Media Israel: Situasi Tel Aviv Sangat, Sangat Buruk

Media Israel 1

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah media Israel menyebut kesepakatan kerangka dengan Lebanon sebagai sebuah ilusi yang pada akhirnya akan berbalik merugikan Tel Aviv. Media tersebut juga menilai bahwa kondisi Israel saat ini berada dalam situasi yang “sangat, sangat buruk.”

Menurut laporan situs berita Israel Zman mengomentari penandatanganan kesepakatan kerangka antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa “kesepakatan dengan Lebanon adalah ilusi yang akan meledak di hadapan kita.”

Media tersebut menambahkan bahwa pemerintah Amerika Serikat sangat menginginkan tercapainya kesepakatan antara Israel dan Lebanon agar Presiden Donald Trump memiliki kesempatan lain untuk mengumumkan sebuah pencapaian diplomatik.

Laporan itu juga menyebut bahwa kesepakatan dengan Lebanon merupakan ilusi, seraya membandingkannya dengan pernyataan Trump mengenai pembangunan hotel dan kasino di Gaza atau gagasan tentang Iran tanpa senjata nuklir maupun rudal balistik.

Menurut situs Zman, kondisi Israel saat ini “sangat, sangat buruk” dan Tel Aviv tidak memperoleh keuntungan nyata dari kesepakatan tersebut. Media itu berpendapat bahwa kesepakatan dicapai di bawah tekanan Washington yang dinilai telah lelah menghadapi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Laporan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memaksakan serangkaian kesepakatan kepada Israel yang, menurut penilaian media itu, “tidak lebih berharga daripada kertas tempat kesepakatan tersebut dituliskan.”

Sejumlah media internasional melaporkan bahwa kesepakatan kerangka antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat bertujuan meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan kedua negara. Dalam pengaturan tersebut, Israel dijadwalkan melakukan penarikan bertahap dari sebagian wilayah Lebanon selatan, sementara Angkatan Bersenjata Lebanon akan memperluas pengerahan pasukan di kawasan tersebut. Namun, sejumlah kalangan di Israel mengkritik kesepakatan itu karena dinilai tidak memberikan jaminan keamanan yang memadai terhadap ancaman Hizbullah.

Di pihak Lebanon, Hizbullah dan sejumlah tokoh politik juga menyampaikan penolakan terhadap beberapa ketentuan dalam kesepakatan tersebut. Mereka menilai pengaturan yang dimediasi Washington lebih menguntungkan kepentingan Israel dan berpotensi membatasi ruang gerak kelompok perlawanan di Lebanon selatan. Perbedaan pandangan dari kedua belah pihak tersebut menunjukkan bahwa implementasi kesepakatan masih menghadapi tantangan politik dan keamanan di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *