Pelapor Khusus PBB Kecam Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat, Desak Pertanggungjawaban atas Dugaan Kejahatan

Albaness

New York, Purna Warta – Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, mengecam meningkatnya kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki. Ia mendesak masyarakat internasional untuk melindungi warga sipil Palestina serta memastikan adanya pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran hukum internasional dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Baca juga: Empat Warga Palestina Tewas dalam Serangan Pemukim Israel di Kota Tal, Tepi Barat

Dalam pernyataannya pada Jumat, Albanese mengatakan bahwa serangan-serangan bersenjata dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat, terutama di bagian utara dan sekitar Kota Nablus.

“Peringatan! Serangan-serangan kekerasan dilaporkan terjadi di seluruh Tepi Barat, khususnya di wilayah utara dan Nablus!” tulis Albanese melalui akun media sosial X. Ia menyatakan bahwa para pemukim Israel, yang menurutnya didukung oleh pasukan pendudukan Israel, melakukan serangan secara terkoordinasi terhadap warga Palestina.

Albanese menyebut bahwa “kelompok-kelompok pemukim, teroris yang didukung penuh oleh tentara Israel” secara terbuka menyerukan pertumpahan darah. Ia kemudian mendesak negara-negara di dunia untuk mempertimbangkan pengerahan kehadiran internasional guna memberikan perlindungan kepada warga sipil Palestina.

Ia juga membagikan tangkapan layar yang beredar di media sosial Israel yang memuat tulisan: “Kami ingin balas dendam. Bukan permukiman baru, bukan janji pembangunan unit rumah tambahan. Kami ingin melihat darah.” Keaslian unggahan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Pernyataan Albanese disampaikan beberapa jam setelah sejumlah organisasi hak asasi manusia Palestina menyerukan intervensi segera dari masyarakat internasional untuk menghentikan serangan yang dilakukan oleh para pemukim Israel dan pasukan Israel di berbagai wilayah Tepi Barat.

Seruan tersebut muncul setelah serangan di Kota Tal, dekat Nablus, yang menurut otoritas Palestina mengakibatkan empat warga Palestina tewas. Otoritas Palestina menyatakan bahwa serangan dilakukan oleh para pemukim Israel yang didukung oleh pasukan militer Israel. Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan tersebut.

Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz memerintahkan pelaksanaan operasi militer berskala luas yang menyasar sejumlah kota dan desa Palestina di Tepi Barat.

Baca juga: Yedioth Ahronoth: Israel Terancam Kehilangan Pendukung Terbesarnya di Amerika Serikat

Setelah itu, para pemukim Israel dilaporkan menyerang Desa Sarra dan Urif di Kegubernuran Nablus. Menurut laporan tersebut, sejumlah rumah dan properti warga Palestina dibakar dalam serangan tersebut.

Kekerasan di Tepi Barat meningkat tajam sejak dimulainya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sedikitnya 1.182 warga Palestina, termasuk 243 anak-anak, tewas di Tepi Barat antara Oktober 2023 hingga 13 Juli 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari 70 korban jiwa tercatat sejak awal tahun 2026.

Dalam periode yang sama, OCHA juga mencatat peningkatan aktivitas pembangunan permukiman Israel yang dianggap ilegal menurut hukum internasional, termasuk upaya mengaktifkan kembali permukiman Kadim dan Ganim di Kegubernuran Jenin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *