketika martabat manusia diinjak demi keuntungan ekonomi, atau ketika para pengobar perang disambut lebih hangat daripada para ibu yang berduka, maka perdamaian kehilangan seluruh maknanya.

Setiap bangsa memiliki hak untuk melawan penjajahan, ketidakadilan, dan kekerasan. Lalu, mengapa hak ini justru diingkari bagi rakyat Palestina? Mengapa kehidupan mereka harus dianggap kurang berharga? Mengapa para lansia, perempuan, dan terutama anak-anak Gaza harus mati dalam keheningan dunia, seolah-olah mereka lahir di sisi sejarah yang salah?

Baca juga: Serangan Besar-Besaran Militer Zionis dan Penangkapan Massal di Tepi Barat

Menyelamatkan Gaza bukanlah soal berpihak pada satu kelompok atau negara—melainkan soal menyelamatkan makna sejati keadilan, melindungi anak-anak, menjaga martabat manusia, dan menghadapi penindasan. Mereka yang dari posisi apa pun melihat, mendengar, dan mengetahui—namun tetap diam—ikut menanggung tanggung jawab. Diam di hadapan kekejaman pada hakikatnya adalah pembenaran terhadap keberlanjutannya, dan berpaling dari ketidakadilan justru membuka jalan bagi kejahatan itu.

Suatu hari, sejarah akan bertanya kepada kita: Di manakah engkau berdiri ketika semua penindasan ini terjadi? Dan pada hari itu, kita tak lagi bisa menjawab: Saya tidak tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *