Seruan Kepada PBB Untuk Kerahkan Pasukan Penjaga Perdamaian ke Gaza

Plaestinian

New York, Purna Warta – Sebuah lembaga hak asasi internasional menyerukan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberlakukan sebuah resolusi bersejarah yang memungkinkannya melewati Dewan Keamanan PBB dan mengerahkan pasukan penjaga perdamaian ke Jalur Gaza.

Baca juga: Polisi Maritim Israel Sengaja Bunuh Dua Warga Palestina yang Sedang Tenggelam

Euro-Mediterranean Human Rights Monitor yang berbasis di Jenewa mengajukan desakan tersebut pada Jumat, setelah PBB menyatakan bahwa Gubernuran Gaza di wilayah utara Jalur Gaza sedang mengalami kelaparan nyata yang dapat meluas dalam hitungan pekan.

Lembaga itu menilai kondisi ini merupakan akibat dari kebijakan sengaja rezim Israel yang menahan makanan dan air agar tidak masuk ke Gaza—sebagaimana diakui sendiri oleh sejumlah pejabat Israel. Badan tersebut mengecam pendekatan itu sebagai kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan tindakan genosida.

Euro-Med pun menyerukan agar Majelis Umum menerapkan Resolusi 377 A(V) tahun 1950 (“Uniting for Peace”). Resolusi itu, sebagaimana diingatkan Euro-Med, “memberi kewenangan kepada Majelis untuk menggelar sidang darurat khusus dan mengambil langkah kolektif, termasuk pembentukan pasukan penjaga perdamaian, ketika Dewan Keamanan gagal bertindak akibat veto atau tidak tercapainya konsensus.”

Lembaga tersebut merujuk pada pola umum Amerika Serikat—sekutu utama Israel—yang kerap menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan langkah-langkah yang menargetkan Tel Aviv. Praktik itu berjalan seiring dengan dukungan senjata tanpa henti dan tanpa preseden dari Washington kepada Israel, termasuk selama perang genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023 di Jalur Gaza.

Euro-Med juga menyebut deklarasi PBB tersebut memang “terlambat,” tetapi tetap merupakan bukti tegas bahwa rezim Israel dengan sengaja merekayasa kelaparan di Gaza melalui kebijakan kelaparan sistematis, penghalangan bantuan kemanusiaan, serta penghancuran sumber pangan lokal.

“Ini adalah pengakuan pertama sejak dimulainya genosida Israel terhadap rakyat Palestina, di mana kelaparan telah menjadi salah satu alat paling brutalnya,” tegas badan itu.

Baca juga:Araghchi Peringatkan Ilusi “Israel Raya” Jelang Pertemuan Darurat OKI

Selain itu, Euro-Med mengecam keras pendirian “Gaza Humanitarian Foundation” (GHF) oleh Israel dan Amerika Serikat pada 27 Mei lalu, yang disebut-sebut bertujuan menyalurkan makanan untuk warga Gaza, namun justru memperburuk krisis.

Menurut Euro-Med, titik distribusi GHF malah berubah menjadi “jebakan maut,” di mana pasukan Israel—kadang didampingi tentara bayaran AS—telah menewaskan 2.036 orang dan melukai 15.064 lainnya, dengan ribuan korban lain meninggal ketika mencoba mencapai truk bantuan di wilayah yang dikuasai Israel.

Badan itu juga menyoroti bahwa mekanisme distribusi yayasan tersebut secara sengaja mengecualikan sebagian besar penduduk Gaza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *