Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel melancarkan serangan udara mematikan terhadap apartemen-apartemen hunian di Jalur Gaza yang mengakibatkan banyak korban, termasuk anak-anak, di tengah upaya rezim pendudukan membangun posisi-posisi militer baru di berbagai wilayah Palestina.
Menurut laporan media pada Kamis yang mengutip sumber-sumber lokal, serangan udara Israel menyasar kawasan permukiman di bagian barat dan utara Kota Gaza, memicu kebakaran di sejumlah rumah dan menyebabkan kerusakan yang meluas.
Sumber-sumber tersebut menyatakan bahwa serangan Israel menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina dan melukai 20 orang lainnya.
Rekaman video dari lokasi kejadian memperlihatkan warga dan tim penyelamat berupaya mengevakuasi para korban, sementara ambulans mengangkut korban tewas dan luka ke rumah-rumah sakit.
Seorang sumber dari Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan bahwa empat apartemen hunian di Kota Gaza menjadi sasaran serangan Israel.
Israel Bangun Puluhan Posisi Militer Baru
Di tengah meningkatnya serangan terhadap Gaza, citra satelit menunjukkan bahwa Israel telah mendirikan sekitar 40 posisi militer baru di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Citra satelit tersebut mengungkap bahwa pasukan Israel sedang membangun infrastruktur militer berat di lokasi-lokasi strategis di wilayah Palestina.
Sebuah investigasi menemukan bahwa delapan dari posisi militer tersebut merupakan fasilitas baru yang dibangun setelah gencatan senjata Oktober 2025 mulai berlaku.
Dari delapan posisi baru itu:
- Dua dibangun di Gaza utara.
- Dua berada di wilayah tengah Gaza.
- Satu terletak di sebelah timur Koridor Netzarim.
- Tiga lainnya berada di kota Khan Younis, Gaza selatan.
Salah satu posisi tersebut dilaporkan masih dalam tahap pembangunan.
Pasukan Israel tidak hanya membangun pangkalan baru, tetapi juga memperkuat dan memperluas fasilitas militer yang telah ada sebelumnya.
Salah satu posisi militer diperkuat tepat di atas reruntuhan Pemakaman Timur (Eastern Cemetery) di Khan Younis.
Secara keseluruhan, Israel dilaporkan telah mendirikan 40 posisi militer di dalam Jalur Gaza yang saling terhubung melalui jaringan tanggul tanah, parit, dan jalan militer internal.
Posisi-posisi militer tersebut mengelilingi pusat-pusat permukiman Palestina dari berbagai arah, yang menurut laporan tersebut merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata Gaza yang dimediasi Amerika Serikat.
Pelanggaran Gencatan Senjata
Rencana perdamaian Gaza yang terdiri dari 21 poin menyerukan penghentian permusuhan, penarikan pasukan pendudukan Israel, masuknya bantuan kemanusiaan, serta pelucutan senjata Hamas yang menguasai Gaza.
Namun, pasukan Israel dilaporkan terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025, termasuk dengan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan dan melakukan serangan yang telah menewaskan 936 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak kesepakatan itu diberlakukan.
Netanyahu: Israel Menguasai 60 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah konferensi pers mengakui bahwa dirinya telah memerintahkan pasukan Israel untuk menguasai secara permanen sebagian besar wilayah Palestina.
“Kami sekarang menguasai 60 persen wilayah tersebut,” katanya baru-baru ini.
Ketika salah seorang pendukung Netanyahu dalam acara tersebut menyerukan aneksasi penuh atas wilayah Palestina, Netanyahu menjawab:
“Mari kita lakukan selangkah demi selangkah. Pertama-tama, 70 persen. Mari kita mulai dari sana.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai masa depan Jalur Gaza, berlanjutnya operasi militer Israel, serta memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah yang terkepung tersebut.


