Kesaksian Rekan Satu Sel Farah Abu Ayyash tentang 400 Hari Penyiksaan Jurnalis Tasnim di Penjara Israel

Penyiksaan

Al-Quds, Purna Warta – Rekan satu sel Farah Abu Ayyash di Penjara Damon milik rezim Zionis mengungkapkan kondisi terakhir Farah pada hari ke-400 penahanannya.

Dalam rangka memperingati 400 hari penahanan Farah Abu Ayyash, jurnalis Tasnim di Kota Hebron, selatan Tepi Barat, kami menemui Ayah al-Fuqaha, seorang perempuan Palestina yang baru-baru ini dibebaskan dari penahanan Zionis. Melalui kesaksiannya, kami berupaya mengetahui kondisi terakhir rekan satu selnya yang telah menghabiskan 400 malam di balik jeruji Penjara Damon karena menjalankan tugas jurnalistik dengan mendokumentasikan penderitaan rakyat Palestina.

Sejak awal pembicaraan, Ayah al-Fuqaha menggambarkan penjara dan penahanan di sel-sel Israel sebagai “kuburan bagi orang-orang yang masih hidup.”

Ia telah keluar dari “kuburan” tersebut. Tubuhnya kembali merasakan hangatnya sinar matahari, tetapi seluruh pikiran dan perasaannya masih tertinggal di balik pintu Penjara Damon, bersama banyak rekan satu selnya, baik yang tua maupun muda. Mereka adalah para perempuan yang bersama-sama melewati hari-hari penuh penderitaan akibat berbagai bentuk kekurangan dan pembatasan, menyantap makanan yang sangat sedikit, serta mendapatkan layanan medis dengan penuh kesulitan dan keterbatasan.

Dalam menjelaskan enam bulan masa penahanannya di Penjara Damon yang terkenal mengerikan milik rezim Zionis, perempuan Palestina yang telah dibebaskan itu mengatakan:

“Enam bulan yang saya habiskan di Damon merupakan hari-hari tersulit dalam hidup saya. Selama masa itu, saya mengalami berbagai macam pembatasan, mulai dari pembatasan makanan hingga perlakuan terhadap para tahanan. Di antara para perempuan yang ditahan, saya melihat sendiri mulai dari seorang gadis berusia 17 tahun hingga seorang perempuan lanjut usia berusia 80 tahun. Di antara mereka ada lulusan universitas, perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, ibu, dan perempuan lanjut usia. Bagi semuanya, yang ada hanyalah penderitaan dan kesengsaraan. Tidak ada pertimbangan apa pun terhadap kondisi masing-masing tahanan.”

Ayah telah terbebas dari jeruji Penjara Damon, bukan hanya untuk menceritakan kisahnya sendiri, tetapi juga untuk menjadi seorang saksi yang dapat mengungkapkan kepada kami, untuk pertama kalinya, sejumlah detail mengenai apa yang dialami rekan kami sesama jurnalis, Farah Abu Ayyash, di balik jeruji penjara.

Mengenai pengamatannya terhadap hari-hari penuh kesedihan dan penderitaan yang dialami Farah di Penjara Damon, ia mengatakan:

“Ketika saya hendak keluar dari penjara, Farah masih berada di Penjara Damon. Kami ditempatkan di sel isolasi. Namun, sebenarnya itu bahkan bukan sel isolasi, melainkan seperti sel penyiksaan. Saya, Farah, dan semua orang yang ditempatkan di sel tersebut tidak melakukan kesalahan apa pun dan tidak melakukan tindakan apa pun. Kami sama seperti para gadis lainnya di blok tahanan itu. Namun, karena alasan yang sama sekali tidak jelas, kami dipindahkan ke sel tersebut yang kondisinya sangat buruk dan penuh kelembapan. Jerawat dan berbagai masalah kulit muncul di tubuh saya dan Farah, tetapi kami tidak punya pilihan selain menjalani kondisi tersebut. Sel itu sangat lembap dan tidak terkena sinar matahari. Farah sangat merindukan keluarganya dan kehidupan bersama mereka. Dia benar-benar menjadi korban ketidakadilan dan tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Apa yang disampaikan Ayah tentang Farah sungguh mengguncangkan. Detail-detail yang selama ini tersembunyi di balik tembok Damon dari pendengaran semua orang, akhirnya terungkap melalui kesaksian Ayah, perempuan Palestina yang telah dibebaskan tersebut.

Mengenai berbagai masalah yang dialami Farah selama masa penahanan, ia mengatakan:

“Farah sangat menderita karena takut terhadap bom suara yang dilemparkan para penjaga penjara Israel ke arah mereka di dalam sel ketika melakukan penggerebekan pada malam hari. Karena itu, ia mengalami serangan saraf. Secara umum, ketika mengetahui bahwa akan terjadi penggerebekan terhadap penjara perempuan atau ketika mendengar suara bom, ia mengalami kejang.”

Ayah juga menjelaskan apa yang disaksikannya mengenai penyiksaan terhadap jurnalis Tasnim tersebut di penjara-penjara rezim Zionis:

“Farah berulang kali dipukuli selama masa penahanannya. Ketika terjadi penggerebekan malam terhadap sel-sel, ia juga menerima pukulan. Namun, syukurlah, bekas luka fisiknya telah menghilang, sementara dampak psikologisnya masih tetap ada.”

Farah masuk penjara semata-mata sebagai seorang jurnalis. Sejak penangkapannya pada Agustus 2025, sidang perkaranya terus-menerus ditunda, sementara nasib kasusnya terus ditangguhkan dari satu persidangan ke persidangan berikutnya.

Jurnalis Palestina Khaled Sabbarneh menjelaskan alasan pihak Zionis menghalangi proses pembebasan jurnalis muda Palestina tersebut:

“Mereka ingin membungkam narasi dan suara Palestina untuk selamanya, karena rezim pendudukan ingin membangun sebuah narasi Zionis dan hanya menyajikan versinya sendiri. Tuduhan terhadap Farah hanyalah bahwa ia menjalankan pekerjaan jurnalistik dan tidak melakukan hal lainnya. Namun, rezim pendudukan bahkan membalas dendam kepada para jurnalis. Rezim pendudukan membuat setiap jurnalis harus membayar harga atas pekerjaannya. Dalam hal ini, Farah merupakan contoh seorang jurnalis perempuan Palestina yang berdedikasi dan harus membayar harga atas perjuangannya.”

Kesaksian Ayah mengenai hari-hari penuh penderitaan yang dialami Farah Abu Ayyash di Penjara Damon telah membuka jendela menuju dunia yang selama ini tertutup. Kesaksian tersebut mengungkap kepada publik sebagian kisah Farah yang sebelumnya belum pernah terdengar.

Ayah, perempuan Palestina yang telah dibebaskan itu, baru beberapa waktu lalu keluar dari Penjara Damon. Namun, rekan kami Farah Abu Ayyash dan para perempuan Palestina pemberani lainnya masih berada dalam penahanan di balik pintu-pintu penjara tersebut. Pintu-pintu itu masih tertutup bagi mereka, tetapi harapan mereka tetap menantikan hari ketika mereka dibebaskan dari penjara-penjara mengerikan milik Zionis dan kembali ke pelukan keluarga mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *