Media Berbahasa Ibrani: Kabinet Benjamin Netanyahu Hidup dalam Ilusi

Tawahhum

Al-Quds, Purna Warta – Sejumlah media berbahasa Ibrani menanggapi klaim Netanyahu terkait keberhasilan militer Israel dalam perang yang sedang berlangsung dan menilai bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

Menurut laporan yang dikutip dari Al Mayadeen, surat kabar Yedioth Ahronoth menyatakan bahwa pernyataan Netanyahu tentang jalannya perang memperkuat kesan bahwa kabinet pemerintah hidup dalam dunia ilusi dan mencoba membawa publik ke dalam persepsi yang sama. Laporan tersebut memperingatkan bahwa ketika realitas sebenarnya terungkap, hal itu akan menimbulkan “kejutan-kejutan yang menyakitkan”.

Surat kabar Haaretz juga menegaskan bahwa Netanyahu berupaya membangun narasi kemenangan besar, padahal kondisi di lapangan jauh dari klaim tersebut. Sementara itu, harian Maariv mengutip seorang analis militer yang menyindir bahwa jika hampir semua rudal Hezbollah telah dihancurkan, maka apa yang saat ini masih ditembakkan ke wilayah Israel—apakah hanya petasan?

Dalam laporan itu disebutkan bahwa berdasarkan estimasi militer Israel, Hizbullah telah menggunakan sekitar 6.500 rudal dan drone dalam konflik terbaru dengan Tel Aviv. Selain itu, mantan pejabat Dewan Keamanan Dalam Negeri Israel juga mengakui bahwa desakan untuk terus melanjutkan konflik di Lebanon dalam kondisi saat ini merupakan langkah yang tidak rasional.

Seiring dengan meningkatnya kritik dari dalam negeri Israel terhadap kepemimpinan Benjamin Netanyahu, laporan lain menunjukkan bahwa konflik dengan Hizbullah terus berkembang menjadi perang yang berkepanjangan dan menguras sumber daya militer. Sejumlah analis militer Israel memperingatkan bahwa kemampuan tempur Hizbullah, khususnya dalam penggunaan rudal dan drone, masih jauh dari dapat dinetralisasi sepenuhnya.

Di sisi lain, meningkatnya serangan lintas batas dan aktivasi sistem pertahanan udara di wilayah utara Israel menunjukkan bahwa ancaman keamanan tetap tinggi. Media Israel juga melaporkan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah akibat ketidakpastian hasil perang, serta kekhawatiran publik terhadap eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Selain itu, krisis internal seperti kekurangan personel militer dan meningkatnya ketegangan politik dalam negeri turut memperburuk situasi. Beberapa pengamat menilai bahwa kombinasi tekanan militer eksternal dan ketidakpuasan domestik dapat berdampak pada stabilitas politik Israel dalam jangka menengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *