Gaza, Purna Warta – Menurut sebuah laporan, setelah disahkannya rencana yang diajukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menduduki Kota Gaza—yang ia sebut sebagai “perang tegas” terhadap Hamas—režim Zionis terus memperhebat blokade dan agresi brutalnya terhadap kota itu di bagian utara Jalur Gaza.
Baca juga: Serangan Besar-Besaran Militer Zionis dan Penangkapan Massal di Tepi Barat
Eskalasi Serangan Brutal ke Kota Gaza
Dalam beberapa pekan terakhir, khususnya beberapa hari terakhir, pasukan Israel berusaha meningkatkan blokade terhadap warga Gaza, terutama wilayah utara, agar mengungsi ke bagian tengah dan selatan jalur tersebut, sekaligus memulai invasi besar-besaran ke kota itu.
Selama dua pekan terakhir, militer pendudukan telah mempercepat agresinya melalui serangan artileri ke kawasan timur dan tenggara Kota Gaza, serta pemboman di bagian barat dan barat lautnya. Distrik al-Sabra di selatan Kota Gaza dan al-Zeitoun di bagian timur mengalami serangan artileri dan udara tanpa henti.
Kedua wilayah itu menghadapi agresi terfokus yang tidak hanya menghancurkan rumah-rumah, tetapi juga menyerang lokasi pengungsian seperti sekolah, serta berbagai fasilitas dan infrastruktur sipil. Puluhan warga tewas setiap harinya dalam pembantaian ini.
Selain itu, serangan artileri, drone, dan pemboman terhadap distrik al-Shuja‘iya dan al-Tuffah di timur Kota Gaza juga terus berlangsung. Semua orang yang melintas di kawasan tersebut menjadi target. Distrik al-Rimal di pusat kota pun berulang kali dibombardir, dengan apartemen dan tenda-tenda pengungsi menjadi sasaran, yang menewaskan serta melukai banyak penduduk dalam beberapa hari terakhir.
Di Sheikh Radwan (barat laut Kota Gaza), tempat ratusan ribu penduduk dan pengungsi tinggal, terjadi serangkaian serangan udara yang menghantam tenda-tenda dan apartemen pengungsi. Bahkan sekolah-sekolah yang dijadikan tempat berlindung juga diserang dengan drone.
Kondisi Warga dan Pengungsi Gaza yang Memburuk
Dengan tertundanya respons Israel terhadap usulan Qatar dan Mesir mengenai kesepakatan parsial 60 hari—meskipun Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lain sudah menerimanya hampir sepekan lalu—penduduk Gaza, khususnya di Kota Gaza, semakin cemas menghadapi situasi mendatang.
Warga menerima panggilan ancaman terus-menerus dari militer pendudukan yang mendorong mereka untuk meninggalkan kota. Malam hari menjadi waktu tersulit bagi mereka, terutama dengan intensifikasi pemboman di timur dan utara kota, termasuk di Jabalia. Di sana, pasukan Zionis bahkan menggunakan robot peledak dengan daya ledak sangat besar.
Militer Israel mengumumkan bahwa Brigade 401 mereka baru-baru ini kembali ke medan perang di Jabalia “untuk menghancurkan segalanya.”
Peringatan dari Otoritas Gaza
Ismail al-Thawabita, Direktur Kantor Informasi Pemerintah di Jalur Gaza, dalam wawancara dengan al-Araby al-Jadeed menegaskan bahwa meningkatnya ancaman Zionis untuk menyerang Kota Gaza dan mengusir warganya adalah kejahatan perang yang nyata.
Ia menekankan: “Zionis menghancurkan apa pun yang tersisa di Jalur Gaza yang terkepung, dan dengan sengaja memperhebat serangan terhadap Kota Gaza demi menekan penduduk agar melarikan diri. Ini adalah bagian dari rencana yang sudah disiapkan untuk melanjutkan pendudukan kota.”
Baca juga: Seruan Kepada PBB Untuk Kerahkan Pasukan Penjaga Perdamaian ke Gaza
Al-Thawabita menambahkan bahwa Kota Gaza, yang dihuni lebih dari 1,3 juta orang termasuk hampir setengah juta anak-anak, kini menghadapi bahaya nyata akibat hancurnya sistem kesehatan secara sistematis di provinsi Gaza dan Gaza Utara, yang menyebabkan banyak rumah sakit berhenti beroperasi.
Ia menegaskan bahwa pihaknya menolak segala upaya evakuasi Kota Gaza atau pemindahan pasien ke wilayah lain. Rumah Sakit Eropa di Gaza selatan tidak dapat menggantikan rumah sakit di bagian utara, karena untuk memperbaikinya setelah serangan brutal Zionis dibutuhkan lebih dari enam bulan kerja.
Direktur tersebut menutup dengan pernyataan: “Langkah-langkah pendudukan ini menunjukkan rencana yang sudah dirancang sebelumnya untuk melakukan kejahatan besar berupa pembantaian massal terhadap penduduk Kota Gaza dan pengusiran paksa mereka. Kami menyeru PBB dan semua lembaga HAM untuk melaksanakan kewajiban hukum dan moral mereka guna menghentikan kejahatan ini dan melindungi warga sipil.”


