Al-Quds, Purna Warta – Sebuah survei opini yang dipublikasikan oleh surat kabar Ibrani Maariv pada Jumat menunjukkan bahwa sebagian besar pemukim lebih memilih Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, mundur dari kehidupan politik. Survei tersebut juga menyebutkan bahwa oposisi kini memimpin dan memperoleh mayoritas yang dibutuhkan (61 kursi) untuk membentuk pemerintahan jika pemilu digelar saat ini.
Baca juga: Ulama Bahrain Meluncurkan Seruan Mendesak untuk Menghadapi Upaya Pelemahan Aktivitas Keagamaan
Hasil survei yang dilakukan oleh lembaga Lazar menunjukkan bahwa 55% warga Israel mendukung Netanyahu meninggalkan politik. Survei tersebut melibatkan sampel acak sebanyak 502 responden Israel dengan margin kesalahan 4,4%. Sebanyak 38% responden ingin Netanyahu tetap mencalonkan diri memimpin Partai Likud, sementara 55% lainnya lebih memilih ia pensiun dari politik.
Surat kabar Maariv menyebut bahwa “di tengah ketidakjelasan yang terus berlanjut” dalam perang melawan Iran, “terjebaknya kembali Israel dalam konflik Lebanon”, serta meningkatnya kekerasan di masyarakat Israel, partai Likud yang dipimpin Netanyahu dan partai Jewish Power yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional ekstrem kanan Itamar Ben-Gvir kehilangan dukungan kursi pada pekan ini.
Akibatnya, blok koalisi melemah menjadi 49 kursi, sementara blok oposisi meningkat dan mencapai mayoritas 61 kursi. Partai-partai Arab memperoleh 10 kursi jika pemilu diadakan saat ini.
Sebagai catatan, diperlukan dukungan minimal 61 anggota Knesset dari total 120 kursi untuk membentuk pemerintahan.
Baca juga: Otoritas Israel Menyetujui Rencana Pembangunan 60.000 Unit Permukiman di Tepi Barat
Situasi ini terjadi di tengah kekhawatiran koalisi penguasa akan kehilangan kursi dalam pemilu mendatang. Pada Rabu, pemerintah mengajukan rancangan undang-undang untuk membubarkan parlemen sebagai upaya menghambat langkah oposisi yang sebelumnya telah mengajukan dua rancangan serupa, menurut laporan media Ibrani.
Masa jabatan Knesset saat ini berakhir pada Oktober mendatang, namun terdapat pembahasan mengenai kemungkinan pemilu dipercepat pada September. Diperkirakan pekan depan Knesset akan memulai proses pemungutan suara untuk pembubaran parlemen dan penentuan jadwal pemilu.


