Cerminan Harian Perang Terhadap Iran di Media Dunia

REaksi berita 2

Tehran, Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran, tidak hanya tujuan yang diumumkan dari operasi ini tidak tercapai, tetapi juga semakin banyak bukti yang menunjukkan kebuntuan strategis bagi pihak penyerang mulai terungkap.

Sejak awal agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, bukan saja tujuan yang dinyatakan tidak tercapai, tetapi juga tanda-tanda meningkat dari kebuntuan strategis serta kegagalan di medan militer dan politik bagi pihak penyerang semakin terlihat. Perang ini, yang dimulai dengan serangan luas dan pembunuhan warga sipil termasuk siswa tak berdosa, dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi berskala besar serta memicu berbagai reaksi di media internasional. Meskipun gencatan senjata dua minggu telah tercapai, jalan menuju berakhirnya agresi ini secara nyata masih panjang dan kompleks.

Media dunia, masing-masing dengan pendekatan berbeda, berusaha membentuk narasi perang ini; analisis terhadap liputan tersebut dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai realitas perang dan prospeknya.

Media Barat

Bloomberg dalam analisis berjudul “Pengepungan Selat Hormuz adalah tantangan yang tidak dapat dimenangkan Amerika” menulis bahwa Donald Trump gagal memahami secara tepat kekuatan leverage Iran di Selat Hormuz. Ancaman Trump untuk memblokade selat tersebut, alih-alih menundukkan Teheran, justru dapat menyeret Washington ke dalam perang yang melelahkan.

Bloomberg menegaskan bahwa blokade energi merupakan tindakan perang, dan fakta bahwa Amerika berada dalam posisi di mana hanya minyak Iran yang bisa melintas merupakan kondisi luar biasa. Iran kini memiliki alat tekanan kuat untuk mengganggu atau bahkan memperoleh keuntungan dari jalur energi utama dunia. Media ini juga menyebut Trump sebagai “pria dalam penyangkalan” dan menekankan bahwa superioritas militer tidak berujung pada keberhasilan strategis. Satu-satunya jalan realistis adalah kembali ke diplomasi dengan gencatan senjata berkelanjutan dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Majalah Foreign Affairs menilai bahwa kegagalan perundingan damai Iran-AS terutama disebabkan oleh isu nuklir. Washington selama dua periode Trump mencoba memaksa Iran menghentikan program nuklirnya melalui tekanan ekonomi dan militer—dan gagal. Perang enam minggu tidak mampu menghapus pengetahuan nuklir Iran. Pengalaman kesepakatan nuklir 2015 menunjukkan bahwa solusi hanya dapat dicapai melalui diplomasi teknis dan insentif timbal balik.

The New York Times melaporkan bahwa pejabat Iran menilai pendekatan AS bukan negosiasi, melainkan upaya memaksakan syarat sepihak. Kedua pihak masuk dan keluar perundingan dengan keyakinan masing-masing memiliki posisi unggul. Iran tidak hanya ingin mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz, tetapi juga mempertimbangkan pengenaan biaya transit untuk pembiayaan rekonstruksi.

Surat kabar Kanada The Globe and Mail menyatakan bahwa perundingan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan final karena tidak ada pihak yang cukup dominan untuk memaksakan perdamaian.

Media Arab dan Regional

Al Jazeera mengulas risiko blokade Selat Hormuz bagi Amerika, termasuk keunggulan strategi Iran, faktor geografis, ancaman ranjau laut, penggunaan drone, serta keraguan sekutu internasional.

Surat kabar Al-Quds Al-Arabi menilai negosiator Trump gagal dan tidak memiliki leverage nyata. Mereka mempertanyakan klaim kemenangan Trump di tengah kegagalan di berbagai front.

Situs Arab21 melaporkan bahwa Iran memperingatkan jika pelabuhan atau Selat Hormuz diblokade, maka pelayaran di Teluk Persia dan Laut Oman juga akan lumpuh. Iran menegaskan bahwa keamanan kawasan “untuk semua atau tidak untuk siapa pun.”

Sejumlah analis Turki menilai bahwa kebuntuan perundingan terutama disebabkan oleh peran Israel dan kepemimpinan Benjamin Netanyahu.

Media China dan Rusia

Xinhua mengkritik tindakan AS yang justru meningkatkan tekanan militer setelah kegagalan diplomasi. Menurutnya, ancaman militer hanya memperdalam krisis dan bukan solusi.

Sputnik melaporkan bahwa krisis ini mengancam keamanan pangan global, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup.

RT menilai perundingan Islamabad sejak awal ditakdirkan gagal. Masalah utama adalah kurangnya kepercayaan. Selain itu, kebutuhan mendesak AS terhadap gencatan senjata menunjukkan tekanan internal yang besar. Iran, dengan kontrol atas Selat Hormuz, kini mampu memengaruhi ekonomi global secara cepat.

Media Israel

Harian Haaretz menilai bahwa baik Netanyahu maupun Trump telah “keluar jalur”. Trump dikritik atas ancaman ekstrem, sementara Netanyahu dituduh melampaui batas dalam kebijakan militernya.

Maariv menulis bahwa Netanyahu berada di bawah tekanan besar dan khawatir publik tidak menerima klaim kemenangan militernya. Ia dituduh mencoba mengalihkan tanggung jawab kegagalan kepada militer dan badan intelijen.

Media Israel lainnya memperkirakan kemungkinan kembalinya perang lebih besar daripada kelanjutan negosiasi. Mereka juga menilai bahwa peran Hizbullah tetap kuat di Lebanon dan tidak mungkin dilucuti.

Situs Ynet melaporkan bahwa Israel menilai langkah blokade laut oleh Trump sebagai bagian dari strategi tekanan untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.

Sementara itu, Israel Hayom menyatakan bahwa hanya ada dua opsi ke depan: memperpanjang gencatan senjata atau kembali ke perang.

Kesimpulan:
Liputan media global menunjukkan bahwa perang ini tidak menghasilkan kemenangan cepat bagi pihak manapun. Sebaliknya, konflik ini memperlihatkan kebuntuan strategis, meningkatnya ketegangan regional, serta kebutuhan mendesak akan solusi diplomatik yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *