Al-Quds, Purna Warta – Ketua Partai Demokrat di wilayah pendudukan Israel, Yair Golan, menuduh pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara sengaja mengubah Tepi Barat yang diduduki menjadi “gudang mesiu” melalui kebijakan yang dinilai memperburuk ketegangan dan mendorong eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.
Dalam pernyataannya pada Sabtu, Golan mengatakan bahwa alih-alih menghentikan serangan para pemukim Israel terhadap warga Palestina, kabinet Netanyahu justru memberikan dukungan politik dan mendorong berlanjutnya aksi-aksi tersebut. Menurutnya, kebijakan pemerintah telah menciptakan kondisi yang semakin tidak stabil di Tepi Barat.
Golan juga menyoroti pengumuman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengenai rencana pembangunan lebih banyak permukiman dan pos-pos permukiman baru di Tepi Barat. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya mengancam keamanan kawasan, tetapi juga membahayakan keselamatan prajurit Israel sendiri. Menurut Golan, militer Israel akan dipaksa mengerahkan lebih banyak pasukan untuk melindungi permukiman-permukiman baru dan menghadapi konsekuensi dari kebijakan pemerintah.
Selain itu, Golan mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh terhadap insiden kekerasan terbaru di sekitar permukiman Havat Gilad dan Desa Tell. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat dalam aksi kekerasan maupun pelanggaran hukum harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Sementara itu, pada Sabtu dini hari, militer Israel bersama badan keamanan dalam negeri Shin Bet (Shabak) dan Polisi Perbatasan melancarkan operasi besar-besaran di berbagai wilayah Tepi Barat. Dalam operasi tersebut, lebih dari 70 warga Palestina ditangkap dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa pasukan melakukan penggerebekan terhadap lebih dari 300 lokasi di Tepi Barat dan menangkap sejumlah orang yang disebut sebagai buronan yang memiliki keterkaitan dengan kelompok Hamas.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir. Serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap desa-desa Palestina, termasuk pembakaran rumah, lahan pertanian, kendaraan, dan tempat ibadah, dilaporkan terus meningkat. Dalam beberapa insiden terbaru, dua masjid di Kur (Tulkarm) dan Qusra (Nablus) dibakar oleh pemukim Israel, sementara slogan-slogan bernada rasis dicoretkan di dinding bangunan. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menyebut serangan itu sebagai “kejahatan serius” terhadap tempat-tempat suci Islam dan menyatakan bahwa sepanjang tahun 2025 sedikitnya 45 masjid telah menjadi sasaran serangan pemukim.
Komisi Palestina untuk Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah juga melaporkan bahwa selama paruh pertama tahun 2026 terjadi 3.488 serangan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat. Serangan-serangan tersebut meliputi penyerbuan desa, pembakaran rumah dan lahan pertanian, penembakan terhadap warga Palestina, perampasan tanah, serta pendirian pos-pos permukiman baru. Menurut komisi tersebut, aksi-aksi tersebut telah menyebabkan sedikitnya 17 warga Palestina tewas hanya dalam enam bulan pertama tahun ini.
Data resmi Palestina menunjukkan bahwa sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, operasi militer Israel dan kekerasan pemukim di Tepi Barat telah menyebabkan sekitar 1.200 warga Palestina tewas, hampir 13.000 orang terluka, dan sekitar 24.000 warga Palestina ditangkap. Di sisi lain, pemerintah Israel terus memperluas permukiman di wilayah yang diduduki, kebijakan yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sebagian besar komunitas internasional dinilai bertentangan dengan hukum internasional dan dinilai semakin memperkecil peluang terwujudnya solusi dua negara.


