Al-Quds, Purna Warta – Sebuah drone yang diluncurkan oleh Hizbullah dilaporkan menghantam area tempat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat keamanan senior berada saat melakukan kunjungan ke wilayah utara Palestina yang diduduki. Insiden tersebut dilaporkan memaksa Netanyahu berlindung di bunker atau tempat perlindungan.
Jaringan berita Israel i24 News melaporkan bahwa ketika Netanyahu sedang mengunjungi sebuah sekolah di permukiman Shlomi yang terletak dekat perbatasan Lebanon, sirene peringatan berbunyi sehingga ia terpaksa bergegas menuju tempat perlindungan.
Sementara itu, Channel 12 Israel, dengan izin dari kantor sensor militer, melaporkan bahwa beberapa minggu sebelumnya sebuah drone milik kelompok perlawanan menghantam kendaraan Rafi Milo, komandan Front Utara militer Israel, saat melakukan kunjungan lapangan di Lebanon selatan.
Media-media berbahasa Ibrani menggambarkan insiden tersebut sebagai salah satu peristiwa keamanan paling penting dan berbahaya dalam beberapa bulan terakhir di front utara, sekaligus dianggap sebagai pesan langsung kepada Tel Aviv.
Surat kabar Yedioth Ahronoth, juga dengan persetujuan sensor militer, melaporkan bahwa sejumlah pejabat militer senior berada di lokasi ketika insiden itu terjadi. Drone tersebut menghantam area tersebut tidak lama setelah kendaraan yang mereka gunakan meninggalkan lokasi.
Menurut surat kabar tersebut, sebagian besar rincian insiden masih berada di bawah sensor militer dan belum diizinkan untuk dipublikasikan.
Channel 12 Israel menyebut insiden itu sebagai bukti meningkatnya ketepatan operasional dan kemampuan intelijen Hizbullah.
Kekhawatiran Meningkat atas Kemampuan Hizbullah
Pengungkapan insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Rafi Milo mengakui bahwa militer Israel terkejut oleh cepatnya proses pemulihan dan penguatan kemampuan militer Hizbullah.
Terungkapnya peristiwa tersebut juga muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran lembaga keamanan dan militer Israel terhadap ancaman drone perlawanan, yang kini dianggap sebagai salah satu tantangan keamanan paling serius bagi Israel.
Juru bicara militer Israel, di bawah ketatnya aturan sensor media, mengumumkan bahwa jumlah personel militer yang terluka sejak dimulainya operasi militer di Lebanon selatan telah mencapai 1.243 orang.
Dari jumlah tersebut:
- 72 tentara dilaporkan dalam kondisi kritis atau serius.
- 140 tentara lainnya mengalami luka dengan tingkat sedang.
- Pemukim di Perbatasan Masih Merasa Tidak Aman
Dalam perkembangan terkait, Moshe Davidovich, yang menjabat sebagai kepala Dewan Regional Mateh Asher di wilayah utara yang diduduki Israel, memperingatkan Netanyahu mengenai berlanjutnya ketidakamanan di permukiman-permukiman dekat perbatasan.
Dalam pertemuan dengan Netanyahu, Davidovich menegaskan bahwa para penduduk kawasan perbatasan masih belum merasa aman meskipun berbagai langkah keamanan telah diterapkan.
Ia menekankan bahwa kekhawatiran dan rasa tidak aman masih menjadi masalah utama bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut.


