Al-Quds, Purna Warta – Pada hari ketiga perang, media-media Amerika menerbitkan laporan mengenai langkah-langkah Benjamin Netanyahu di ruang situasi Gedung Putih untuk mendorong Donald Trump memulai perang melawan Iran dengan asumsi bahwa tumbangnya pemerintahan Iran merupakan hal yang pasti. Namun kini, setelah lebih dari dua bulan berlalu, perdana menteri rezim Zionis tersebut membantah hal itu.
Baca juga: 18 Tentara Israel Tewas dalam Pertempuran Melawan Hizbullah sejak Maret
Malam tadi, Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya dengan program “60 Minutes” di jaringan televisi Amerika CBS mengklaim bahwa laporan-laporan yang menyebut dirinya menganggap perang melawan Iran sebagai sesuatu yang mudah adalah tidak benar. Ia menyatakan: “Baik saya maupun Trump mengetahui bahwa melalui tindakan militer, kemungkinan jatuhnya Iran bukanlah sesuatu yang pasti.”
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu merujuk pada laporan The New York Times yang diterbitkan pada 2 Maret (11 Esfand). Laporan itu membahas proses pengambilan keputusan Donald Trump untuk memulai perang melawan Iran. Disebutkan bahwa dukungan Trump terhadap perang dengan Iran dipengaruhi oleh seorang pemimpin Israel yang bertekad mengakhiri jalur diplomasi, sementara hanya sedikit penasihat presiden AS yang menyatakan penolakan terhadap langkah tersebut.
Menurut laporan New York Times, Netanyahu pada pagi hari 11 Februari (22 Bahman) memasuki kantor kerja Trump dengan tekad menjaga presiden AS tetap berada di jalur perang. Selama beberapa pekan, Amerika Serikat dan Israel secara diam-diam membahas kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Namun, pejabat pemerintahan Trump baru-baru ini mulai melakukan negosiasi dengan pihak Iran mengenai masa depan program nuklir mereka, dan Netanyahu ingin memastikan bahwa upaya diplomatik baru itu tidak melemahkan rencana perang.
Baca juga: Maariv: Penargetan “Iron Dome” Merupakan Pukulan Berat Terhadap Kredibilitas Pertahanan Israel
Meski demikian, Benjamin Netanyahu dalam wawancara yang disiarkan CBS tadi malam membantah laporan tersebut. Ini merupakan reaksi pertama Netanyahu terhadap laporan itu setelah berlalu tujuh puluh hari. Netanyahu menegaskan bahwa dirinya dan Trump sepakat bahwa terdapat ketidakpastian serta risiko besar dalam tindakan militer untuk menjatuhkan pemerintahan Iran, meskipun Trump dan Netanyahu sebelumnya mendefinisikan hal tersebut sebagai salah satu tujuan perang.
Sementara itu, Gideon Sa’ar, Menteri Luar Negeri rezim Zionis, dua pekan lalu dalam pernyataan yang bertentangan dengan Netanyahu mengklaim bahwa menjatuhkan pemerintahan Iran tidak pernah menjadi tujuan perang melawan Iran.


