Yedioth Ahronoth: Israel Terancam Kehilangan Pendukung Terbesarnya di Amerika Serikat

hami

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah laporan yang dimuat surat kabar Israel Yedioth Ahronoth menyatakan bahwa kalangan politik dan diplomatik Israel semakin mengkhawatirkan menurunnya citra negara tersebut di Amerika Serikat, terutama di kalangan generasi muda dan komunitas akademik. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat Israel kehilangan pendukung internasional terbesarnya dan semakin terisolasi di panggung global.

Laporan tersebut menyebut bahwa meningkatnya dukungan terhadap perjuangan Palestina di Amerika Serikat tidak lagi terbatas pada slogan “Free Palestine” yang kerap terdengar di kampus-kampus. Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru yang dikutip surat kabar itu, tingkat kepercayaan dan dukungan publik Amerika terhadap Israel mengalami penurunan yang signifikan.

Jurnalis Israel Amir Bogan menulis bahwa pada tahun 2026 sekitar empat juta lulusan dari berbagai universitas di Amerika Serikat akan memasuki dunia kerja, termasuk di firma hukum, Wall Street, industri hiburan Hollywood, serta perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google dan Microsoft.

Menurut Bogan, sejak pecahnya perang Gaza pada 7 Oktober 2023, gerakan solidaritas terhadap Palestina telah berkembang pesat di berbagai kampus Amerika Serikat dan mendapat dukungan luas dari kalangan mahasiswa. Ia menilai respons awal pemerintah Israel terhadap aksi-aksi tersebut, yang menurutnya cenderung meremehkan dan menghina para mahasiswa, justru memperburuk citra Israel di mata generasi muda Amerika.

Bogan juga berpendapat bahwa semakin banyak warga Amerika yang menolak kebijakan Israel, sementara dukungan politik dari sebagian anggota pemerintahan dan Kongres Amerika Serikat terhadap Israel mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Ia menyoroti hasil survei yang menunjukkan bahwa sekitar 75 persen warga Amerika berusia 18 hingga 29 tahun memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Menurutnya, perubahan persepsi di kalangan generasi muda merupakan tantangan strategis yang jauh lebih serius dibandingkan kritik-kritik politik yang selama ini dihadapi Tel Aviv.

Dalam artikelnya, Bogan menulis bahwa banyak warga Amerika mengubah pandangan mereka setelah menyaksikan besarnya jumlah korban sipil di Gaza serta meningkatnya kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel di Tepi Barat. Kondisi tersebut, menurutnya, memicu demonstrasi di berbagai kota Amerika Serikat dan mendorong munculnya kamp-kamp protes di sejumlah universitas.

Ia memperingatkan bahwa gelombang sentimen anti-Israel di Amerika Serikat merupakan bagian dari perubahan opini publik yang lebih luas di tingkat internasional. Menurut Bogan, ancaman terbesar terhadap masa depan Israel bukan semata-mata berasal dari tekanan luar, melainkan dari persoalan internal berupa “narsisme, kesombongan yang berlebihan, dan keyakinan buta bahwa kebijakan yang ditempuh selalu benar”, yang menurutnya tercermin dalam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Perubahan sikap publik Amerika Serikat terhadap Israel juga tercermin dalam berbagai survei independen yang diterbitkan dalam dua tahun terakhir. Sejumlah lembaga survei mencatat adanya penurunan dukungan terhadap operasi militer Israel di Gaza, terutama di kalangan pemilih muda dan pendukung Partai Demokrat. Gelombang demonstrasi pro-Palestina di kampus-kampus seperti Columbia University, Harvard University, University of California, dan berbagai perguruan tinggi lainnya sejak 2024 telah menjadi salah satu fenomena politik terbesar di lingkungan akademik Amerika dalam beberapa dekade terakhir. Aksi-aksi tersebut mendorong perdebatan nasional mengenai kebebasan berekspresi, kebijakan luar negeri Amerika Serikat, serta hubungan Washington dengan Israel.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat tetap mempertahankan dukungan militer dan diplomatiknya kepada Israel, meskipun menghadapi tekanan yang semakin besar dari kelompok hak asasi manusia, organisasi masyarakat sipil, serta sebagian anggota Kongres yang menyerukan peninjauan kembali bantuan militer dan kebijakan Washington terhadap konflik Israel–Palestina. Perbedaan antara kebijakan resmi pemerintah dan perubahan opini publik tersebut dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai salah satu dinamika penting yang akan memengaruhi arah hubungan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *