Al-Quds, Purna Warta – Rezim Zionis melakukan latihan untuk menghadapi skenario jatuhnya kota-kota dan perang jalanan di Eilat.
Menurut laporan surat kabar Maariv dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu sore menegaskan bahwa militer Israel telah melakukan latihan untuk menghadapi skenario serangan terhadap Eilat dan jatuhnya sejumlah kawasan vital kota tersebut ke tangan penyerang.
Menurut media berbahasa Ibrani tersebut, militer Israel, dalam sebuah latihan berbasis skenario, mensimulasikan serangan besar-besaran terhadap Eilat serta cara menghadapinya. Latihan tersebut mencakup simulasi serangan menggunakan perahu dan jet ski disertai penyanderaan warga Israel. Untuk menghadapi serangan tersebut, helikopter tempur, kapal fregat, rudal, dan pasukan darat dikerahkan.
Laporan tersebut selanjutnya menyebutkan bahwa militer Israel pada hari itu telah menyelesaikan latihan militer besar-besaran di wilayah Eilat dan Arava. Dalam latihan tersebut, skenario serangan gabungan terhadap kota dari beberapa arah disimulasikan.
Selama latihan, pasukan menyimulasikan infiltrasi puluhan pejuang Houthi (Ansarullah Yaman) dan ratusan milisi lainnya—yang dalam skenario latihan disebut loyal kepada Poros Perlawanan—yang memasuki wilayah tersebut melalui perbatasan laut, darat, dan udara.
Di antara skenario lain yang dilatih adalah infiltrasi ke Eilat menggunakan jet ski dan perahu cepat, serangan darat dari perbatasan Mesir dan Yordania, serta berbagai skenario tambahan infiltrasi melalui udara.
Sebagai bagian dari respons, militer Israel mengerahkan helikopter tempur, kapal fregat pembawa rudal, serta sejumlah besar pasukan darat.
Latihan yang dipimpin oleh Divisi 80 dengan kerja sama pasukan udara dan laut tersebut dirancang untuk mengukur kesiapan pasukan dalam rangka mempertahankan Eilat dan Wadi Arava apabila terjadi serangan besar-besaran dan dari berbagai arah.
Selama latihan, pasukan beroperasi secara bersamaan di sejumlah lokasi dan mempraktikkan puluhan skenario, termasuk infiltrasi menggunakan kapal dari laut, penculikan, aksi penembakan berkecepatan tinggi, insiden dengan korban dalam jumlah besar, serta infiltrasi ke pangkalan militer dan fasilitas sipil, termasuk hotel, sekolah, dan pantai.
Militer Israel juga menguji kecepatan pengerahan pasukan dan operasi mereka di wilayah tersebut, proses peralihan dari kondisi normal ke keadaan darurat, serta mekanisme pengambilan keputusan di berbagai tingkatan ketika terjadi ledakan.
Sementara itu, Divisi 96 dikerahkan secara mendadak dan harus menghadapi skenario lain yang mencakup infiltrasi dari perbatasan timur ke wilayah tersebut.


