Pembersihan di Mossad; Kebutuhan Keamanan atau Balas Dendam Politik?

Mosad

Al-Quds, Purna Warta – Pencopotan sejumlah pejabat senior Mossad kembali mengungkap keretakan internal dalam badan intelijen rezim Zionis. Para kritikus menilai langkah tersebut bukan semata-mata sebagai upaya reformasi struktur keamanan, melainkan sebagai manuver politik untuk mencari pihak yang disalahkan atas kegagalan intelijen dan militer dalam menghadapi Iran dan Perlawanan, sekaligus untuk memperoleh kepuasan Benjamin Netanyahu dan Donald Trump.

Menurut laporan jaringan Al Mayadeen dalam sebuah analisis menulis bahwa badan intelijen rezim Zionis saat ini menghadapi krisis berlapis. Krisis tersebut semakin memburuk akibat kegagalan intelijen dan militer dalam menghadapi Iran dan Perlawanan, serta meningkatnya intervensi politik dalam aktivitas lembaga-lembaga keamanan. Apa yang kini terjadi di badan intelijen luar negeri rezim Zionis merupakan salah satu manifestasi terpenting dari krisis tersebut. Sebelumnya, krisis serupa juga terlihat di badan keamanan internal (Shin Bet), sementara Direktorat Intelijen Militer “Aman” juga masih menghadapi konsekuensi dari kegagalan strategisnya sejak 7 Oktober 2023.

Krisis yang kini melanda Mossad, dengan dicopotnya dua pejabat senior organisasi tersebut, tidak sekadar menyangkut pergantian beberapa pejabat intelijen, tetapi berkaitan dengan hakikat pendekatan keamanan badan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, aparat keamanan rezim Zionis semakin menjauh dari kajian pemikiran, pemahaman sosial, dan analisis psikologis terhadap masyarakat sasaran, serta lebih berfokus pada keberhasilan operasional dan jangka pendek yang bertumpu pada teknologi spionase dan pembunuhan. Dengan demikian, menurut pandangan mereka, eliminasi para komandan Perlawanan dan penetrasi intelijen saja dianggap dapat menciptakan perubahan strategis dan berkelanjutan dalam jalannya peperangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Mossad juga mengalami sejumlah perkembangan internal yang signifikan. Setelah berakhirnya masa jabatan David Barnea sebagai kepala organisasi tersebut, secara tidak terduga wakilnya—yang dipandang sebagai kandidat alami untuk menggantikannya—tidak terpilih menjadi kepala Mossad. Sebaliknya, Netanyahu memilih Roman Gofman, penasihat militernya, untuk memimpin organisasi tersebut. Pada saat itu, muncul laporan mengenai peran Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri rezim Zionis, dalam penunjukan tersebut. Persoalan ini semakin memperkuat perdebatan mengenai meningkatnya campur tangan dirinya dalam penunjukan pejabat pada posisi-posisi sensitif pemerintahan.

Barnea dan sejumlah anggota Mossad menentang pengangkatan Gofman karena ia tidak memiliki pengalaman bekerja di Mossad dan langsung masuk dari struktur militer untuk memimpin organisasi tersebut. Sementara itu, wakil Barnea yang telah berpengalaman telah bekerja di Mossad selama lebih dari dua dekade dan dianggap sebagai kandidat alami untuk posisi tersebut.

Hal serupa sebelumnya juga terjadi di Shin Bet. Netanyahu memberhentikan Ronen Bar, kepala organisasi tersebut, sebelum masa jabatan resminya berakhir dan menggantikannya dengan David Zini, seorang perwira militer yang berasal dari luar struktur Shin Bet. Penunjukan tersebut masih menimbulkan dampak terhadap hubungan antara pimpinan baru dan jajaran internal organisasi, bahkan menyebabkan terhentinya sejumlah proses promosi di Shin Bet.

Setelah menjabat sebagai kepala Mossad, Gofman memberhentikan wakilnya yang sebelumnya merupakan salah satu kandidat untuk memimpin organisasi tersebut dan menggantinya dengan orang lain. Setelah itu, ia memulai perubahan besar dalam struktur kepemimpinan senior Mossad dan menyingkirkan sejumlah pejabat senior organisasi tersebut.

Keterkaitan Pencopotan dengan Perang Melawan Iran

Perubahan-perubahan tersebut berlangsung ketika Netanyahu dan Trump masih menganggap perang melawan Iran belum berakhir dan, menurut pandangan mereka, tujuan utama perang tersebut belum sepenuhnya tercapai. Oleh karena itu, upaya menemukan cara untuk mengurangi dampak kegagalan serta mencapai perubahan di dalam Iran yang dapat menjadi landasan untuk menyatakan kemenangan menjadi semakin penting.

Menurut analisis tersebut, sebagian besar perhatian terhadap kinerja Mossad saat ini berkaitan dengan peran yang dimainkan organisasi tersebut dalam merancang dan melaksanakan berbagai rencana terkait Iran. Dalam konteks ini, terungkap bahwa Mossad dalam sebuah rencana untuk menciptakan ketidakstabilan dan mengubah struktur politik Iran menggunakan jaringan agen dan unsur-unsur internal, serta pasukan Kurdi di wilayah perbatasan.

Dalam narasi tersebut, Netanyahu menyetujui rencana Mossad dan memanfaatkan saran Gofman, yang pada saat itu menjabat sebagai penasihat militernya. Namun, rencana tersebut gagal mencapai tujuannya. Iran sebelumnya telah mengidentifikasi dan menghancurkan sebagian jaringan yang terkait dengan rencana tersebut. Upaya untuk menciptakan intervensi Kurdi di dalam Iran juga mengalami kegagalan.

Pembersihan di Mossad

Menurut laporan Al Mayadeen, Netanyahu, sebagaimana pendekatannya terhadap Shin Bet, kini tengah memanfaatkan kegagalan Mossad secara politik. Ia berupaya mencopot sebagian besar pejabat senior organisasi tersebut dengan tujuan membentuk struktur yang lebih selaras dengan kabinet.

Dalam konteks ini, sejumlah mantan pejabat Mossad juga menyatakan keprihatinan terhadap perkembangan yang sedang berlangsung. Hagai Gilan, mantan kepala divisi “Caesarea” Mossad, dalam siaran Channel 12 rezim Zionis menggambarkan perkembangan terbaru tersebut sebagai semacam “pembersihan di Mossad” dan mengatakan bahwa proses tersebut dilakukan atas perintah langsung Netanyahu.

Menurut pandangan ini, pencopotan yang terjadi baru-baru ini tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan pertimbangan profesional dan keamanan. Langkah tersebut juga dapat berkaitan dengan upaya Netanyahu mengelola konsekuensi politik dari kegagalan keamanan di hadapan Trump, serta pertimbangan elektoral.

Krisis Lebih Dalam daripada Sekadar Pergantian Beberapa Pejabat

Namun, krisis yang dihadapi badan-badan intelijen dan keamanan rezim Zionis memiliki akar yang lebih dalam. Dalam beberapa dekade terakhir, rezim ini juga mengalami kegagalan intelijen dalam memprediksi ancaman-ancaman besar. Namun, dukungan luas dari negara-negara Barat dan Amerika Serikat memungkinkan rezim tersebut memperbaiki dan membangun kembali struktur keamanannya.

Dari perspektif ini, Al Mayadeen menekankan bahwa badan-badan intelijen rezim Zionis telah semakin menjauh dari kajian pemikiran yang mendalam dan pemahaman nyata mengenai masyarakat di sekitarnya. Menurut analisis tersebut, ketergantungan berlebihan pada teknologi keamanan, spionase, dan militer tidak dapat menggantikan pemahaman sosial dan politik mengenai pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.

Dalam analisis ini, tiga kegagalan besar disebut sebagai contoh utama kegagalan dalam memprediksi perkembangan: Perang Oktober 1973, Operasi 7 Oktober 2023, dan perang melawan Iran pada 2026.

Setelah kegagalan intelijen pada 1973, rezim Zionis melakukan serangkaian evaluasi dan pembenahan mendalam terhadap struktur keamanan dan intelijennya. Namun, konsekuensi dari kegagalan pada 7 Oktober 2023 masih terus berlangsung, sementara perang melawan Iran telah membawa krisis tersebut ke tahap baru.

Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan sekadar pencopotan beberapa pejabat di Mossad, melainkan munculnya krisis yang lebih luas dalam struktur pemikiran dan keamanan rezim Zionis. Jika kegagalan intelijen dan politik terus berlanjut, krisis tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih serius bagi rezim tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *