Pengakuan atas Kondisi Krisis di Industri Militer Rezim Zionis

Buhran

Al-Quds, Purna Warta – Utang industri militer rezim Zionis telah melampaui 15 miliar shekel, hingga menyebabkan kondisi industri tersebut berada dalam situasi kritis.

Menurut laporan situs berita dan analisis berbahasa Ibrani Walla dalam sebuah laporan analisis yang diterbitkan pada rubrik ekonominya mengakui bahwa kekurangan anggaran di industri militer Israel telah sangat mengancam persediaan rudal pencegat.

Sebagian laporan tersebut menyebutkan bahwa pabrik-pabrik persenjataan Israel bekerja tanpa henti sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan militer Israel.

Menurut pengakuan media tersebut, perang berikutnya tidak akan menunggu hingga persediaan persenjataan Israel selesai dipenuhi. Sementara itu, kekurangan persediaan rudal pencegat telah menjadi tantangan operasional besar bagi militer Israel. Di samping itu, kemungkinan konflik dengan Turki juga telah ditambahkan ke dalam berbagai skenario yang harus dihadapi.

Bagian lain laporan tersebut menyebutkan:

“Menghadapi Iran membutuhkan kemampuan untuk bertahan menghadapi hujan rudal, sebagaimana menghadapi Turki membutuhkan penataan militer dan perang atrisi.”

Laporan itu juga menyatakan:

“Israel memiliki sistem-sistem canggih, tetapi ujian yang sebenarnya terletak pada berapa banyak sistem yang mampu bertahan setelah pertempuran pertama. Selain itu, kecepatan penggantian dan pemulihan persediaan sebelum pertempuran berikutnya juga merupakan tantangan penting.”

Walla kemudian melaporkan bahwa dalam perang kedua melawan Iran, sekitar 650 rudal balistik ditembakkan ke arah Israel (wilayah pendudukan).

Besarnya persediaan rudal Arrow 3 sebelumnya telah memengaruhi keputusan untuk mencegat sebagian rudal yang datang secara bertubi-tubi. Pasalnya, beberapa rudal berjenis hulu ledak klaster tidak dicegat dengan rudal Arrow, dengan tujuan menghemat rudal pencegat untuk menghadapi ancaman yang dianggap “lebih berat”.

Untuk melindungi rudal Arrow 3, cakupan penggunaan sistem David’s Sling terhadap rudal balistik diperluas. Namun, lapisan pertahanan ini pada dasarnya tidak efektif untuk menghadapi ancaman tersebut, bahkan intersepsinya terhadap rudal yang datang tidak mencegah penyebaran hulu ledak klaster.

Kekurangan tersebut tidak terlihat selama 40 hari pertama perang. Pada Juni 2021, setelah Naftali Bennett menjabat sebagai perdana menteri, sekitar 6 miliar shekel dialokasikan untuk persiapan menghadapi Iran. Ia juga memanggil para kepala struktur militer serta para eksekutif senior perusahaan Rafael dan berbagai sektor industri penerbangan Israel.

Dua tahun kemudian, setelah Herzi Halevi ditunjuk sebagai kepala staf umum, militer Israel meminta diadakannya pembahasan mendalam dengan perdana menteri mengenai kekurangan persenjataan dan rudal pencegat.

Pertemuan tersebut telah dijadwalkan dan dibatalkan sebanyak lima kali. Militer berupaya menggandakan jumlah rudal Arrow pada 2023 dan meningkatkannya hingga empat kali lipat pada akhir 2024. Halevi meminta 1,2 miliar shekel untuk meningkatkan persediaan, sementara tabel yang diajukan oleh perdana menteri menunjukkan angka nol pada pos tersebut.

Pada 3 Oktober 2023, atau empat hari sebelum 7 Oktober, program multiyears kembali memasukkan permintaan untuk segera menggandakan tingkat produksi rudal Arrow 3.

Namun, setelah dua serangan rudal Iran pada 2024—serta sejumlah rudal yang menghantam wilayah pendudukan—proses peningkatan produksi rudal pencegat dipercepat.

Menurut pengakuan media berbahasa Ibrani tersebut, meskipun telah dilakukan upaya untuk menyediakan sumber pendanaan melalui penandatanganan kontrak dengan Jerman bagi perusahaan-perusahaan persenjataan Israel, hingga Agustus lalu Kementerian Perang Israel masih berutang sekitar 15,5 miliar shekel kepada tiga perusahaan besar industri militer. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,5 miliar shekel merupakan utang kepada Israel Aerospace Industries (IAI), sedangkan sekitar 7 miliar shekel merupakan utang kepada Rafael.

Di Israel Aerospace Industries, penundaan pembayaran telah menyebabkan kekurangan likuiditas yang parah, mencapai sekitar 2,4 miliar shekel. Sementara itu, Rafael juga terpaksa mengambil pinjaman untuk membayar utangnya kepada para pemasok. Kapasitas produksi tidak tercipta hanya dengan menandatangani pesanan, melainkan baru terbentuk ketika modal benar-benar mengalir ke lini produksi.

Sejak akhir November 2024 hingga pertengahan Mei 2026, Israel Aerospace Industries (IAI) beroperasi selama sekitar satu setengah tahun tanpa ketua dewan direksi tetap, sementara persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Iran menjadi salah satu fokus utama pembangunan kekuatan militer.

Dalam setiap pertemuan, seorang ketua sementara ditunjuk. Perselisihan mengenai penunjukan tersebut menyebabkan keterlambatan dalam pengesahan pesanan produksi rudal Arrow oleh Kementerian Perang senilai miliaran shekel.

Selanjutnya, masa jabatan para direktur independen berakhir tanpa adanya pengganti yang ditetapkan. Kondisi ini menyebabkan penghentian kerja sejumlah komite regulasi dan menghilangkan kemungkinan untuk menyetujui kontrak produksi rudal Arrow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *