Al-Quds, Purna Warta – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Lebanon meskipun tengah berlaku gencatan senjata 10 hari. Ia menyatakan bahwa militer Israel siap menggunakan “seluruh kekuatan” jika diperlukan, dalam pernyataan yang memicu kekhawatiran baru di tengah situasi yang sudah tegang.
Menurut laporan, Katz mengatakan bahwa jika pemerintah Lebanon gagal memenuhi kewajibannya untuk melucuti Hizbullah, maka tentara Israel akan mengambil tindakan militer untuk melaksanakannya. Ia juga mengancam pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dan menyatakan bahwa wilayah selatan Lebanon bisa mengalami nasib serupa dengan Rafah dan Beit Hanoun di Jalur Gaza.
Dalam sebuah acara di permukiman Tepi Barat, Katz menegaskan bahwa atas koordinasi dengan Benjamin Netanyahu, militer telah diperintahkan untuk tetap siap menggunakan kekuatan darat dan udara bahkan selama masa gencatan senjata. Ia juga menyebut bahwa perintah evakuasi telah dikeluarkan bagi warga di desa-desa dekat perbatasan, dengan alasan bangunan-bangunan tersebut digunakan oleh Hizbullah.
Katz memperingatkan bahwa “setiap struktur yang mengancam pasukan kami akan dihancurkan sepenuhnya” dan menegaskan bahwa operasi untuk menghancurkan “infrastruktur Hizbullah” akan terus berlanjut. Ia juga menyatakan bahwa zona keamanan hingga apa yang disebut sebagai “garis kuning” harus bebas dari penduduk dan senjata, serta memperluas zona tersebut hingga Sungai Litani.
Pernyataan ini muncul meskipun sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata 10 hari di Lebanon, yang dilaporkan terjadi di bawah tekanan Iran. Namun, militer Israel disebut telah melanggar kesepakatan tersebut melalui beberapa serangan udara ke wilayah selatan Lebanon.
Laporan media internasional juga menyebut bahwa Israel menetapkan “zona penyangga” di wilayah Lebanon, yang disebut sebagai “garis pertahanan awal”, dengan tujuan mencegah kembalinya warga sipil ke daerah yang berada di bawah kontrol militer. Tentara Israel juga memperingatkan bahwa penduduk dari sekitar 60 desa di selatan Lebanon tidak diizinkan kembali ke rumah mereka.
Surat kabar Israel melaporkan bahwa Tel Aviv berencana mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di selatan Lebanon. Sumber militer juga menyebut adanya rencana untuk membangun sekitar 20 pangkalan militer baru di kawasan tersebut.


