Tehran, Purna Warta – Memperingati Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, Kementerian Luar Negeri Iran kembali menegaskan dukungan teguh negara itu terhadap perjuangan rakyat Palestina, menggambarkan penderitaan mereka sebagai “luka terdalam dalam hati nurani manusia.”
Baca juga: Kementerian Kesehatan: Korban Tewas Akibat Perang Israel di Gaza Lampaui 70.000 Jiwa
Dalam sebuah unggahan di platform X, juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Palestina tetap menjadi “perjuangan universal terbesar untuk keadilan dan solidaritas,” seraya menyoroti penderitaan berkelanjutan rakyat Palestina di bawah “rezim apartheid pendudukan.”
Pernyataan tersebut merujuk pada praktik puluhan tahun yang dilakukan rezim Israel dalam menerapkan agenda rasis yang ekstrem dan mematikan terhadap rakyat Palestina—yang telah merenggut ratusan ribu nyawa dan mengusir jutaan lainnya—termasuk melalui perang genosida yang masih berlangsung di Jalur Gaza.
Genosida yang dimulai pada Oktober 2023 itu sendiri telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza menjadi puing-puing.
Rezim Israel terus melakukan pelanggaran mematikan setiap hari terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada awal Oktober bersama gerakan perlawanan Hamas. Pengamat menilai tindakan ini sebagai kelanjutan dari pola genosida tersebut.
Baghaei mengecam kekerasan dan penindasan yang terus-menerus menimpa rakyat Palestina, sambil menyoroti peran Amerika Serikat dan sekutunya yang memberikan impunitas atas kejahatan tersebut.
Baca juga: PBB Kecam Kebijakan Israel yang Disebut sebagai ‘Penyiksaan Terorganisir’ Terhadap Warga Palestina
Ia menyerukan kepada komunitas internasional agar tidak berhenti pada pernyataan semata, tetapi memenuhi kewajiban hukum dan moral mereka dengan mendukung “perlawanan sah rakyat Palestina untuk mengakhiri pendudukan dan memperoleh hak dasar mereka atas penentuan nasib sendiri.”
Pernyataan itu muncul ketika para aktivis HAM dan masyarakat umum di seluruh dunia memperingati hari tersebut melalui aksi demonstrasi, kampanye informasi, serta seruan untuk tindakan nyata guna mengakhiri kampanye pendudukan dan agresi rezim yang didukung Barat terhadap rakyat Palestina.


