Dukungan Republikan Muda AS terhadap Israel Mulai Melemah di Tengah Konflik Gaza dan Iran

Republikan

Washington, Purna Warta – Dukungan terhadap Israel di kalangan anggota muda Partai Republik Amerika Serikat dilaporkan mulai mengalami penurunan. Pergeseran sikap tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tradisional Partai Republik terhadap Israel, terutama setelah perang di Gaza serta ketegangan yang melibatkan Iran.

Menurut laporan Axios, meningkatnya kritik dari kalangan Republikan muda dipicu oleh berlanjutnya perang di Jalur Gaza serta ketegangan yang muncul setelah operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Kondisi tersebut dinilai telah memberikan tekanan baru terhadap hubungan politik antara Partai Republik dan Israel.

Direktur University of Maryland Critical Issues Poll, Shibley Telhami, mengatakan bahwa terdapat perubahan yang mulai terlihat di kalangan pemilih muda Partai Republik. Menurutnya, dinamika tersebut menunjukkan adanya pergeseran sikap yang semakin nyata dibandingkan generasi sebelumnya.

Sejumlah hasil survei menunjukkan adanya perbedaan pandangan berdasarkan kelompok usia. Survei Pew Research Center pada April menemukan bahwa 40 persen anggota Partai Republik memiliki pandangan yang tidak menguntungkan terhadap Israel. Persentase tersebut meningkat menjadi 57 persen di kalangan Republikan berusia 18–49 tahun, sementara hanya 25 persen di kelompok usia 50 tahun ke atas yang memiliki pandangan serupa.

Sementara itu, survei Quinnipiac University pada Juni menunjukkan bahwa satu dari lima anggota Partai Republik menilai Amerika Serikat memberikan dukungan yang terlalu besar kepada Israel. Angka tersebut meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan periode setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.

Survei lain yang dilakukan University of Maryland Critical Issues Poll menunjukkan bahwa hanya 46 persen anggota Partai Republik yang menganggap operasi militer Israel di Gaza sebagai bentuk “pembelaan diri yang dapat dibenarkan”. Di kalangan Republikan berusia 18 hingga 34 tahun, tingkat dukungan terhadap pandangan tersebut turun menjadi hanya 22 persen.

Laporan Axios juga menyebut bahwa strategi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang selama bertahun-tahun berupaya memperkuat hubungan dengan Partai Republik untuk mengimbangi menurunnya dukungan dari Partai Demokrat kini menghadapi tantangan baru. Selain perubahan opini publik, muncul pula perbedaan pandangan antara Netanyahu dan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai upaya mengakhiri ketegangan dengan Iran.

Perubahan sikap ini juga diperkuat oleh kritik dari sejumlah tokoh konservatif berpengaruh yang mengusung agenda America First. Tokoh seperti Tucker Carlson, Megyn Kelly, dan mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene secara terbuka mempertanyakan besarnya dukungan Washington kepada Israel. Tucker Carlson, misalnya, menuduh Netanyahu mendorong Presiden Trump untuk terlibat dalam konflik dengan Iran, sementara Wakil Presiden AS JD Vance mengkritik pejabat Israel yang menentang nota kesepahaman yang baru ditandatangani antara Washington dan Teheran. Menurut Vance, jika dirinya menjadi anggota kabinet Israel, ia tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki negaranya.

Sejumlah analis politik menilai bahwa perubahan opini di kalangan Republikan muda mencerminkan meningkatnya kecenderungan isolasionisme dalam Partai Republik, khususnya di kalangan pendukung gerakan America First. Meski demikian, dukungan institusional Partai Republik terhadap Israel masih relatif kuat di Kongres AS. Oleh karena itu, pergeseran opini publik ini belum tentu segera mengubah arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, tetapi berpotensi memengaruhi dinamika politik Partai Republik dalam jangka panjang, terutama menjelang pemilihan umum berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *